host

Hosting Gratis

Minggu, 01 Juli 2012

Katak Borneo Ucapkan Salam dengan Lambaian Kaki

Katak Borneo jenis Lesser Rock Frog memiliki cara unik untuk mengucapkan salam dan berkomunikasi. Jenis katak yang kini terancam punah tersebut berkomunikasi dengan melambaikan tangan dan beradu jari kaki layaknya manusia sedang membuat aksi "tos".

Perilaku katak itu menarik perhatian ilmuwan. Semula, ilmuwan mengira perilaku tersebut terkait dengan reproduksi dan kematangan seksual. Tapi, kini pandangan itu dipertanyakan.

Ilmuwan di Kebun Binatang Schonbrunn di Vienna, Austria, mengembangbiakkan ribuan Lesser Rock Frogs. Mereka menemukan, katak mulai melambaikan tangan segera setelah tahap berudu. 

"Pakar percaya ini berhubungan dengan reproduksi. Tapi, sekarang kita tahu bahwa anakan hewan melambaikan kaki sebelum mencapai kematangan seksual," kata Dagmar Schratter, direktur kebun binatang tersebut seperti dikutip Daily Mail, Jumat (15/6/2012).

Jenis Lesser Rock Frog bukan katak unik pertama yang ditemukan di Borneo. Sebelumnya, ilmuwan juga menemukan katak yang tak memiliki paru-paru, bernafas dengan kulit. Spesies katak ini sudah ditemukan tahun 1978, namun baru disadari bahwa ternyata tak berparu-paru akhir-akhir ini. (kompas.com)
Bookmark and Share

Anjing "Ajaib" Bisa Menyala dalam Gelap


Anjing bernama Tegon punya kemampuan bersinar dalam gelap. Tegon adalah anjing kloning yang dihasilkan ilmuwan Korea Selatan untuk penelitian penyakit manusia, seperti alzheimer dan parkinson.
"Tegon bisa bersinar di bawah sinar ultraviolet jika diberi antibiotik doxycycline," ungkap Lee Byeong-chun, ketua tim peneliti dari Seoul National University (SNU).
Tegon yang lahir pada 2009 memang bukan anjing hasil kloning pertama yang dihasilkan SNU. Pada 2005 ada Snuppy, yang lahir dari uji coba 2.000 sel telur yang kemudian tumbuh menjadi 1.000 embrio. Dari jumlah itu, hanya satu ekor Snuppy yang dihasilkan.
Proses yang sama kemudian diimplementasikan untuk membuat Tegon, seekor anjing betina jenis beagle (anjing pemburu kecil). Bedanya, Tegon adalah anjing hasil kloning pertama yang bisa bersinar dalam gelap dengan sinar berwarna hijau. Uniknya lagi, sinarnya bisa dihidupmatikan jika Tegon diberi antibiotik tertentu melalui makan annya.
Kemampuan menghidupkan dan mematikan gen warna ini penting artinya dalam penelitian. Ilmuwan bisa memonitor efek suatu zat yang ditambahkan pada gen tersebut. Sebagai contoh, gen beta-amyloiddiketahui sebagai penyebab kerusakan fungsi saraf dalam penyakit alzheimer. Dengan menghidupkan gen tersebut lalu memonitor fungsi saraf setelahnya, dapat menghasilkan petunjuk tentang perkembangan alzheimer.
"Pembuatan Tegon membuka wawasan baru mengingat injeksi gen yang dapat membuat anjing ini bersinar bisa digantikan dengan gen-gen penyebab penyakit-penyakit fatal pada manusia," kata Byeong-chun. Penelitian ini sengaja menggunakan anjing sebagai hewan percobaan karena terdapat sekitar 268 penyakit yang sama-sama bisa diidap oleh manusia dan anjing.
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal internasional Genesis. Ilmuwan menghabiskan waktu selama lima tahun dan biaya penelitian sebesar 3,2 miliar won untuk membuat anjing dan melakukan berbagai uji coba yang diperlukan untuk keperluan verifikasi. (kompas.com)
Bookmark and Share

Cacing Zombie" Memakan Tulang dengan Senjata Kimia

Cacing pemakan tulang atau sering disebut cacing zombie telah lama membuat ilmuwan bertanya-tanya. Fauna ini tak punya mulut, saluran pencernaan maupun anus, tapi bisa makan tulang. Riset terbaru menunjukkan bahwa cacing ini ternyata memiliki senjata kimia.

Dr Signid Katz dari Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego mempelajari organ serupa akar yang dimiliki oleh cacing ini. Ia mempresentasikan hasil risetnya pada pertemuan tahunan Society for Experimental Biology 2012 di Salzburg Austria.

Katz menemukan bahwa organ serupa akar tersebut mampu mengeluarkan senjata kimia berupa enzim yang bersifat asam. Asam inilah yang berfungsi "mencerna" tulang sehingga dapat diserap oleh cacing famili Osedax ini.

"Asam ini disekresikan lewat kulit dari bagian serupa akar," kata Katz seperti dikutip BBC, Jumat (29/6/2012).

"Sel kulit pada area adalah sel yang sangat panjang dan bagian atasnya memiliki tonjolan yang memperluas permukaan serap beberapa kali lipat, sehingga banyak asam yang bisa dikeluarkan," tambah Katz. 

Lemak dan zat lain yang ada di dalam tulang selanjutnya dibawa ke dalam tubuh cacing dan dicerna. Terungkap lewat penelitian sebelumnya bahwa pencernaan nutrisi cacing ini dibantu oleh bakteri yang bersimbiosis dengannya.

Cacing zombie ini ditemukan pertama secara tak sengaja pada tahun 2002 oleh Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI). Fauna ini hidup di tempat dimana tulang belulang paus dan ikan banyak terdapat.

Saat ini, sudah ada 17 spesies famili Osedax yang ditemukan. Selama 10 tahun terakhir, riset tentang fisiologi, nutrisi, cara pengambilan nutrisi dan simbiosis dengan bakteri telah dilakukan.

"Fakta bahwa kita sekarang mengetahui bagaimana ia mempenetrasi tulang adalah satu langkah maju bagaimana kita memahami fungsi dari simbiosis yang dimiliki," jelas Katz. (kompas.com)
Bookmark and Share

aksi menggemaskan seekor kucing

Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG