host

Hosting Gratis

Senin, 30 Juli 2012

"Kissenger", Inilah Perangkat Ciuman Jarak Jauh!

Profesor bidang robotik dari National University of Singapore menciptakan perangkat yang mampu menjaga keintiman pasangan jarak jauh. Dengan perangkat ini, pasangan jarak jauh tetap dapat berciuman.
Hal utamanya adalah untuk mentransfer gaya dan tekanan, juga bentuk dari bibir.
-- Hooman Samani
"Perangkat ini bisa digunakan antarmanusia untuk meningkatkan kualitas komunikasinya," kata Hooman Samani, pengembang perangkat ini, seperti dikutip AFP, Senin (23/7/2012).
Perangkat yang dimaksud itu bernama Kissenger, kependekan dari Kiss Messenger. Dengan perangkat ini, pasangan jarak jauh tetap dapat berciuman.
Kissenger berbentuk kepala kecil, dengan bibir seukuran bibir manusia berbahan silikon. Perangkat ini juga dilengkapi dengan sensor. Untuk memakainya, pengguna hanya perlu mencolokkan perangkat pada komputer lewat kabel USB, online, dan mencium perangkat untuk memicu sensor pada perangkat pasangan bergerak.
"Hal utamanya adalah untuk mentransfer gaya dan tekanan, juga bentuk dari bibir," urai Samani.
Menurut dia, bahan silikon yang digunakan adalah bahan yang terbaik sehingga bisa memberikan sensasi terbaik pula. Samani pun mengaku telah mencobanya.
Saat ini, Kissenger masih belum siap dipasarkan. Kajian secara sosial dan budaya tentang penggunaan alat ini diperlukan, sebab ciuman selama ini masih dianggap sesuatu hal yang pribadi.
Kissenger sendiri masih terus dikembangkan di laboratorium dengan kerjasama antara NUS dan Keio University di Jepang. Samani menyebut wilayah studinya sebagai lovotics, yakni riset untuk meningkatkan kedekatan antara robot dan manusia. Kissenger hanyalah salah satu perangkat yang dikembangkannya.
Sumber :
AFP
Bookmark and Share

Fosil Ungkap Rahasia Adaptasi Perubahan Iklim

Palaentolog menemukan beragam fosil makhluk hidup di sebuah gua wilayah utara Australia. Fosil yang ditemukan beragam, seperti hewan pengerat yang berukuran kecil hingga kanguru raksasa. Spesimen fosil tertua yang ditemukan berumur 500.000 tahun.

Gilbert Price, palaentolog dari University of Queensland mengungkapkan, wilayah gua tempat ditemukannya fosil itu sebelumnya merupakan hutan hujan namun kini berubah menjadi daerah padang rumput kering.

Dengan perubahan habitat yang diketahui, ilmuwan menduga bahwa fosil-fn samplingosil yang ditemukan bisa mengungkap rahasia bagaimana makhluk hidup survive beradaptasi di tengah perubahan iklim.

"Yang kami lakukan di sini adalah melihat dengan cermat fosil yang ada dan melihat hewannya serta bagaimana mereka merespons perubahan iklim masa lalu. Itu sangat relevan saat ini," kata Price.

Selama ini, ilmuwan bertanya-tanya bagaimana dampak perubahan iklim pada makhluk hidup. Tapi dampak yang sebenarnya sulit diramalkan sebab tidak ada studi dengan sampling yang cukup pada fauna saat ini.

"Memiliki pemahaman tentang bagaimana makhluk hidup merespon perubahan iklim pada masa lalu sangat luar biasa. Ini sesuatu yang bisa kita gunakan pada model untuk konservasi di masa yang akan datang," jelas Price seperti dikutip AFP, Rabu (25/7/2012).

Menurut peneliti, hewan-hewan kecil yang telah menjadi fosil bisa masuk ke dalam gua karena dibawa predator. Sementara, kanguru raksasa ukuran 2,2 meter dan berat 180 kg masuk lewat mulut gua dengan berguling.

Menurut Price, paling tidak butuh waktu satu tahun untuk mengangkat seluruh fosil yang ada. Sementara, untuk mempelajari seluruhnya, kemungkinan akan memakan waktu seumur hidup manusia.
Sumber :
AFP

Bookmark and Share

Actinobacteria, Nenek Moyang Semua Makhluk Hidup?

Lewat analisis menggunakan data bank gen, William Duax, pakar kimia dari State University of New York di Buffalo, berhasil mengidentifikasi nenek moyang dari semua makhluk hidup di Bumi.

Menurut analisis tersebut, nenek moyang semua makhluk hidup di Bumi adalah jenis bakteri Actinobacteria, jenis bakteri yang selama ini banyak menghasilkan antibiotik yang dibutuhkan manusia.

Analisis Duax dilakukan dengan membandingkan protein ribosom, protein yang bersama asam ribonukleat menyusun organ sel bernama ribosom, yang berperan dalam pembentukan protein itu sendiri.

Penelitian dilakukan dengan data bank gen. Protein dari beragam kingdom makhluk hidup dibandingkan untuk mengetahui moyangnya. Hasilnya, moyang terakhir dari makhluk hidup adalah bakteri Actinobacteria.

Protein ribosom selama ini banyak digunakan dalam kajian evolusi sebab mudah diidentifikasi secara akurat dan hanya ditransfer ke individu lewat reproduksi.

Dengan analisis protein itu, peneliti bisa menempatkan individu dalam pohon evolusi. Protein yang dibandingkan dalam studi ini disebut S19 dan S13.

Bank gen kini memiliki 600.000 gen milik lebih dari 6.000 spesies. Hasil studi ini akan dipresentasikan di pertemuan tahunan American Crystallographic Association.
Sumber :
Bookmark and Share

Satu Lagi Planet Layak Huni Ditemukan

Astronom berhasil menemukan satu lagi planet yang mirip Bumi dan kemungkinan layak dihuni makhluk hidup. Planet tersebut bernama HD85512b dan merupakan planet yang mengorbit bintang katai oranye dan ada pada jarak 36 tahun cahaya dari tata surya di konstelasi Vela.
HD85512b ditemukan lewat penelitian menggunakan High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher (HARPS) European Southern Observatory di Cile. Radial velocity adalah teknik memburu planet dengan cara melihat perubahan cahaya bintang yang diorbit.
Data HARPS menunjukkan bahwa HD85512b memiliki massa 3,6 kali Bumi. Selain itu, planet yang baru saja ditemukan ini juga punya jarak pas dengan bintang induknya sehingga memungkinkan keberadaan air dalam wujud cair di permukaannya.
"Jaraknya adalah tepat pada batasan yang memungkinkan Anda untuk memiliki air dalam wujud cair," kata Lisa Kaltenegger dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics dan Max Planck Institute for Astronomy. "Jika Anda membandingkan dengan tata surya kita, planet ini sedikit lebih jauh dari jarak Matahari-Venus," kata Kaltenegger seperti dikutip National Geographic, Selasa (30/8/2011). Ini berarti planet tersebut lebih banyak menerima energi dari bintangnya dibandingkan dengan Bumi.
Kaltenegger mengatakan, planet ini juga memiliki tutupan awan sedikitnya 50 persen untuk merefleksikan panas dari bintangnya, mencegah pemanasan yang berlebihan. Tutupan awan ini mendekati tutupan awan Bumi, yang rata-rata sekitar 60 persen.
Tutupan awan mengindikasikan adanya atmosfer yang mirip Bumi. Penelaahan terhadap atmosfer masih belum memungkinkan karena jarak yang cukup jauh. Namun, dipercaya bahwa planet bermassa kurang dari 10 kali massa Bumi itu memiliki atmosfer yang mirip Bumi, didominasi nitrogen dan oksigen.
HD85512b merupakan planet batuan kedua yang memiliki kemiripan dengan Bumi. Berdasarkan jarak dengan bintangnya, planet ini bisa dikatakan layak huni sebab ada pada zona yang tak terlalu panas ataupun tak terlalu dingin. Planet sebelumnya yang dikatakan layak huni adalah Gliese 581d, yang sebelumnya juga ditemukan dengan instrumen HARPS. Sebenarnya terdapat juga Gliese 581g yang juga diklaim layak huni. Namun, klaim planet terakhir ini masih menjadi kontroversi.
Manfred Cuntz, direktur program astronomi University of Texas di Austin, mengatakan, selain soal ukuran dan jarak, ada faktor lain yang membuat HD85512b bisa dikatakan sebagai planet layak huni dan bukan hanya klaim belaka. Salah satu faktor lain itu adalah orbit planet yang mendekati lingkaran sehingga memungkinkan iklim yang stabil. Faktor lain, bintang induk yang bernama HD85512 memiliki usia lebih tua dari Matahari sehingga kurang aktif dan mengurangi risiko akibat badai elektromagnetik.
Cuntz menambahkan, usia dari tata surya tempat HD85512b bernaung adalah 5,6 miliar tahun sehingga bisa mendukung kehidupan. Sebagai perbandingan, tata surya tempat Bumi bernaung diperkirakan berumur 1 miliar tahun lebih muda, alias 4,6 miliar tahun.
Sayangnya, dengan segala potensi mendukung kehidupan, masih belum mungkin bagi manusia untuk menuju planet itu. Jikapun bisa, maka manusia pasti merasa asing karena kondisi planet yang panas, lembab, dan gravitasi yang 1,4 kali lebih besar daripada Bumi. "Hot yoga mungkin adalah hal yang Anda bisa nikmati dengan gratis di sana," canda Kaltenegger.
(kompas.com)
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG