host

Hosting Gratis

Sabtu, 30 Juni 2012

Jubah Tembus Pandang Ubah Tank Jadi Sapi


Para ilmuwan di BAE System, Swedia, tengah menggarap pengembangan jubah ajaib. Namun, bukan untuk menghilang seperti jubah Harry Potter, melainkan untuk kebutuhan kamuflase kendaraan-kendaraan militer.
Nantinya, perangkat ini akan dapat melindungi tank dari serangan roket pencari panas yang kerap memburunya. Proyek riset yang diberi nama Adaptiv ini akan diuji coba dalam dua tahun mendatang.
Jubah tembus pandang militer ini terdiri atas kepingan logam berbentuk heksagonal sebesar telapak tangan orang dewasa. Kepingan logam ini dapat dipanaskan atau didinginkan dengan cepat untuk menyamarkan bangunan, kapal, atau helikopter yang terbang rendah. Untuk menyelubungi sebuah tank kecil, diperlukan sekitar 1.000 kepingan logam tersebut.
Perangkat ini dilengkapi dengan pemindai untuk "membaca" lingkungan sekitar. Kemudian, pola-pola hasil pemindaian direproduksi pada panel logam berbentuk heksagonal yang berada di lambung tank (atau obyek lainnya). Selanjutnya, citra inframerah ditampilkan sehingga memungkinkan tank menyatu dengan lingkungan sekitarnya dan membuat musuh melihatnya sebagai sebuah mobil atau bahkan seekor sapi.
Menurut Peter Sjolund, pimpinan riset, teknologi ini bekerja layaknya layar televisi termal. Selain membawa koleksi gambar yang sudah tersimpan, perangkat itu juga bisa mengambil gambar yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya apabila diperlukan. Pengembangan lebih lanjut bahkan bisa makin canggih lagi. (kompas.com)
Bookmark and Share

SMOKE ON THE WATER


Bookmark and Share

Floating cigarette


Bookmark and Share

Suspending Water Without a Cup Trick


Bookmark and Share

Partikel Ini Bergerak Lebih Cepat dari Cahaya


Para fisikawan di Laboratorium Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) di Geneva, Swiss, Jumat (23/9/2011) waktu setempat, mengumumkan keberhasilan mereka menemukan keberadaan partikel yang bisa bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
Partikel yang disebut sebagai neutrino ini memiliki kecepatan 20 per 1 juta di atas kecepatan cahaya. Berdasarkan teori relativitas khusus yang dikemukakan Albert Einstein pada 1905, kecepatan cahaya mencapai 299.792 kilometer per detik atau yang sering dibulatkan menjadi 300.000 kilometer per detik. Ini merupakan kecepatan tertinggi di alam semesta. Neutrino merupakan partikel elementer yang memiliki massa sangat kecil, nyaris mendekati nol.
Eksperimen untuk menguji kecepatan neutrino ini dinamai Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA) yang dilakukan di Gran Sasso National Laboratory, Italia, pada kedalaman 1.400 meter. Tujuan penelitian adalah menguji neutrino yang ditembakkan dari CERN.
Juru Bicara OPERA, Antonio Ereditato, dari Universitas Bern, Swiss, mengatakan, temuan ini sebagai kejutan yang sempurna. Para peneliti mengakui, hasil penelitian ini akan menimbulkan pro-kontra karena melawan hukum fisika yang sudah mapan selama lebih dari 100 tahun.
Untuk itu, pengukuran lain yang independen diperlukan guna menguji temuan ini. Direktur Penelitian CERN Sergio Bertolucci mengatakan, jika hasil pengukuran mereka bisa dikonfirmasi oleh ilmuwan lain, temuan ini akan mengubah pandangan umat manusia tentang fisika. (kompas.com)
Bookmark and Share

Plastik dari kentang


Pernahkah Anda berpikir bahwa kentang bisa dibuat menjadi plastik? Tentu banyak orang berpikiran, mustahil itu terjadi. Namun, bagi enam siswa SMAN 48 Jakarta, hal itu tidak mustahil. Melalui berbagai penelitian dan uji coba laboratorium, akhirnya mereka mampu menciptakan plastik dengan bahan dasar kentang.
Penemuan luar biasa ini telah mengantarkan tim SMAN 48 Jakarta menjadi juara pada Kompetisi Think Quest International 2011 yang diikuti sekitar 33.000 orang dalam 7.603 tim dari 52 negara. Penyerahan hadiahnya akan dilakukan di San Fransisco Bay Area, Amerika Serikat, Oktober 2011.
Penemuan plastik kentang ini berawal dari coba-coba dan sekadar mengaplikasikan teori yang mereka dapat di sekolah.
Bentuk, desain, dan ketebalan plastik yang mereka buat belum terukur secara jelas. Namun, temuan mereka telah membuka cakrawala baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Elastisitas plastik yang mereka buat dengan bahan dasar kentang ini sangat mirip dengan plastik pabrikan.
Selain berhasil membuat plastik dari kentang yang mereka sebut bioplastik, tim yang terdiri dari Villa Yohana (16), Muhammad Labib Nauvaldi (16), Ikhsan Habibi (15), Tuwendy (16), Faisal Arsya (16), dan Ben Hadi Pratama (15)—keenamnya kini duduk di kelas XI jurusan IPA—ini juga membuat kertas berbahan baku pelepah bambu.
Kertas yang dihasilkan dari pelepah bambu itu nyaris sama dengan kertas daur ulang yang sering kita lihat: berwarna coklat dan memiliki serat yang tebal.
Menurut Ben Hadi Pratama, anggota tim, ide awal membuat kertas dari bambu berasal dari Villa dan ide pembuatan plastik dari kentang ditawarkan oleh Labib.
"Awalnya, kami masih tanda tanya, apa benar bisa, soalnya hanya berdasar teori dan literatur. Lalu, kami praktikkan sekaligus melakukan penelitian atas prosesnya. Kalau berhasil kenapa, kalau tidak berhasil kenapa," kata Ben yang diiyakan kelima temannya. Dari situlah mereka menyempatkan diri tiap hari berkutat di laboratorium kimia sekolah mereka dan akhirnya berhasil.
Proses pembuatan plastik dari kentang dan pembuatan kertas dari pelepah bambu ini ternyata tidak terlalu rumit dan bisa dilakukan di rumah. Kepada Warta Kota, tim ini sempat menunjukkan dan mempraktikkan cara pembuatannya di laboratorium kimia sekolah.
Proses pembuatan plastik kentang
Untuk membuat plastik dari kentang, beberapa kentang mentah dicuci bersih, lalu diparut hingga agak halus. Parutan kentang itu dicampur air secukupnya dan diulek agar lebih halus. Setelah itu, parutan kentang disaring untuk membuang airnya sehingga hanya tersisa endapan putih, yakni sari pati kentang.
Sari pati kentang ini lalu dicuci lagi dan kembali disaring. Tunggu hingga mengendap. Endapan berupa tepung pati kentang ini lalu dicampur HCL atau asam cuka atau cuka dapur, gliserin, dan air secukupnya. Lalu, campuran pati kentang, HCL, gliserin, dan air ini dipanaskan di atas api sedang selama 15 menit sambil terus diaduk. "Nanti hasilnya akan seperti gel berwarna putih," kata Ben.
Gel dari sari pati kentang ini lalu ditetesi NaOH (natrium hidroksida) atau soda api, setetes demi setetes, lalu dites dengan ditempelkan ke kertas lakmus warna pink. Jika kertas lakmus itu berubah warna menjadi merah, tetesan soda api harus ditambah. "Sampai kertas lakmusnya berwarna biru atau hijau," kata Ben.
Jika gel yang ditetesi NaOH saat dites di kertas lakmus warna pink berubah menjadi biru atau hijau, gel ini siap menjadi plastik. Gel lalu siap dibentuk atau dituang di cetakan dan dijemur selama beberapa jam atau paling lama sehari sampai mengering. Setelah mengering, gel itu berubah menjadi plastik bening.
Kertas dari bambu
Proses pembuatan kertas dari pelepah bambu juga cukup sederhana. Pelepah bambu atau kulit pembalut batang bambu dicuci dan dipotong kecil-kecil, lalu dicampur dengan NaOH (natrium hidroksida) atau soda api dan direbus di atas api sedang selama dua jam. Sambil direbus, potongan pelepah bambu itu diaduk dengan pengaduk kayu. "Kalau pakai pengaduk berbahan metal, akan timbul sifat korosif, soalnya kan ada NaOH-nya," kata Vilia.
Setelah dua jam direbus, potongan pelepah bambu kembali dibersihkan dan dicuci, lalu dicampur dengan lem kertas secukupnya sambil diblender hingga menjadi bubur kertas. Bubur kertas ini siap dicetak dengan screen dan dibiarkan mengering beberapa jam. "Setelah kering, tinggal diambil dariscreen dan jadilah kertasnya," tutur Vilia.
Kertas buatan Vilia dan kawan-kawan ini nyaris sama dengan kertas hasil daur ulang. Kertas mereka berwarna coklat dan memiliki serat yang tebal. "Kami sedang cari cara untuk membuatnya berwarna putih. Mungkin dicampur dengan pemutih baju atau klorin," katanya. Selain membuat kertas dari pelepah bambu dan bioplastik dari kentang, mereka juga menawarkan pembuatan kertas dari alga merah atau ganggang laut. "Kami tahu dari literatur bahwa kandungan seratnya tepat buat dijadikan kertas," ujarnya. (bum) (kompas.com)
Bookmark and Share

"Lampu Vampir", Butuh Darah Manusia untuk Menyala!


Dengan menciptakan lampu yang hanya bisa dipakai sekali, pengguna harus berpikir ulang kapan lampu paling dibutuhkan.
Desainer produk asal Amerika Serikat, Mike Thompson, menciptakan Lampu Vampir. Layaknya vampir atau drakula, lampu ini butuh darah manusia untuk hidup atau menyala.
Saat menyala, lampu tersebut akan menghasilkan warna biru. Lampu menyala saat zat kimia di dalam sebuah tablet dalam lampu itu melepaskan energi. Pelepasan energi bisa terjadi jika lampu mendapat suplai darah.
Thompson, seperti diberitakan Daily Mail, Senin (28/5/2012), menuturkan, tujuan pembuatan lampu bukan untuk mencari sensasi, melainkan menyadarkan pentingnya menghemat energi. Tujuan pembuatan lampu ini, ungkap Thompson, untuk membuat orang bertanya bagaimana jika individu harus membayar dengan dirinya demi mendapatkan daya.
Ia mengaku ingin mengomunikasikan bahwa konsumsi energi terlalu besar akan membahayakan individu, sama halnya ketika manusia kehilangan banyak darah.
"Dengan menciptakan lampu yang hanya bisa dipakai sekali, pengguna harus berpikir ulang kapan lampu paling dibutuhkan, memaksa mereka berpikir seberapa boros mereka dalam menggunakan energi dan betapa berharga energi itu," ujar Thompson dalam situsnya. (kompas.com)
Bookmark and Share

COFFEE ART


Bookmark and Share

amazing trick


Bookmark and Share

Thorium Digadang-gadang Jadi Energi Alternatif

Persatuan Insinyur Indonesia masih mengkaji potensi thorium atau nuklir jinak di sejumlah daerah sebagai energi alternatif untuk masa depan.

"Ketersediaan thorium sebagai sumber energi lebih lama dibandingkan dengan energi yang lain. Selain itu, pemanfaatannya bisa mencapai ratusan juta tahun," kata Wakil Ketua Badan Kejuruan Mesin Persatuan Insinyur Indonesia, Bambang Purwohadi, di Jakarta, Kamis (21/6/2012).

Bambang menuturkan, bila rencana tersebut telah terealisasi, diharapkan bisa mendukung kebutuhan energi dalam negeri yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Energi masih menjadi permasalahan utama nasional saat ini, sehingga potensi energi alternatif sangat diperlukan," ujarnya.

Thorium bisa menjadi energi alternatif karena ramah lingkungan sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir dengan penggunaan energi ini.

"Tenaga nuklir memang dikhawatirkan warga karena tingginya radiasi yang ditimbulkan. Meski thorium merupakan nuklir, tapi ramah lingkungan," papar Bambang.
 
Sejauh ini, lokasi potensi energi alternatif di dalam negeri masih dirahasiakan karena masih dalam tahap penelitian. 

Sementara itu,  Sekretaris Jenderal Badan Kejuruan Mesin Persatuan Insinyur Indonesia (BKM PII), Handoko mengatakan, thorium sebagai energi baru bisa diaplikasikan untuk sektor otomotif.

"Diharapkan thorium bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) yang ketersediaannya dinilai semakin menyusut," katanya. (kompas.com)
Bookmark and Share

Jumat, 29 Juni 2012

Nyamuk Aneh Diet Darah Sebelum Bertelur

Ilmuwan menemukan bahwa nyamuk Culex molestus punya perilaku aneh.

Jika sebagian besar nyamuk mengisap darah secara terus menerus pada saat lapar, tak demikian halnya dengan nyamuk ini. Culex molestus akan berdiet alias tak menghisap darah sebelum berhasil meletakkan telur.

Fakta ini ditemukan lewat penelitian panjang selama 2 tahun. Jenis nyamuk Culex molestus memiliki habitat di pipa pembuangan dan septic tanks.

Cameron Webb dari University of Sydney Medical mengatakan, "Terobosan dalam studi ini adalah bahwa jika nyamuk ditawari darah, nyamuk itu takkan mengisapnya sebelum telurnya berhasil diletakkan. Kami percaya, nyamuk ini adalah satu-satunya spesies di Australia yang memiliki perilaku ini."

"Begitu telur pertama diletakkan, maka nyamuk langsung akan berburu darah," tambah Webb seperti dikutip Zee News, Kamis (21/6/2012).

Menurut Webb, sebelum meletakkan telur, nyamuk mendapatkan energi dari nutrisi yang dikumpulkan sebelum fase dewasa. Perilaku ini dikenal dengan autogeni.

Hasil penelitian Webb dipublikasikan di Journal of Vector Ecology.

Webb mengungkapkan, salah satu yang bisa diambil dari penelitian ini ialah manusia harus berpikir lagi saat akan mendesain tempat penyimpanan air, limbah dan sebagainya. Desain harus dipertimbangkan sehingga tidak menciptakan peluang baru bagi nyamuk untuk berkembang. (kompas.com)
Bookmark and Share

Kembangkan Tes HIV Murah


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember, Jawa Timur, merintis metode tes yang lebih mudah untuk mengetahui penderita yang positif tertular HIV/AIDS.
"Ide awalnya dari diskusi mengenai data dan fakta bahwa tanda-tanda seseorang menderita HIV/AIDS bisa diketahui melalui kondisi rongga mulutnya karena biasanya penderita HIV/AIDS memiliki gusi membengkak dan merah karena infeksi," kata salah seorang mahasiswa FKG Ahmad Syaifuddin di Jember, Jumat (29/6/2012).
Tiga mahasiswa FKG Unej, yakni Ahmad Syaifuddin, Alex Willyandre dan Khoirul Anam membuat kajian literatur yang berjudul "Inovasi Microfluidics Chip Berbasis Nucleic Acid Testing sebagai Detektor Antibodi HIV-1 pada Gingival Crevicular Fluid" untuk mengetahui apakah seseorang itu terinfeksi HIV/AIDS.
Kajian literatur itu berhasil menjadi juara pertama dalam ajang "literatur review" dalam rangka "Dentistry Scientific Meeting (DSM) VI 2012" yang digelar oleh FKG Universitas Indonesia di Jakarta.
Menurut Ahmad, deteksi penderita HIV/AIDS kebanyakan memakai tes darah dengan metode ELISA atau Western Blot dan kedua metode itu harus dilakukan di klinik atau rumah sakit tertentu dengan pengawasan tenaga kesehatan yang sudah terlatih dan tes darah biasanya baru diketahui setelah 24 jam.
"Kami bertiga mencoba mencari ide bagaimana mencari alat yang mampu mendeteksi dengan pasti gejala HIV/AIDS tersebut dari kondisi rongga mulut karena metode itu bisa dilakukan dengan cepat, lebih mudah, dan murah," tuturnya.
Setelah melakukan studi literatur kurang lebih selama seminggu, tiga mahasiswa FKG Unej itu memastikan bahwa alat Microfluidics Chip temuan Prof Samuel Sue dari Columbia University, Amerika Serikat, dapat digunakan untuk melakukan tes HIV/AIDS.
"Sebelumnya Microfluidics Chip lebih sering digunakan untuk tes penyakit kelamin dan penyakit lainnya, namun belum digunakan untuk mendeteksi pasien yang tertular HIV/AIDS," paparnya. (kompas.com)
Bookmark and Share

Mahasiswa Ciptakan Keran Hemat Air Wudu

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surya Mahendra, bersama dua rekannya merancang keran hemat air, terutama untuk keran air wudu.
"Kalau dipakai keran air wudu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudu, tapi dengan keran itu hanya 2,5 liter," katanya di Surabaya, Rabu (2/5/2012).
Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut solenoid valve.
"Keran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya," kata mahasiswa semester VI itu.
Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari.
"Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan keran wudu di masjid yang tidak dimatikan," katanya.

Dipuji Dahlan Iskan
Suwito mengatakan, keran hemat air itu sempat dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung ke ITS pada 1 April 2012.
"Pak Dahlan Iskan memuji karena ajaran agama bahwa boros itu temannya setan sering kali sulit dipraktikkan, tapi ajaran agama untuk tidak boros itu akan terlaksana dengan keran hemat air. Jadi, teman-teman ITS bisa berdakwah lebih efektif," katanya.
Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan lokakarya bertema "Selamatkan Air Sekarang" beberapa waktu lalu.
"Insya Allah, kami akan mencoba untuk merealisasikan alat itu pada Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menyemarakkan Hardiknas," katanya.
Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya, yakni Maulana Djatikusuma. "Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu," katanya.
Dengan alat itu, kata mahasiswa semester VI tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan traffic light untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu.
"Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang," katanya.
Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer. "Jadi, alat itu mirip early warning system yang mendeteksi cekungan kedalaman air," katanya.(kompas.com)
Bookmark and Share

Elektrik Motor Terkecil di Dunia

Ilmuwan berhasil menciptakan elektrik motor terkecil di dunia. Elektrik motor ini dibuat dari satu molekul berukuran sepersejuta meter. Hasil kerja ilmuwan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Nanotechnology, Senin (4/9/2011). Elektrik motor terkecil ini nantinya bisa berperan dalam dunia medis maupun nantoteknologi.
Elektrik motor dari satu molekul pernah dibuat sebelumnya, namun elektrik motor kali ini ialah pertama yang bisa digerakkan listrik. "Orang telah membuat motor yang bisa digerakkan cahaya dan reaksi kimia. Tapi, di sana, anda menggerakkan jutaan pada saat yang sama," kata Charles Sykes, pakar kimia dari Tufts University di Massachusets.
"Yang mengejutkan dari elektrik motor adalah, kita bisa melihat pergerakan dari satu motor molekul, melihat bagaima perilaku dari motor kecil tersebut," tambah Sykes seperti dikutip BBC, Selasa (5/9/2011).
Sykes bisa mengontrol motor nano dengan listrik lewat bantuan low temperature scanning tunneling microscope (LT-STM). Alat tersebut menggunakan elektron untuk melihat molekul. Sykes menggunakan tip pada mikroskop untuk mensuplai listrik pada molekul butil metil sulfida yang telah diletakkan di permukaan tembaga yang konduktif. Akibat suplai listrik, motor nano pun berputar.
LT-STM juga bisa dipakai untuk melihat motor berputar. Motor diketahui bisa berputar dua arah serta bergerak dengan kecepatan 120 revolusi per detik. Kemampuan gerak motor ini bisa dimodifikasi. Lewat proses modifikasi misalnya, ilmuwan bisa menciptakan radiasi gelombang mikro arau menciptakan sistem nano-elektromekanik.
Elektrik motor juga bisa berguna dalam dunia medis, untuk memastikan penghantaran obat tepat sasaran. Untuk menuju ke sana masih butuh beberapa langkah.Saat ini peneliti baru akan mendaftarkannya dulu ke Guiness Book of Record sebagai elektrik motor terkecil di dunia.(kompas.com)
Bookmark and Share

Temulawak Berkarbonasi

Temulawak berkarbonasi pernah sangat populer tahun 1980-an. Dulu, minuman itu menjadi simbol status dan selalu dihidangkan di pesta-pesta perayaan. Kini, di tengah membanjirnya minuman bersoda, temulawak tetap eksis dengan pasarnya sendiri. 
Rony Hendra Setiadi (36), pengusaha muda dari Banyuwangi, yang memilih tetap mempertahankan minuman temulawak berkarbonasi (beruap) asal Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan keterbatasan teknologi dan kian ketatnya persaingan, Rony memilih meninggalkan kehidupannya di Australia untuk menghidupkan lagi minuman tradisional itu.
Rony kini mengoperasikan pabrik temulawak berkarbonasi warisan keluarganya. Ia adalah generasi ketiga dari pendiri pabrik temulawak beruap PL Hawai. Rony mewarisi usahanya dari sang ayah, Boedijanto, yang meninggal tahun 2003. Kakeknya adalah Liem Jun Koen, pendiri pabrik itu.
Dulu, saat berdiri tahun 1960, pabrik itu mungkin menjadi pabrik minuman berkarbonasi paling modern karena sudah memakai mesin pencampur CO2 (karbon dioksida).
Usaha kakeknya berkembang pesat saat digantikan sang ayah sekitar tahun 1970-an. Kala itu, perusahaan soda bermerek internasional belum banyak masuk. Pasar temulawak beruap juga sudah mapan. ”Karyawan ayah saat itu bisa 30 orang,” kata Rony pada pertengahan April lalu.
Saat itulah, pasar temulawak beruap merambah Bali. Boedijanto sendiri turut turun tangan memasarkan minuman tradisional bersoda itu ke kota-kota lain, seperti Situbondo, Bondowoso, dan Bali. Rony masih ingat, tahun 1980-an ayahnya sering kali pergi berhari-hari ke sejumlah kota untuk berbisnis. Kadang ia pergi menggunakan truk pengangkut minuman milik perusahaan.
Selain temulawak, saat itu juga diproduksi minuman soda rasa jeruk atau orson. Sayangnya, orson tak langgeng. Saat Rony menggantikan sang ayah tahun 2003, orson tak diproduksi lagi. ”Terlalu banyak minuman pesaing dengan rasa yang sama,” kata Rony.
Minuman beruap temulawak bertahan di segala zaman. Kemasan, apalagi rasa, tetap abadi. Begitulah kira-kira semboyan keluarga Liem Jun Koen hingga kini. Meski sudah tiga kali berganti generasi, keluarga Liem Jun Koen tetap mempertahankan bentuk, kemasan, hingga rasa temulawak. Konsistensi itu mungkin menjadikan minuman temulawak tetap langgeng.
Pertahankan kemasan
Minuman temulawak ini masih dikemas dalam botol pendek warna hijau isi 320 mililiter. Labelnya dari kertas yang bergambar rumpun temulawak enam jari . Kotak minuman (kerat) terbuat dari kayu. Hal yang berbeda hanya tutupnya. Jika dulu dari keramik dan kawat sebagai pembukanya, kini dengan aluminium, seperti minuman soda lainnya.
Botol pendek tetap dipertahankan, selain bentuk botol berleher panjang. Menurut Rony, bentuk botol yang klasik memengaruhi pemasaran. Di Bali, warga yang sudah telanjur lekat dengan minuman temulawak bersoda ini lebih memilih minuman temulawak dari botol pendek. Botol model lama.
Pabriknya pun tak berubah. Berupa bangunan tua yang luasnya 200 meter persegi. Lima mesin pengisi gas masih beroperasi manual. Sari temulawak diramu dari campuran esensi temulawak dan gula. Proses pengisian, penutupan, dan pemasangan label dilakukan manual oleh tenaga manusia.
Rony dan ayahnya memang tidak berniat mengubah pabriknya dengan mesin otomatis. Selain sangat mahal (harga mesin karbonasi termurah Rp 800 juta), mereka juga tetap mempertahankan tenaga kerja yang ada. Saat ini ada belasan warga yang bergantung hidupnya pada industri minuman itu.
Masih banyaknya tenaga kerja yang hidup di pabrik minuman itulah yang membuat Rony tetap mempertahankan pabriknya. Pertimbangan itu pula yang membuat ia memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai banker di bank asing ternama untuk kembali ke Banyuwangi menggantikan sang ayah.
Keputusan Rony untuk meninggalkan Australia bukan keputusan yang mudah. Ia sudah tujuh tahun belajar dan bekerja di Australia. Ia pun sudah berpenghasilan 28.000 dollar Australia per tahun. ”Saya tidak berniat pulang. Namun, setelah Papa meninggal dan mewariskan perusahaan temulawak yang masih jalan, saya jadi ingin pulang. Meski kecil, perusahaan itu sayang untuk ditutup karena bisa menghidupi karyawannya,” kata Rony.
Sebagai anak lelaki satu-satunya dari dua bersaudara, Rony tergerak untuk meneruskan usaha ayahnya. Akhirnya, kembalilah ia ke Banyuwangi untuk meneruskan usaha ayahnya.
Rony mengakui, dulu waktu awal kepindahan, ia merasa stres karena Banyuwangi jauh berbeda dengan Gold Coast, Australia, tetapi akhirnya ia terbiasa. Pabrik kuno yang masih menghadirkan temulawak beruap itu pun sudah menjadi rumah keduanya.
Kini, pabrik PL Hawai masih memproduksi 1.000-1.500 kerat setiap pekan. Produksinya bisa meningkat 30 persen lebih banyak saat Lebaran.
Rony kini berencana menjajal pasar temulawak di kota-kota besar. Ia optimistis karena di Bali minuman itu bisa diterima warga lokal dan wisatawan asing. Minuman ini mungkin akan diterima juga di Jakarta ataupun kota besar lainnya
”Temulawak beruap bisa tampil di kafe atau bar-bar dengan cara dicampur minuman lain. Atau dicampur air perasan jeruk nipis dan madu,” katanya.
Pasar minuman karbonasi kian ramai. Namun, temulawak tetap bertahan dengan kekhasan dan rasa klasiknya. Tinggal pemasaran dan keuletan.
Bookmark and Share

Temulawak Bisa Melawan Penuaan

Industri jamu di Indonesia saat ini tengah mengembangkan penelitian untuk memanfaatkan potensi herbal dalam mengatasi masalah degeneratif atau penyakit penuaan.
Menurut keterangan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional, Charles Saerang, salah satu penelitian yang sedang dikembangkan pabrik jamu adalah memanfaatkan kombinasi antara temulawak dan sambiloto sebagai anti-penuaan.
Kombinasi antara dua jenis tanaman ini, kata Charles, dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan terutama sebagai antioksidan.  "Kombinasi antara sambiloto dengan temulawak bisa menghambat penuaan sehingga orang terlihat awet muda. Hal tersebut telah kita pelajari dari beberapa ratus orang yang mengonsumsi, nyatanya terasa lebih segar. Dan dapat memotivasi kerja makin meningkat," ujar Charles saat ditemui di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu (11/6/2011).
Charles menambahkan, penggunaan sambiloto dalam formula antioksidan tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Pasalnya, tanaman ini memiliki rasa pahit yang luar biasa, dan diduga dapat menyebabkan kerusakan pada liver.
Hal itulah yang membuat sambiloto harus dikombinasikan dengan temulawak. Meskipun pada beberapa penelitian di Thailand, kata Charles, sambiloto dipercaya mempunyai manfaat menyembuhkan penyakit kanker perut karena rasa pahitnya tersebut.
Temulawak paling banyak digunakan
Charles memaparkan, temulawak saat ini adalah salah satu jenis tanaman yang digunakan sebagai dasar pembuatan jamu, dan paling banyak digunakan oleh pabrik-pabrik jamu di Indonesia.
"Jadi, ramuan apa pun juga di herbal kalau enggak pakai temulawak tidak akan efektif. Temulawak ini sebagai suatu tanaman yang juga mengakomodasi seluruh tanaman lain," ujarnya.
Sejak zaman dulu, lanjut Charles, temulawak memang telah dipercaya sebagai obat herbal yang mempunyai banyak manfaat, di antaranya membuat tidur jadi nyenyak, meningkatkan nafsu makan , dan memperlancar buang air besar. (kompas.com)
Bookmark and Share

Kurangi Nyeri Haid dengan Minuman Ramuan Buatan Sendiri

Nyeri datang bulan memang hal yang menyebalkan. Suka datang tiba-tiba, di saat tak terduga dan tak jarang malah menyulitkan kegiatan. Berikut adalah tips yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi sakit nyeri datang bulan tersebut. Namun, sebelumnya, Anda harus memastikan jadwal dan kecenderungan datang bulan Anda.

Berikut tips dari Rina Poerwadi, APDHA, CIMI, PMC (IMIS), Holistic Aromatherapy Practitioner & Educator, Infant Massage Instructor & Paediatric Massage Consultant untuk mengatasi sakit nyeri datang bulan.
Coba lakukan, sejak 1 minggu sebelum datang bulan, rebus campuran jahe, madu, dan jeruk lemon dengan perbandingan secukupnya. Jahe bisa membantu mengencerkan kekentalan darah, lemon membantu meringankan oedema, dan madu membantu memberikan perasa, sekaligus menambah kekebalan tubuh. Minum satu gelas sehari secara teratur. Campuran ini juga baik diminum saat terkena flu.(kompas.com)
Bookmark and Share

Temulawak untuk Atasi Masalah Haid

Jamu dan tanaman obat-obatan lain bisa digunakan sebagai bagian dari metode preventif dari kondisi tubuh yang kurang nyaman. Menurut Prof HM Hembing Wijayakusuma dalam bukunya, Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit, pengobatan dengan herbal perlu dilakukan secara teratur dan sabar karena tak langsung terasa khasiatnya, tetapi konstruktif. Karena sifatnya itu, herbal tidak dianjurkan sebagai pengobatan utama.
Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan wanita adalah masalah haid, seperti nyeri haid dan haid tidak lancar. Untuk mengatasinya, coba lakukan terapi dengan jamu atau tanaman herbal temulawak berikut:
Nyeri haid
Nyeri haid adalah keluhan tersering yang dilontarkan wanita. Untuk mengobati dengan cara alami, coba buat resep Jamu Dilep I (nomor 4) Nyonya Meneer berikut:
Bahan
10 gram temulawak dikeripik
10 gram kunyit
10 gram daun mandarin

Cara pembuatan
1. Campur seluruh bahan dalam panci berisi 1 liter air, rebus hingga air menjadi setengah liter.
2. Minum tiga kali sehari masing-masing 2 cangkir.
Haid tidak teratur
Darah haid yang sedikit atau tidak lancar dapat disebabkan oleh kurangnya hormon estrogren dan progesteron atau kurang darah (anemia).
Resep dari Prof HM Hembing Wijayakusuma dalam bukunya, Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit:
Bahan
30 gram temulawak
90 gram daun lidah buaya
Gula aren secukupnya
Asam jawa secukupnya
Cara pembuatan
a. Cuci bersih semua bahan, potong-potong.
b. Rebus dengan 500 cc air, hingga tersisa 200 cc, lalu saring. Minum airnya secara teratur. (kompas.com)
Bookmark and Share

Temulawak Berpotensi sebagai Obat Aterosklerosis

Temulawak dikenal memiliki beragam khasiat. Studi terbaru yang dilakukan oleh Yanti, PhD dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Jakarta menunjukkan bahwa temulawak secara molekuler terbukti mampu membantu mengobati aterosklerosis.
Dalam kasus aterosklerosis, terjadi pembengkakan akibat aktvitas enzom Matrix Metalloproteinase (MMPs). Dua enzim yaitu MMP-2 dan MMP-9 yang diproduksi oleh gen dengan nama sama mengakibatkan migrasi sel otot polos sehingga memacu pembengkakan.
Yanti menyelidiki cara Xanthorrizol, bahan aktif dalam temulawak, mampu menghambat aktivitas MMP-9 dalam level gen maupun enzim.
Riset dilakukan secara in vitro menggunakan sel-sel otot polos yang diperoleh dari tikus. Xanthorrizol sendiri diperoleh dengan isolasi dari temulawak. Dalam setiap 100 gram temulawak, terdapat 0,2 gram Xanthorrizol.
"Hasilnya ternyata Xanthorrizol mampu menghambat MMP-9 lewat MAPkinase signaling (Mitogen-activated Protein), menunjukkan bahwa Xanthorrizol bisa diaplikasikan untuk proteksi kardiovaskuler," ungkap Yanti saat ditemui Kompas.com, Jumat (22/6/2012).
"Xanthorrizol ternyata juga berpengaruh dalam level enzim maupun gen. Tapi, pada level gen, pengaruhnya tidak dominan," tambah Yanti.
Menurutnya, pengaruh dalam level gen yang tidak dominan justru menguntungkan. Jika pengaruhnya dominan, maka Xanthorrizol justru berpotensi menimbulkan resiko dalam pemakaiannya.
"Ke depan Xanthorrizon bisa dipakai sebaga obat aterosklerosis," ungkap Yanti.
Obat aterosklerosis saat ini memiliki kelemahan, diantaranya akan merusak ginjal jika dipakai secara terus-menerus. Dengan adanya Xanthorrizol, bisa didapatkan senyawa yang diisolasi dari tumbuhan.
Riset Yanti dilakukan dengan grant dari Biro Oktroi Roosseno dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Yanti mempresentasikan hasl penelitannya dalam lokakarya peringatan HUT ke 61 Biro Oktroi Roosseno hari ini.
Saat ini, riset Yanti telah dimasukkan ke jurnal American Journal of Biochemistry and Biotechnology. Yanti akan meneliti lebih lanjut potensi Xanthorrizol secara in vivo menggunakan tikus.(kompas.com)
Bookmark and Share

Material Baru Penyerap Karbon Dioksida

Ilmuwan asal Inggris menciptakan material baru yang mampu menyerap karbon dioksida (CO2). Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Materials pada 3 Juni 2012 lalu.

Material baru ini dinamai NOTT-202. Diharapkan, material baru ini bisa menyelesaikan masalah konsentrasi CO2 yang tinggi di atmosfer hingga menyerap CO2 yang dihasilkan pabrik.

NOTT-202 bisa digolongkan sebagai metal organic framework. Jenis material tersebut terdiri dari atom unsur logam di bagian inti dan rantai karbon panjang di luarnya.

Ilmuwan selama ini mempercayai bahwa metal organic framework memang bisa menyerap gas. Dalam material ini, terdapat pori-pori yang bisa menjebak gas di dalamnya.

Masalah yang ada selama ini, metal organic framework yang selektif menyerap CO2 memiliki kapabilitas rendah. Dalam riset terbaru ini, ilmuwan Inggris menyelesaikan masalah itu.

Tim ilmuwan yang melakukan penelitian dipimpin oleh Sihai Yang dari School of Chemistry, University of Nottingham, Inggris.

NOTT-202 dibuat berdasarkan dua framework yang digabungkan secara tidak sempurna sehingga menyisakan celah berskala nano. Celah itulah memiliki kemampuan bagus menyerap CO2.

Seperti dikutip BBC, Selasa (12/6/2012), ilmuwan mengatakan bahwa jenis material yang dibuat dengan dua gabungan framework ini adalah jenis baru.

Ke depan, kata ilmuwan, bisa dikembangkan penggabungan lain yang sesuai untuk menyerap gas-gas tertentu lainnya.(kompas.com)
Bookmark and Share

Rumput Laut Indonesia Ampuh Membunuh Tumor

Spesies ganggang coklat yang hidup di Indonesia memiliki potensi untuk mengobati kanker.

Demikian hasil bioprospeksi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRP2B) Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) baru-baru ini.

Jenis ganggang coklat yang berpotensi mengobat kanker tersebut adalah Turbinaria decurrens. Lewat pengujian, peneliti dari kedua lembaga tersebut mengetahui bahwa Turbinaria decurrens mampu membunuh sel tumor mulut rahim.

Laporan bahwa golongan ganggang atau rumput laut bisa mengobati ini sel kanker bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ganggang merah jenis Rhodymenia palmata dan ganggang hijau jenis Ulva fasciata juga dilaporkan bisa membunuh sel tumor payudara.

"Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor," kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini.

Adanya fakta ini menunjukkan bahwa ganggang kaya manfaat. Pemanfaatannya kini harus diperluas, tak sebatas sebagai sumber karigin saja. Indonesia bisa mengelola ganggang sebagai sumber daya alam hayati bahan baku obat-obatan.

"Kalau kita berhasil menciptakan industri obat-obatan berbasis rumput laut, hasilnya bisa 5-6 kali lebih besar daripada nilai hasil budidaya ikan di Indonesia setahun," Kepala Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rizald M. Rompas.(kompas.com)
Bookmark and Share

Livermorium dan Flerovium Masuk Tabel Periodik Unsur


Setelah hampir setahun bergabung dalam sistem periodik tabel sebagai angka saja, dua unsur buatan manusia resmi dinamai.

Unsur pertama, yang sebelumnya disebut unsur 114, kini memiliki nama Flerovium. Nama diambil dari nama Flerov Laboratory of Nuclear Reactions di Dubna, Rusia, tempat dimana unsur ini dibuat.

Sementara, unsur kedua adalah Livermorium, sebelumnya adalah unsur 116. Nama diambil dari Lawrence Livermore National Laboratory di California, asal tim ilmuwan yang menciptakan.

Simbol unsur Flevorium adalah Fl sementara Livermorium adalah Lv. Unsur ini takkan bisa dijumpai di sekitar sebab hanya bisa dibuat dan hanya bisa bertahan selama beberapa detik.

Dua nama unsur kimia tersebut dibuat tahun lalu oleh ilmuwan dengan menabrakkan atom. Nama telah disetujui oleh International Union of Pure and Applied Chemistry pada Rabu (29/5/2012) (kompas.com)
Bookmark and Share

Taikonot Perempuan Pertama China Berhasil Mendarat

Taikonot perempuan pertama China beserta dua taikonot lain berhasil mendarat ke Bumi dari misi Shenzou 9 selama 13 hari di luar angkasa pada Jumat (29/6/2012). Taikonot adalah istilah untuk astronot dari China seperti kosmonot dari Rusia.
Para taikonot itu berhasil melakukan misi docking manual dengan Tiangong-1, modul stasiun antariksa China yang menjadi bagian dari target membangun stasiun antariksa di tahun 2020.
Pendaratan dilakukan di wilayah provinsi Siziwang, Mongolia, Jumat pukul 02.05 GMT atau sekitar pukul 09.00 WIB pagi tadi.
Setelah pendaratan, taikonot yang berjumlah tiga orang keluar dari kapsul. Mereka adalah Jing Jaipeng (45), Liu Wang (43), dan Liu yang (33), sang astronot perempuan pertama.
Ketiga taikonot tampak sehat. Mereka tersenyum, melambaikan tangan, menyapa dan memberi selamat seperti disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi setempat.
Kepada penyiar televisi, Liu yang mengatakan, "Tiangong 1, rumah kami di antariksa, sangat nyaman dan menyenangkan. Kami bangga pada negara kami."
"Sangat menyenangkan bisa berdiri di Bumi lagi, dan bahkan terasa lebih baik ada di rumah," tambah Liu Yang.
Misi kali ini mencakup docking manual dan otomatis serta pemantauan kesehatan taikonot secara ekstensif sebagai persiapan dari misi luar angkasa selanjutnya.

Setelah misi ini, China sudah menyiapkan misi pengiriman manusia ke antariksa lewat misi selanjutnya. Namun, hal itu masih menunggu evaluasi misi Shenzou 9 dan kondisi Tiangong-1.

Chen Shanguang, direktur Chinese Astronout Research and Training Center mengungkapkan bahwa persiapan dan pemilihan astronot untuk misi Shenzou 10 sudah dilakukan.

Tiangong-1 sendiri akan pensiun dalam beberapa tahun dan akan digantikan oleh stasiun luar angkasa permanen pada tahun 2020, berbobot 60 ton, atau seper enam dari ukuran Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang merupakan misi 16 negara saat ini.(kompas.com)
Bookmark and Share

Titan Lebih Layak Huni Dibanding Mars

Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling layak dihuni setelah Bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip Bumi sehingga bisa dikatakan lebih layak huni.

Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, bulan Planet Saturnus, adalah benda langit paling layak huni, mengalahkan planet merah, Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, seperti diuraikan BBC, Rabu (23/11/2011), Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49) dan Gliese 581d (0,43).

Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti memiliki air dan energi.

Penelitian planet layak huni belakangan ini maju pesat, salah satunya dengan sumbangan teleskop antariksa Kepler yang berhasil menemukan lebih dari 1.000 kandidat planet layak huni. Teleskop di masa depan diperkirakan bisa mendeteksi biomarker, seperti cahaya atau pigmen klorofil yang ada pada tumbuhan.

Selain menyusun pemeringkatan planet layak huni, Schulze-Makuch juga menyusun Indeks Kemiripan Bumi untuk mengetahui planet dan bulan yang kondisinya paling mirip dengan Bumi. Hasilnya juga menyatakan bahwa Mars bukanlah yang pertama.

Gliese 581g adalah planet yang paling mirip Bumi, dengan skor 0,89 sementara Gliese 581d punya skor 0,74. Mars sendiri punya skor 0,7 dan Merkurius 0,6. Indeks Kemiripan Bumi dikembangkan dengan melihat ukuran planet, densitas, dan jarak dari bintang induk.

Gliese 581g dan Gliuese 581d adalah planet yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581. Meski layak huni dan mirip Bumi, mencapai kedua planet itu terbilang sulit karena jaraknya yang sangat jauh. Gliese 581g berjarak 198 miliar kilometer.(kompas.com)
Bookmark and Share

Titan Terbukti Punya Lautan

Keberadaan lautan di bawah permukaan Titan, bulan raksasa Planet Saturnus, telah lama diduga. Dalam penelitian terbaru, NASA mengonfirmasi bahwa lautan di bawah permukaan Titan memang benar-benar ada.

NASA melakukan studi dengan bantuan wahana antariksa Cassini yang mengorbit Saturnus sejak tahun 2004. Mereka memanfaatkan saat di mana Cassini melayang di jarak terdekat dengan Titan pada tahun 2006 dan 2011.

Riset fokus pada pengukuran gravitasi dan pengamatan fenomena pasang surut. Ilmuwan mengamati percepatan Cassini untuk mengukur gaya gravitasi. Pengukuran gravitasi akan membantu ilmuwan memecahkan misteri interior Titan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Titan mudah menyusut dan meregang. Kecepatan deformasi tersebut menunjukkan bahwa interior Titan terdiri dari material yang fleksibel, berupa lautan.

"Lautan di bawah permukaan Titan sudah diperkirakan, tapi sebelumnya masih berupa spekulasi. Pengukuran ini menunjukkan pada Anda bahwa lautan itu memang ada," kata Luciano Less, pemimpin studi dan pakar geodesi dari Università La Sapienza di Roma.

Lautan diperkirakan ada di 100 kilometer atau kurang dari permukaan Titan. Meski demikian, kedalaman dan komposisi lautan ini belum diketahui. Juga, belum diketahui apakah ada kehidupan di lautan itu.

"Kami belum bisa mengatakan kedalaman laut itu 10 kilometer atau 100 kilometer. Kami hanya tahu bahwa ada lautan di sana," ungkap Iess seperti dikutip Space, Kamis (28/6/2012).

"Pengukuran kami tidak dapat mengatakan apa pun tentang adanya kehidupan di Titan, tetapi ada banyak molekul organik di sana, dan ada air, jadi ada banyak komponen yang mendukung kehidupan," tambahnya.

Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis kemarin. Diketahui bahwa bukan hanya Titan yang memiliki lautan di bawah permukaan. Lautan juga diduga ada di satelit Jupiter, Ganymede, Callisto, dan Europa.(kompas.com)
Bookmark and Share

Bola Misterius di Cincin Saturnus

Wahana antariksa Cassini berhasil menangkap citra bola misterius di cincin planet Saturnus. Bola misterius berukuran hampir 1 km itu seolah bergerak masuk dalam cincin Saturnus, meninggalkan ekor yang bercahaya di belakangnya.

Citra hasil tangkapan Cassini ini dipresentasikan dalam pertemuan European Geosciences Union (GEU) di Vienna, Austria. Carl Murray yang merupakan anggota tim Cassini dari Queen Mary University of London di Inggris adalah peneliti yang mempresentasikan hal ini.

Bola misterius atau yang sebenarnya bola es ditangkap di cincin F planet Saturnus. Cincin F merupakan bagian terluar dari cincin Saturnus. Lokasi cincin ini 3000 km dari cincin A. Sementara, keliling cincin F sekitar 900.000 km.

Ilmuwan mengatakan bahwa terbentuknya bola salju tak lepas dari peranan Prometheus, bulan Saturnus selebar 40 km. Gravitasi Prometheus berakibat pada pembentukan gumpalan es. Diasumsikan juga bahwa pasang surut pengaruh gravitasi menyebabkan gumpalan es bisa pecah.

"Kami mengetahui bahwa Prometheus, selain mampu memproduksi pola reguler, juga mampu memproduksi konsentrasi material di cincin Saturnus. Kami hanya menyebutnya bola salju raksasa," ungkap Murray seperti dikutip BBC pada Selasa (24/4/2012).

"Dan jika ini bisa survive, karena Prometheus akan kembali ke titik yang sama di cincin F dan berinteraksi lagi, bola salju bisa tumbuh, dan bisa saja membentuk moonlet yang menabrak bagian inti dari cincin F," terang Murray.

Temuan bola raksasa ini adalah keberuntungan. Murray sedang mengamati Prometheus ketika akhirnya melihat ekor bercahaya yang tak mungkin berasal dari Prometheus itu sendiri. membingkar kembali arsip 20.000 citra, peneliti menemukan 500 citra serupa.

Murray mengungkapkan, bola raksasa ini menumbuk cincin F dengan kecepatan rendah, sekitar 2 meter per detik. Sementara itu, bola raksasa juga menghasilkan ekor bercahaya disebut jet yang panjangnya mencapai 40 - 180 kilometer.

Fenomena di cincin Saturnus menarik perhatian para ilmuwan. Cincin Saturnus sendiri bisa menjadi model untuk mempelajari pembentukan Tata Surya. Beberapa fenomena di cincin Saturnus mungkin bisa memberi petunjuk tentang apa yang terjadi di tata surya 4,5 miliar tahun lalu.

Cassini adalah proyek kerjasama antara badan antariksa Amerika serikat, Eropa dan Italia. Cassini mulai memasuki orbit Saturnus pada tahun 2004. Direncanakan, misi Cassini akan berakhir tahun 2017, dimana Cassini akan 'bunuh diri' di atmosfer Saturnus. (kompas.com)
Bookmark and Share

Kakus Hebat Ubah Tinja Jadi Listrik

Ilmuwan dari Nanyang Technological University menciptakan kakus hebat yang bisa mengubah tinja menjadi listrik dan pupuk, sekaligus menghemat pemakaian air sebanyak 90 persen.
Jamban dengan nama No-Mix Vacuum Toilet tersebut memiliki dua wadah untuk memisahkan limbah padat dan cair. Jamban ini menggunakan tekanan untuk "mengguyur" tinja. Jadi, jumlah air yang dibutuhkan untuk sekali guyur hanya 0,2 liter alias secangkir.

Toilet konvensional di Singapura saat ini membutuhkan 4-6 liter air sekali guyur. Jika jamban inovatif ini diaplikasikan di toilet umum, dengan 100 kali guyuran sehari, maka kakus ini bisa menghemat 160.000 liter. Volume itu cukup untuk mengisi kolam renang berukuran 10 x 8 x 2 meter.
Untuk menghasilkan listrik dan pupuk, kakus ini akan memisahkan komponen padat dan cair. Dari kakus lewat sistem pembuangan, limbah cair akan dikirim ke fasilitas pengolahan tempat nitrogen, fosfor, dan potasium akan dipanen.
Pada saat yang sama, tinja akan dikirim ke bioreaktor untuk diolah agar menghasilkan biogas yang kaya metana. Metana nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas untuk memasak maupun diubah menjadi listrik.
"Dengan toilet inovatif kami, kita bisa memakai cara yang lebih sederhana dan murah untuk menghasilkan unsur berguna dan memproduksi bahan bakar dan energi dari limbah," kata Wang Jing-Yuan, Direktur Residues and Resource Reclamation Centre (R3C) di NTU.
Terpadu dengan sistem itu, air yang telah dipakai untuk mencuci, mandi, dan dari dapur bisa dipakai lewat sistem drainase tanpa pengolahan kompleks. Adapun limbah makanan juga bisa dikirim ke bioreaktor untuk dijadikan kompos.

Dari informasi di website NTU, kakus ini mulai akan diuji secara terbatas di Kampus NTU. Pengujinya adalah 500 mahasiswa yang diminta memakainya. Setelahnya, kakus akan diuji selama 2 tahun di Singapura.(kompas.com)
Bookmark and Share

Kamis, 28 Juni 2012

Jawara Sains di Amerika Asal Bogor


Muhammad Luthfi Nurfakhri tekun menyusun komponen yang berserakan di hadapannya. Ratusan kali gagal tak menyurutkan semangatnya. Tekadnya hanya satu, bagaimana semua komponen di hadapannya terangkai menjadi alat yang bisa membantu pekerjaan para petani di sekitar rumahnya. 

"Kurang lebih 135 kali saya gagal," kata Luthfi, demikian dia akrab disapa, mengenang perjuangannya merakit perangkat bernama Digital Leaf Color Chart (DLCC). 

Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bogor ini mengatakan satu-satunya kendala yang dihadapinya hanyalah terkait dengan persoalan teknis. Dia bersyukur, masalah lain bisa diatasi berkat dukungan dari keluarga dan sekolah yang membantunya fokus menggarap penelitian. 

Berulang kali mengotak-atik DLCC menjadi pengalaman berkesan baginya. Setiap kegagalan tak mengusik semangatnya. Malah, tekad putra dari pasangan Iyus Hendrawan dan Endang Sri Rejeki ini kian membaja. 

Modal 12 juta yang dikumpulkannya dari kemenangan Lomba Karya Ilmiah Remaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, dimaksimalkan untuk menggarap proyek ini. Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengerjakannya.

"Masalahnya lebih ke sisi teknis, sensornya beda-beda. Belum lagi terbakar, jadi rusak alatnya. Saya juga harus bolak balik ke Jakarta. Beli komponennya di Glodok," ujar pemuda kalem ini seraya tersenyum. 

Juara di Amerika

Siapa sangka, perangkat inilah yang kemudian mengantarkannya mengharumkan nama Indonesia. Padahal semula, dia hanya ingin para petani di sekitar rumahnya bisa lebih efisien dalam menebar pupuk. 

"Saya lihat di lingkungan sekitar rumah saya belum maksimal produksi padinya karena penyebaran pupuknya tanpa perhitungan," ujarnya. 

Agar efektif, jumlah pupuk yang disebar harus dihitung. Memang, selama ini petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD), yaitu cara pemberian pupuk pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan BWD. 

Namun cara ini punya kelemahan yakni jika warna padi tidak sesuai, maka akan dihitung dengan rata-rata, sehingga pemupukan dapat berlebihan atau bisa kekurangan. 

Alat yang dikembangkannya, menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.

"Untuk pengukuran pemupukan satu hektar sawah, cukup ambil satu sampel daun," ujarnya sambil memamerkan alat buatannya. 

Jadi, Digital Leaf Color Chart (DLCC) adalah perangkat digital pendeteksi warna daun untuk efisiensi pemupukan. 

Sejauh ini, DLCC sudah diaplikasikan para petani di sekitar rumah Luthfi. Butuh keuletan juga memperkenalkan alat ini kepada para petani. 

"Awalnya mereka gak mau, gak percaya karena penggunaan pupuknya jadi lebih sedikit. Tapi setelah dicoba, dilihat produksi padinya malah lebih optimal," kata Luthfi berseri-seri.


Perangkat yang aplikatif

DLCC menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF), kategori teknik (elektris dan mekanik). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.600 finalis yang berasal dari 70 negara.

Karya remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini rupanya dinilai aplikatif dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. "Jadi kami yang mengikuti kompetisi ini dilihat oleh juri, apakah teknologinya bisa digunakan bagi hajat hidup orang banyak," ujar Luthfi. 

Luthfi tak lekas berpuas diri dengan apa yang baru dicapainya. Dia ingin terus mengembangkan alat ini, termasuk memperbaiki bentuknya agar lebih ramping sehingga ringan ditenteng. Dia juga ingin ada lebih banyak petani yang memanfaatkan DLCC. 

Didukung oleh LIPI, pemuda yang bercita-cita belajar ilmu komputer di luar negeri ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke luar negeri. 

"Yang paling utama saya pengen bisa mengaplikasikan teknologi di masyarakat," pungkasnya. (detik.com)
Bookmark and Share

Bantu Petani, Siswa Indonesia Juara Dunia


Siswa SMAN 1 Bogor membuat Digital Leaf Colour Chart.


Penggunaan pupuk yang tidak optimal berdampak pada produksi padi di kalangan petani. Melihat masalah ini, siswa SMAN 1 Bogor, Muhammad Luthfi Nurfakhri membuat solusi dengan Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital). Alat ini secara konseptual merevolusi metode Bagan Warna Daun (BWD) yang lazim digunakan oleh petani.

Metode bagan warna merupakan cara pemberian pupuk nitrogen pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan oleh bagan konvensional. Penggunaan BWD memiliki kelemahan karena warna tumbuhan padi kadang tidak sesuai dengan bagan warna. Akibatnya, pemberian pupuk tidak sesuai dengan prioritas seharusnya.

"Alat yang saya buat berguna untuk deteksi kebutuan pupuk tanaman padi secara objektif," ungkap Luthfi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bagan digital ini terdiri dari dua bagian utama: sensor warna daun dan rangkaian piranti elektronik. Dalam rangkaian ini terdapat IC (integrated circuit), micro controller, resistor, dan baterai 12 volt. Bagian ini membantu memproses data kebutuhan pupuk yang dibutuhkan padi.

Penggunaan perangkat ini tergolong mudah. Daun padi dimasukkan ke ujung bagian sensor. Dengan cepat, hasil pemindaian akan muncul untuk menunjukkan kebutuhan pupuk pada layar tampilan.

"Sensornya sama dengan fotodioda. Tapi, di sini sensor dua sistem. Beda dengan alat sejenis dari Amerika Serikat, klorofilmeter yang hanya ada satu sensor saja. Deteksi ini dengan dua fotodioda," jelasnya.
Luthfi menyebutkan hanya butuh sekali sensor saja pada satu sampel daun padi untuk mengetahui kebutuhan pupuk dalam satu petak. "Ya, langsung dapat diketahui kebutuhannya. Ukuran pupuknya kilogram per hektar," tambahnya.

Menurut  Luthfi, langkah ini akan membantu menetukan dosis pupuk sehingga menjadi optimal. Metode ini akan berdampak pada efektivitas produksi padi.

Hasil karya Luthfi membawanya meraih juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Acara ini diselenggarakan di Pennsylvania, Amerika Serikat. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Gagal 135 Kali, Juara Sains Dunia


Percobaannya gagal 135 kali hingga terbakar.


Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa kelas XI SMAN 1 Bogor tidak menyangka mampu menarik hati para juri di kompetisi sains internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012 yang digelar di Pensylvannia, Amerika Serikat.

Karyanya, Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital) terpilih sebagai juara ketiga dalam kompetisi tersebut. Perangkatnya sanggup  merevolusi pengukuran pupuk nitrogen yang harus diberikan ke tanaman padi. Selama ini ketidaktepatan pengukuran dapat mengakibatkan produktivitas tanaman padi berkurang.

"Teknologi yang dipilih dalam kompetisi tersebut adalah yang aplikatif ke masyarakat dan mempengaruhi masyarakat," ujar Lutfhi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bakat lutfhi dalam dunia riset tidak tumbuh dalam sekejap. Sejak di SMP, ia sudah rajin ikut kegiatan yang bersifat uji coba teknologi. "Awalnya suka ikutan praktikum, percobaan di sekolah," ujarnya.
Dari ruang laboratorium, bakatnya disalurkan dengan mengikuti kompetisi sains di sekolah. Hasilnya, dia sanggup menghasilkan gelar juara.
"Dari situ, saya semakin termotivasi ikut penelitian," sambung pemuda kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini.

Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.

Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.

Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.

"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.

Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
"Yang asyik itu jika hipotesa dapat terbukti secara benar, dan dapat menghasilkan teori baru," katanya.

Beda

Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.

Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.

"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.

Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.

"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya

Gagal dan Terbakar

Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
"Justru lebih optimal hasilnya," kata Luthfi.

Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.

"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.

Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Untuk mendatang, Luthfi akan terus mengembangkan alat ini. Ia berharap seluruh petani menggunakan alat ini.
"Bentuk lebih kecil dan enteng," sebut siswa yang mengidamkan dapat melanjutkan studi di Carnegie Mellon University, Pitsburg, Amerika Serikat.

Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Satelit Karya Indonesia Siap Deteksi Bencana


Lapan akan luncurkan dua satelit baru untuk penanggulangan bencana.


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam waktu dekat ini akan meluncurkan dua satelit baru. Keduanya berguna untuk membantu penanggulangan bencana alam di Indonesia.
Deputi Teknologi Aerospace, Soewarto Hardhienata mengatakan, dua satelit yang akan diluncurkan adalah Satelit Lapan A 2 dan Lapan A 3. Masing-masing mempunyai keunggulan dalam pengamatan jarak jauh. Satelit ini bisa memberikan peringatan dini ketika ada bencana.

"Masing-masing satelit mempunyai misi yang berbeda-beda. Selain untuk komunikasi, juga untuk membantu penanggulangan bencana alam," ungkapnya usai memberi materi terhadap peserta workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management yang bertempat di Hotel Salak, Bogor pada Selasa 26 Juni 2012.

Menurut Soewarto, kedua satelit yang akan diluncurkan ini merupakan karya bangsa Indonesia
"Oleh karena itu, kami meminta dukungan kepada masyarakat Indonesia dalam pembuatan dua satelit tersebut," ujarnya.
Lapan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan lembaga antariksa dan manajemen bencana dari Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, Brunei, Vietnam, dan Indonesia. Menurut kepala Lapan, Taufik Maulana, semua berkumpul guna membahas penanganan bencana berbasis Iptek antariksa.

Berdasarkan data yang didapat Agus Wibowo selaku Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana yang sering terjadi di negara Indonesia yakni bencana hydromologi, banjir, dan puting beliung.
"Tapi, ketiga bencana itu tidak memakan korban jiwa, hanya materi saja. Sedangkan, yang memakan korban jiwa adalah tsunami dan gempa bumi," ujar Agus kepada wartawan.

Menurut Agus, wilayah Indonesia yang rawan terjadi bencana alam yakni Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Untuk tingkat Kabupaten, wilayah yang paling rawan itu Kebumen, Jawa Tengah. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Ilmuwan Temukan Cara Hidup Tanpa Bernapas



Partikel mikro bisa disuntikkan langsung ke aliran darah.


Peneliti merancang partikel mikro yang bisa disuntikkan langsung ke aliran darah. Partikel ini akan mengantar oksigen ke tubuh dengan cepat. Bahkan, ketika Anda tidak bisa bernapas lagi. 

Temuan ini menjadi terobosan medis terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Partikel ini bisa menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. 

Penemuan ini dikembangkan tim dari Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat. Partikel ini bisa membuat tim medis menjaga pasien tetap hidup dan dalam kondisi stabil selama 15 hingga 30 menit. Bahkan, ketika mengalami kegagalan pernapasan. 

Temuan ini memberikan cukup waktu bagi dokter dan personel gawat darurat. Mereka bisa mengambil tindakan tanpa menimbulkan resiko serangan jantung atau kerusakan otak permanen pada pasien. 

Solusi ini telah sukses diujikan pada binatang dalam kondisi kegagalan paru-paru kritis. Ketika dokter menyuntikkan cairan ini ke pembuluh darah pasien, partikel bisa menyimpan oksigen dalam darahnya hingga mendekati tingkat normal. Proses ini memberikan tambahan menit berharga bagi kehidupan. 

Solusi serupa telah gagal sebelumnya karena menyebabkan embolisme gas atau gelembung gas pada aliran darah. Solusi terdahulu tidak bisa memasok oksigen pada sel. Menurut Departemen Kardiologi Rumah Sakit Anak Boston, AS, dr. John Kheir, mereka berhasil mengatasi masalah ini dengan menggunakan partikel yang bisa berubah bentuk, bukan menjadi gelembung. 

"Kami telah merancang solusi masalah ini dengan memaketkan gas menjadi partikel kecil yang bisa berubah bentuk. Mereka meningkatkan pertukaran gas pada area permukaan secara dramatis. Mereka juga mampu menyusup melalui kapiler [pembuluh darah terkecil] tempat gas bebas menempel," ujar Kheir seperti dilansir dari Gizmodo. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Otak Lumba-lumba Mirip Manusia?


Lumba-lumba terlahir cerdas, bisa mengenali diri mereka di cermin.


Lumba-lumba terlahir cerdas dan memiliki kesamaan gen dan otak dengan manusia.

Studi terbaru tentang genom menunjukkan lumba-lumba berhidung botol itu menjadi mamalia laut yang memiliki kesamaan gen dengan manusia. Penemuan ini menjelaskan alasan lumba-lumba memiliki otak yang besar.
Lumba-lumba memiliki kesamaan dengan manusia dalam kecerdasan, perilaku sosial, dan komunikasi. Menurut penelitian, kesamaan ini sedekat hubungan manusia dengan monyet dan kera.

"Kami tertarik pada alasan yang membuat otak mereka besar dari perspektif molekul," ujar peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Wayne State, Michigan, Amerika Serikat, Michael McGowen.

"Kami memutuskan untuk meneliti gen dari genom lumba-lumba. Ini untuk melihat kesamaan antara gen yang telah berubah pada silsilah lumba-lumba dan perubahan pada silsilah primata," ujarnya seperti dilansir dari Daily Mail.
Lumba-lumba bisa mengenali diri mereka di cermin. Kemampuan ini normalnya terbatas pada primata seperti simpanse dan manusia.

Otak lumba-lumba, jelas Michael, melibatkan koneksi berbeda dengan primata, terutama pada neokorteks. Bagian ini menjadi pusat dari fungsi yang lebih tinggi, seperti penalaran dan kesadaran pikiran. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Temuan Peneliti Indonesia Kalahkan Alat Produksi Amerika


Muhammad Luthfi Nurfakhri, seorang pelajar Indonesia, mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Luthfi adalah iswa kelas XI jurusan IPA, SMAN 1 Bogor, Jawa Barat, yang berhasil menemukan "Digital Leaf Color Chart". Sebuah alat bersensor ganda yang digadang-gadang memiliki obyektivitas tinggi antara penggunaan pupuk dengan hasil tanaman padi.

Dari alat canggih yang ditemukannya, ia berhasil menyabet peringkat III pada Intel International Science & Engineering Fair 2012, sebuah ajang adu kemampuan para peneliti muda dari seluruh dunia yang digelar pada pertengahan Mei lalu, di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Tidak tanggung-tanggung, alat yang ia temukan mampu mengalahkan harga alat sejenis di pasaran. Dengan harga jual Rp 950.000, "Digital Leaf Color Chart" jauh lebih murah dari alat sejenis yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp 14 juta.

"Hipotesa saya membuat suatu alat dengan obyektivitas tinggi dengan harga yang lebih murah," kata Luthfi kepada Kompas.com seusai menerima beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Rabu (27/6/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia beranggapan, proses pertumbuhan tanaman padi harus diperhatikan secara baik, salah satunya pada proses pemupukan. Penelitiannya diilhami oleh petani padi di sekitar tempat tinggalnya. Selama ini, para petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD) dalam memberikan pupuk pada tanaman padinya.

Baginya, BWD memiliki kelemahan jika warna padi tidak sesuai maka akan dihitung dengan rata-rata sehingga pemupukan dapat melebihi atau kekurangan nitrogen.

Melalui alat ciptaan Luthfi yang juga dilengkapi dengan Fototransistir sebagai pendeteksi warna daun padi, maka perhitungan pemberian nitrogen pada padi dapat lebih optimal dan ditunjukkan secara digital melalui LCD.

"Singkatnya, alat saya ini berguna untuk mendeteksi kebutuhan pupuk pada tanaman padi. Lalu bisa menentukan dosis yang paling optimal sehingga produksi padi bisa efektif," ujarnya.

Layaknya sebuah temuan, pasti akan melalui proses penelitian, uji coba, dan gagal, sebelum akhirnya berhasil menjadi temuan yang dapat digunakan serta memberikan manfaat. Untuk menciptakan alat ini, Luthfi memerlukan waktu sekitar satu tahun dengan uji coba dan kegagalan sebanyak 135 kali.

Tak hanya itu, ia pun rela merogoh kocek sampai Rp 12 juta yang berasal dari kantong pribadi dan dukungan sekolahnya. Saat penggarapan, ia juga banyak berdiskusi dengan peneliti-peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggal dan sekolahnya.

"Secara kualitas alat saya siap diadu dengan alat sejenis. Karena milik Amerika hanya menggunakan satu sensor dan dijual dengan harga jauh lebih mahal," tuturnya.

Putra seorang dosen Kewirausahaan di Institut Teknologi Indonesia (ITI) ini memang hobi melakukan penelitian sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Hingga saat ini ia berhasil membuat 11 alat dari hasil penelitiannya. Ia berharap penemuan-penemuannya, khususnya "Digital Leaf Color Chat", dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani di seluruh dunia.

"Saya uji coba ke petani di sekitar tempat saya tinggal. Awalnya enggak mau, tapi setelah tahu hasilnya, mereka mau," pungkasnya.

Atas prestasinya, ia berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 1.000 dollar AS dan piagam penghargaan dari militer Amerika Serikat. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga memberikan beasiswa unggulan untuk melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi. Ia berharap dapat mengecap bangku perkuliahan di luar negeri dan kembali mengharumkan nama bangsa serta membawa manfaat untuk Indonesia.(kompas.com)

Bookmark and Share

Konsumsi Makanan Ini saat Sakit Tenggorokan

HeadlineAnda mungkin sering merasakan tenggorokan sakit pada saat menelan, atau tenggorokan terasa gatal dan serak. Bisa jadi hal itu merupakan gejala radang tenggorokan.





Nah, untuk mempercepat proses penyembuhan, sebenarnya ada beberapa jenis makanan yang bisa membantu. Apa saja?

Oatmeal

Oatmeal merupakan makanan tinggi serat larut, berperan membantu dalam menurunkan kadar kolesterol LDL. Oat juga tinggi kandungan protein yang membuat Anda selalu merasa kenyang dan puas untuk jangka waktu lebih lama.

Jahe

Secangkir teh panas dari jahe atau madu bisa menjadi pilihan tepat untuk menenangkan tenggorokan yang teriritasi dan gatal. Madu akan melapisi tenggorokan dan membantu mencegah iritasi, yang merupakan alasan utama di balik munculnya batuk.

Putih telur

Tidak banyak yang tahu bahwa putih telur dapat membantu menangani peradangan dan rasa sakit di tenggorokan. Namun pastikan Anda tidak mencampur putih telur dengan bumbu karena hal ini mungkin dapat memperburuk rasa sakit.

Air garam hangat

Jika tenggorokan sudah mulai sakit dan gatal, maka saatnya berkumur dengan air garam hangat. Larutan satu sendok teh garam plus 1/2 liter air hangat. Ini bisa membunuh bakteri dalam tenggorokan sekaligus meningkatkan sirkulasi darah yang membawa sel pembasmi infeksi ke kerongkongan untuk mempercepat penyembuhan.

"Saran lain, jangan gunakan air panas agar tenggorokan tak terbakar," ujar Tim Tucker selaku ahli farmasi dari Huntingdon, Tennessee.

Teh herbal

Saat kesakitan berlangsung sepanjang hari, saatnya menenggak teh herbal yang mengandung penggerak imun, seperti echinacea atau licorice selaku antiviral dan antibakterial.

Sup ayam

Beberapa orang percaya bahwa sop ayam dapat memerangi sakit tenggorokan. Bahkan semangkuk sop ayam hangat dapat pula berperan sebagai antibiotik karena memiliki sifat anti-inflamasi dan membantu mengurangi kemampetan dengan membatasi virus yang datang dalam kontak dengan membran lendir.

Lada

Rasa pedasnya akan mengurangi aktivitas otak ketika menerima rasa sakit dari pusat sistem saraf. Lada juga bisa menyembuhkan sinuistis serta mengencerkan sumbat pada tenggorokan. (inilah.com)
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG