host

Hosting Gratis

Rabu, 05 September 2012

Makanan Organik Tak Lebih Sehat Dari Non-Organik?

 Sayur-sayuran dan daging organik ternyata tidak lebih baik dari sayuran dan daging biasa dari segi vitamin dan gizi. Hal ini adalah hasil uji dari bukti-bukti yang terkumpul.

Meski begitu, makanan organik masih terbukti dalam menurunkan risiko paparan terhadap residu pestisida dan bakteri kebal antibiotik, kata para peneliti dari Stanford University dan Veterans Affairs Palo Alto Health Care System.

"Orang memilih makanan organik untuk alasan berbeda-beda. Salah satunya adalah keuntungan kesehatan," kata Dr Crystal Smith-Spangler yang memimpin penelitian tersebut.

"Pasien dan keluarga kami bertanya, 'Apakah ada alasan-alasan kesehatan untuk memilih makanan organik dari segi gizi jika dibandingkan dengan dampaknya untuk kesehatan manusia?'"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia dan para koleganya menguji lebih dari 200 hasil penelitian untuk membandingkan kesehatan antara orang-orang yang makan makanan organik atau biasa serta kandungan gizi dan pencemaran dalam makanan tersebut.

Mereka pun memeriksa buah-buahan organik dan non-organik, sayur-sayuran, gandum, daging, ayam dan burung, telur, serta susu.

Banyak penelitian tersebut yang tidak merinci standar apa yang bisa disebut makanan organik --harganya bisa mencapai dua kali lipat dari makanan biasa--kata para peneliti tersebut lewat Annals of Internal Medicine edisi Senin.

Menurut standar Kementerian Pertanian AS, pertanian dan peternakan organik harus menghindari penggunaan pestisida dan pupuk sintetik, hormon dan antibiotik. Hewan ternak juga harus mendapat akses ke padang rumput pada musim merumput.

Banyak pertanian konvensional di AS menggunakan pestisida untuk menghilangkan serangga dan mengumpulkan hewan dalam kondisi tertutup yang sesak sambil memberi antibiotik dalam pakan untuk membesarkan badan dan mengusir penyakit. Food and Drug Administration atau BPOM-nya Amerika Serikat sudah memeriksa tipe antibiotik yang digunakan dalam pakan dan bagaimana itu bisa berpengaruh pada efek resisten obat di manusia.



Vitamin Sama

Smith-Spangler dan para koleganya menemukan tidak ada perbedaan dari sisi vitamin dalam sayur atau produk hewan yang dihasilkan secara organik maupun konvensional. Yang berbeda hanyalah terdapat lebih banyak fosfor dalam produk organik.

Susu dan ayam organik mungkin mengandung asam lemak omega-3 yang lebih banyak, namun itu hanya berdasar pada beberapa studi.

Ada lebih banyak perbedaan signifikan dalam jumlah pestisida dan bakteri makanan yang resisten terhadap antibiotik.

Lebih dari sepertiga sayuran konvensional memiliki residu pestisida yang bisa terdeteksi, jika dibandingkan dengan hanya 7 persen pada sayuran organik. Ada kemungkinan ayam dan babi organik 33 persen lebih kecil membawa bakteri yang resisten pada tiga atau lebih antibiotik daripada daging yang diproduksi dengan cara biasa. 

Smith-Spangler mengatakan pada Reuters Health bahwa baik makanan organik maupun konvensional tidak boleh melewati batas tertentu dalam penggunaan pestisida, sehingga belum diketahui apakah perbedaan residu itu dapat berdampak pada kesehatan.

Namun Chensheng Lu yang mempelajari kesehatan lingkungan di Harvard School of Public Health in Boston mengatakan bahwa, meski belum ada hasil pasti soal efek pestisida di tubuh manusia, orang tetap harus mempertimbangkan paparan pestisida dalam keputusan belanja mereka.

"Jika saya seorang konsumen yang cerdas, saya akan memilih makanan tanpa pestisida," kata Lu yang tidak terlibat dalam studi baru tersebut pada Reuters Health. "Saya rasa itu adalah cara terbaik untuk melindungi kesehatan Anda."

Menurut dia, butuh lebih banyak penelitian untuk mendalami kemungkinan perbedaan keamanan dan kesehatan antara makanan biasa dan organik, dan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa daging dan sayuran organik tidak lebih sehat dari non-organik. "Saya rasa saat ini semuanya masih berdasar pada bukti yang belum kuat," kata dia.
(http://id.berita.yahoo.com)
Bookmark and Share

Tanaman Hias Pengusir Nyamuk


8 tanaman pengusir nyamukDi musim kemarau yang berkepanjangan seperti saat ini, rumah makin rentan serbuan nyamuk. Selain mengganggu tidur, nyamuk juga membawa aneka penyakit, seperti demam berdarah, chikungunya, dan malaria.
Akan tetapi, mengusir nyamuk dengan obat anti-nyamuk berbahan kimia sangat riskan, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil di rumah. Untuk itu, Anda dapat menggunakan beberapa tanaman yang memiliki kemampuan mengusir nyamuk. Selain aman bagi kesehatan dan lingkungan, ternyata tumbuhan ini juga indah dijadikan penghias ruangan.
Lavender
Tanaman asal Pegunungan Alpen, Swiss, ini memang sudah dikenal sebagai bahan baku lotion anti-nyamuk. Tanaman berbunga ungu ini tidak disukai nyamuk karena mengandung zat linalool danlynalyl acetate. Untuk menghindari gigitan nyamuk, cukup gosokkan bunga lavender ke tubuh.
Tak hanya sebagai pengusir nyamuk, kandungan minyak atsiri dalam lavender juga sering digunakan untuk terapi aroma. Lavender dapat ditanam di dalam pot. Jika perlu, masukkan pot berisi lavender ke dalam kamar agar nyamuk enggan datang.
Zodia
Tanaman asli Papua ini termasuk famili Rutaceae, yang mengandung zat evodiamine danrutaecarpine yang berfungsi sebagai penghalau nyamuk yang mampu bertahan selama 6 jam. Masyarakat Papua biasa menggosokkan daun ini pada tubuh sebelum masuk hutan untuk menghindari serangga.
Untuk menghindari serbuan nyamuk ke dalam rumah, letakkan zodia di titik akses masuknya angin ke dalam ruangan — bisa juga diletakkan dekat kipas angin. Embusan angin akan membuat aroma zodia tersebar ke seluruh ruangan dan mengusir nyamuk. Tetapi hindari meletakkan zodia di ruangan sempit dengan sirkulasi udara terbatas, karena aroma zodia bisa membuat pening.
Geranium (Pelargonium Hortorum)Geranium alias Tapak Dara atau pelargonium, mengandung geraniol dan sitronelol yang dapat mengusir nyamuk. Tanam geranium di dalam pot dan letakkan di tempat yang terkena embusan angin. Saat daun-daun Geranium bergesekan, aromanya akan tercium dan membuat nyamuk pergi.
Sebuah penelitian menunjukkan, ekstrak geranium radula mampu menolak nyamuk aedes aegypti. Hanya dengan mengoleskan ekstrak tumbuhan ini pada bagian tubuh, nyamuk penyebab demam berdarah tersebut kabur. Hebatnya, ekstrak geranium juga tidak menimbulkan iritasi kulit.
RosemaryRosemary menghasilkan bau seperti aroma minyak telon yang tidak disukai nyamuk. Tamanan ini tumbuh baik di bawah sinar matahari, tetapi saat diperlukan Rosemary bisa letakkan di dekat jendela. Untuk pemanfaatannya, gosokkan daunnya yang berbentuk jarum pada kulit.
Serai Mungkin tak banyak yang tahu jika tanaman yang sering digunakan sebagai bumbu masak ini mampu membunuh nyamuk, karena mengandung zat geraniol dan sitronelal. Lantaran kandungannya tersebut, tumbuhan yang masuk jenis rumput-rumputan ini mulai digunakan sebagai bahan lotion anti-nyamuk.
Citrosa MosquitoTumbuhan asal Negeri Kincir Angin ini memiliki aroma seperti lemon yang pekat sehingga tidak disukai serangga. Citrosa Mosquito sangat menyukai sinar matahari dan tidak memerlukan perawatan khusus. Tetapi tanaman ini sulit ditemukan di pasar.
Marigold (Bunga Tai Kotok)Tumbuhan dengan bunga semarak: kuning, merah, dan jingga ini banyak ditemukan di Indonesia dan lebih dikenal dengan nama bunga tai kotok. Marigold memiliki dua jenis, yakni tagetes erecta dan tagetes patula.
Baunya yang tidak enak ternyata bisa mengusir nyamuk. Dengan bunga yang indah, tak ada salahnya jika marigold dipajang di salah satu sudut ruangan rumah.
Akar Wangi
Akar wangi dapat mengeluarkan aroma menyengat yang tidak disukai dan mampu membunuh nyamuk aedes aegypti. Ekstrak akar wangi teruji dapat mengendalikan nyamuk aedes aegypti dan anopheles aconitus. Untuk mengusir nyamuk dari rumah, tanam tumbuhan ini di pekarangan rumah dan rasakan faedahnya.
(rumah.com)
Bookmark and Share

Air Seni Bisa Menjadi Bahan Bakar Pembangkit Listrik yang Murah dan Melimpah


"Dengan tingkat produksi tahunan global sebanyak triliunan liter, ini adalah teknologi yang dapat membantu mengubah dunia."

Urin bisa menjadi bahan bakar yang melimpah untuk pembangkit listrik, demikian menurut para ilmuwan Inggris dalam studi yang pertama dari jenisnya.
Para peneliti dari University of the West of England, Bristol, telah mendeskripsikan sebuah cara langsung dalam menghasilkan listrik dari urin dengan menggunakan Sel-sel Bahan Bakar Mikroba (MFC).
Penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal terbaru Royal Society of Chemistry, Physical Chemistry Chemical Physics.
Tujuan tim riset termasuk menyelidiki apakah urin dapat menghasilkan listrik melalui MFC dan menghitung hasil energi dari urin ketika digunakan pada MFC. Perkiraan bahwa 6,4 trilyun liter urin diproduksi setiap tahunnya, mencetuskan gagasan untuk menyoroti urin sebagai sumber energi alternatif yang potensial, yang sejauh ini sering diabaikan.
Tiga MFC yang terbuat dari akrilik dengan 25ml ruang anoda dan katoda digunakan dalam percobaan studi ini. Elektroda anoda dan katoda dihubungkan melalui pompa kecil ke 1l botol penampung. Air urin ditambahkan dengan volume besar, berkisar antara 25ml hingga 300ml, ke dalam botol penampung sirkulasi-ulang, atau dengan volume kecil, 0.1ml hingga 10ml, yang disuntikkan langsung ke dalam lubang anoda. Urin yang digunakan masih segar atau paling lama satu minggu dari donasi dan sampel, di antara sumbangan per 400-500ml, diambil dari seorang relawan sehat dan memiliki pola makan yang normal serta tidak memiliki riwayat penyakit saluran kemih atau ginjal.
Sebelum suntikan 25ml urin, MFC memproduksi 0,9 miliamper per meter persegi (mA/m²), yang meningkat menjadi 2,9 mA/m² setelah satu jam dari titik injeksi.
Jumlah urine ini cukup untuk pembangkit energi yang terus-menerus selama tiga hari, di mana titik kinerja mulai meninggi dan kembali ke tingkat output daya yang diproduksi MFC sebelum injeksi.
Para ilmuwan menunjukkan bahwa penambahan 25ml air seni segar membutuhkan waktu tiga hari untuk dimanfaatkan di dalam satu MFC volume 25ml. Untuk tumpukan 10 MFC, sampel yang sama membutuhkan waktu depalan jam untuk dimanfaatkan. Berdasarkan produksi urin harian sebanyak 2,5L per orang, maka akan membutuhkan sekitar 300 MFC untuk memanfaatkan produksi harian rata-rata seorang manusia.
Tim riset di Bristol telah melakukan percobaan selama dua tahun dan menyatakan bahwa respon terhadap penambahan urin segar telah konsisten secara keseluruhan. Untuk MFC tunggal yang digunakan dalam penelitian ini, efisiensi konversi telah menunjukkan adanya hubungan terbalik dengan jumlah penambahan urin sebagai bahan bakar. Untuk volume sampai dengan 25ml penambahan air seni, efisiensi konversi langsung ke listrik berkisar antara 60 sampai 70 persen, sedangkan untuk volume lebih dari 700ml, efisiensinya berkisar antara 22 sampai 30 persen.
Peneliti utama Ioannis Ieropoulos mengatakan, “Dengan tingkat produksi tahunan global sebanyak triliunan liter, ini adalah teknologi yang dapat membantu mengubah dunia. Dampak dari ini bisa menjadi sangat besar, tidak hanya untuk industri pengolahan air limbah, tapi juga bagi masyarakat sebagai pergeseran paradigma dalam cara pandang terhadap limbah.”
Kredit: University of the West of England, Bristol
Jurnal: Ioannis Ieropoulos, John Greenman, Chris Melhuish. Urine utilisation by Microbial Fuel Cells; energy fuel for the futurePhysical Chemistry Chemical Physics, 19 Oct 2011. DOI:10.1039/C1CP23213D
Bookmark and Share

Listrik dari Hidung: Ilmuwan Membuat Tenaga Listrik dari Pernafasan Manusia


"Pada dasarnya, kami memanen energi mekanik dari sistem biologis. Aliran udara dari respirasi manusia normal biasanya di bawah sekitar dua meter per detik."

Menulis dalam edisi September jurnal Energy and Environmental Science, profesor Xudong Wang, pasca-doktoral Chengliang Sun serta mahasiswa pascasarjana Jian Shi, melaporkan telah menciptakan microbelt plastik yang bergetar ketika melewati aliran udara berkecepatan rendah seperti pernapasan manusia.
Pada bahan-bahan tertentu, seperti fluorida polyvinylidene (PVDF) yang digunakan oleh tim Wang, suatu muatan listrik akan terakumulasi sebagai respon terhadap tekanan mekanik yang diterapkan. Hal ini dikenal sebagai efek piezoelektrik. Para peneliti merekayasa PVDF untuk menghasilkan energi listrik yang cukup dari pernafasan untuk mengoperasikan seperangkat elektronik kecil.
“Pada dasarnya, kami memanen energi mekanik dari sistem biologis. Aliran udara dari respirasi manusia normal biasanya di bawah sekitar dua meter per detik,” kata Wang. “Kami menghitung, jika kami bisa membuat bahan ini menjadi cukup tipis, getaran kecilnya bisa menghasilkan energi listrik mikrovat yang berguna untuk sensor atau perangkat lain yang dipasangkan di wajah.”
Para peneliti mengambil keuntungan dari kemajuan nanoteknologi dan elektronik miniatur untuk mengembangkan berbagai perangkat biomedis yang bisa memantau glukosa darah bagi para penderita diabetes atau menjaga baterai alat pacu jantung tetap terisi sehingga tidak perlu diganti. Apa yang diperlukan untuk menjalankan perangkat kecil adalah sebuah suplai listrik yang sangat kecil. Limbah energi dalam bentuk aliran, gerakan, panas, atau dalam hal ini kasus respirasi, menawarkan sumber daya yang konsisten.
Tim Wang menggunakan proses ion-etsa pada materi tipis sambil mempertahankan sifat piezoelektriknya. Dengan perbaikan, ia yakin ketebalannya dapat dikontrol sampai ke tingkat submikron. Karena PVDF merupakan biokompatibel, ia mengatakan pengembangannya merupakan kemajuan yang signifikan terhadap menciptakan sebuah perangkat skala mikro praktis untuk memanen energi dari respirasi.
Kredit: University of Wisconsin-Madison, College of Engineering
Jurnal: Chengliang Sun, Jian Shi, Dylan J. Bayerl, Xudong Wang. PVDF microbelts for harvesting energy from respirationEnergy & Environmental Science, 2011; DOI: 10.1039/C1EE02241E
Bookmark and Share

Para Peneliti Menciptakan Model Komputer Lengkap Pertama dari sebuah Organisme



Dalam sebuah usaha terobosan biologi komputasi, model komputer lengkap pertama dunia dari sebuah organisme telah diselesaikan, lapor para peneliti Stanford minggu lalu di jurnal Cell.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Markus Covert, asisten profesor teknik biologi, memakai data dari lebih 900 makalah ilmiah untuk mempertimbangkan setiap interaksi molekuler yang terjadi dalam siklus hidup    Mycoplasma genitalium, bakteri hidup bebas terkecil di dunia.
 Dengan mengubah keseluruhan organisme   in silico, makalah ini memenuhi tujuan panjang bidang ilmu tersebut. Bukan hanya model ini memungkinkan para peneliti mengalamatkan pertanyaan yang tidak praktis untuk diperiksa dengan cara lain, ia juga menjadi batu loncatan menuju pemakaian desain berbantuan komputer dalam teknik biologi dan kedokteran.
“Pencapaian ini menunjukkan pendekatan untuk menjawab pertanyaan tentang proses biologi dasar,” kata James M Anderson, direktur   National Institutes of Health Division of Program Coordination, Planning and Strategic Initiatives. “Model komputer komprehensif dari seluruh sel berpotensi meningkatkan pemahaman kita mengenai fungsi sel dan akhirnya, memberikan pendekatan baru bagi diagnosis dan perawatan penyakit.”
 Penelitian ini didanai sebagian oleh   NIH Director’s Pioneer Award dari National Institutes of Health Common Fund.
Dari Informasi ke Pemahaman
Biologi dalam dua dekade terakhir ditandai dengan kemunculan studi terobosan tinggi yang menghasilkan banyak sekali informasi seluler. Kurangnya data eksperimental tidak lagi faktor pembatas utama bagi para peneliti. Justru, masalahnya adalah bagaimana memasuk-akalkan apa yang sudah mereka ketahui.
 Sebagian besar eksperimen biologi, walau begitu, masih menggunakan pendekatan reduksionis pada sejumlah besar data ini: membuang satu gen dan melihat apa yang terjadi.
 “Banyak isu yang menjadi minat kami bukanlah masalah gen tunggal,” kata Covert. “Mereka adalah hasil kompleks dari ratusan atau ribuan gen saling berinteraksi.”
 Situasi ini menghasilkan celah antara informasi dan pemahaman yang hanya dapat diatasi dengan “membawa semua data ke satu tempat dan melihat bagaimana ia bersatu,” menurut mahasiswa pasca sarjana teknik biologi Stanford dan salah satu pengarang, Jayodita Sanghvi.
Model komputasional integratif memperjelas data set yang ukurannya diluar kemampuan analisis manusia.
 “Engkau tidak benar-benar mengerti apakah sesuatu bekerja hingga engkau dapat mereproduksinya sendiri,” kata Sanghvi.
Kecil itu indah
Mycoplasma genitalium adalah bakteri parasit yang ramah dikenal terutama dari menunjukkan dirinya tanpa diundang di saluran pernapasan dan urogenital manusia. Namun patogen ini juga memiliki perbedaan karena mengandung genom terkecil dibanding organisme hidup bebas manapun – hanya 525 gen, bandingkan dengan E. coli yang memiliki 4,288 gen, bakteri lab yang lebih tradisional.
 Walaupun sulit bekerja dengan parasit penyebar penyakit menular seksual ini, minimalisme gen mahluk ini membuatnya menjadi fokus beberapa usaha teknik biologi terbaru. Hal ini termasuklan sintesis kromosom buatan pertama di tahun 2008 oleh J. Craig Venter Institute.
“Tujuannya bukan hanya untuk memahami M.genitalium saja,” kata peneliti Jonathan Karr, seorang mahasiswa pasca sarjana biofisika Stanford. “Tapi untuk memahami biologi secara umum.”
 Bahkan pada skala kecil ini, kuantitas data yang disertakan para peneliti Stanford pada sandi sel virtualnya sangat besar. Model finalnya menggunakan lebih dari 1900 parameter yang ditentukan secara eksperimental.
 Untuk mengintegrasi titik data terpisah ini menjadi mesin yang menyatu, para peneliti memodelkan proses biologi individual dalam 28 modul terpisah, masing-masing diatur oleh algoritmanya sendiri. Modul-modul ini kemudian berkomunikasi satu sama lain setelah setiap langkah waktu, membuat keseluruhan yang sangat mendekati perilaku dunia nyata M.genitalium.
Menjelajah sel silikon
Sel yang sepenuhnya komputasional membuka prosedur yang akan sulit dilakukan dalam organisme aktual, serta kesempatan untuk memeriksa ulang data eksperimental.
 Dalam makalah ini, model dipakai untuk menunjukkan jumlah pendekatan ini, termasuk penyelidikan detail dinamika protein pengikat DNA dan identifikasi fungsi gen baru.
 sumber berita
referensi jurnal:
Jonathan R. Karr, Jayodita C. Sanghvi, Derek N. Macklin, Miriam V. Gutschow, Jared M. Jacobs, Benjamin Bolival, Nacyra Assad-Garcia, John I. Glass, Markus W. Covert. A Whole-Cell Computational Model Predicts Phenotype from GenotypeCell, 2012; 150 (2): 389 DOI: 10.1016/j.cell.2012.05.044




Bookmark and Share

Kekuatan Komputasi Memberikan Ide Segar bagi Matematika


Dalam bukunya tahun 1989, The Emperor’s New Mind, Roger Penrose berkomentar tentang keterbatasan pengetahuan manusia dengan contoh: Ia berkonjektur kalau kita tidak akan mungkin tahu apakah string 10 angka tujuh berurutan akan muncul dalam ekspansi angka bilangan pi.

Hanya delapan tahun kemudian, Yasumasa Kanada menggunakan komputer menemukan string tersebut, dimulai dari angka ke  22869046249 pi. Penrose jelas tidak sendiri dalam ketidakmampuannya melihat kekuatan besar yang dapat dibawa komputer. Banyak fenomena matematika yang di masa lalu terlihat tak terpecahkan dan tidak dapat diketahui, sekarang dapat diketahui, dengan presisi yang tinggi.
Dalam artikelnya,  “Exploratory Experimentation and Computation,” yang tampil bulan November 2011 di  Notices of the American Mathematical Society, David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein menjelaskan bagaimana teknologi komputer modern telah memperluas kemampuan kita mengetahui hasil matematika baru. “Dengan menghitung ekspresi matematika pada presisi sangat tinggi, komputer dapat menemukan hubungan dan rumus yang sepenuhnya tak terduga,” kata Bailey.
Matematika, Ilmu tentang Pola
Mispersepsi umum adalah pekerjaan seorang matematikawan sepenuhnya adalah menghitung. Jika itu benar, komputer semestinya sudah menggantikan matematikawan sejak lama. Apa yang sesungguhnya dilkaukan matematikawan adalah menemukan dan menyelidiki pola – pola yang muncul dalam bilangan, dalam bentuk abstrak, dalam transformasi antara objek matematis berbeda, dan sebaginya. Mempelajari pola demikian membutuhkan alat yang tajam dan memuaskan, dan, hingga sekarang, komputer masih merupakan alat yang terlalu tumpul, atau tidak cukup kuat, untuk berguna banyak dalam matematika. Namun di saat yang sama, bidang matematika tumbuh dan menjadi semakin dalam sehingga sekarang beberapa pertanyaan yang muncul tampak membutuhkan kemampuan tambahan di luar otak manusia.
“Ada consensus yang mulai diterima kalau pikiran manusia pada dasarnya tidak bagus dalam matematika dan harus dilatih,” kata Bailey. “Dengan fakta ini, komputer dapat dilihat sebagai pelengkap manusia – kita dapat berintuisi namun tidak pandai menghitung atau memanipulasi; komputer tidak pandai berintuisi namun bagus  dalam menghitung dan memanipulasi.”
 Walaupun matematika disebut sebagai “ilmu deduktif”, matematikawan selalu memakai eksplorasi, apakah lewat perhitungan atau gambar, untuk menguji gagasan dan memperoleh intuisi, dengan cara yang kurang lebih sama dengan ilmu induktif melakukan eksperimen. Sekarang, aspek induktif matematika ini tumbuh lewat pemakaian komputer, yang telah meningkatkan jumlah dan tipe eksplorasi yang dapat dilakukan. Komputer tentunya digunakan untuk meringankan beban menghitung, namun ia juga dipakai untuk memvisualisasi objek matematika, menemukan hubungan baru antar objek tersebut, dan menguji (dan khususnya memfalsifikasi) konjektur. Seorang matematikawan juga memakai komputer untuk mengeksplorasi hasil untuk melihat apakah ia pantas untuk mencoba melakukan pembuktian. Jika demikian, maka kadangkala komputer dapat memberi petunjuk tentang bagaimana bukti dapat diteruskan. Bailey dan Borwien memakai istilah “matematika eksperimental” untuk menjelaskan jenis pemakaian komputer ini dalam matematika.
Mengeksplorasi Bilangan Prima dengan Komputer
Artikel mereka memberi beberapa contoh matematika eksperimental: perhitungan angka pi yang disebut di atas adalah salah satunya. Contoh lain disediakan oleh eksplorasi komputer pada masalah matematika yang disebut konjektur Giuga. Konjektur ini mengajukan kalau, untuk setiap bilangan bulat positif n, kita dapat menguji secara pasti apakah n bilangan prima atau bukan dengan menghitung jumlah pasti dimana n muncul dalam eksponen penjumlahan. Jumlah tersebut harus memiliki nilai tertentu, sebut saja S, jika dan hanya jika n adalah bilangan prima; dikatakan secara berbeda, jumlah tersebut tidak akan memiliki nilai S jika dan hanya jika n bilangan komposit. Walaupun konjektur ini dibuat tahun 1950, ia belum dapat terbukti hingga sekarang dan terlihat diluar jangkauan metode matematika konvensional.
 Walau begitu, Bailey dan Borwein, bersama dengan kolaboratornya, mampu memakai komputer untuk menunjukkan kalau setiap bilangan yang merupakan pengecualian dari konjektur Giuga harus memiliki lebih dari 3,678 faktor prima dan lebih dari 17,168 angka desimal panjangnya. Yaitu, setiap bilangan komposit yang lebih pendek tidak dapat memberikan nilai S. Ini tidak membuktikan kalau konjektur Giuga benar, namun adalah bukti yang meyakinkan dalam mendukung kebenaran konjektur tersebut. Jenis bukti empiris ini kadang yang dibutuhkan untuk memberikan keyakinan yang cukup bagi matematikawan untuk mendedikasikan energinya mencari bukti penuh. Tanpa keyakinan tersebut, inspirasi untuk mencari bukti mungkin tidak ada.
Dampak pada Pendidikan
Selain membahas pemanfaatan komputer dalam matematika, artikel ini juga menyentuh kebutuhan untuk menyusun ulang pendidikan matematika untuk memberi pelajar alat matematika eksperimental. “Pelajar masa kini hidup, seperti kita, di dalam dunia kaya informasi tapi miskin penilaian dimana ledakan informasi, dan alat, tidak akan hilang,” kata Borwein. “Jadi kita harus mengajarkan penilaian (bukan hanya masalah plagiarism( ketika memakai apa yang telah tersedia secara digital. Selain itu, tampak bagi saya penting kalau kita merancang desain software – dan gaya mengajar kita secara umum – dengan pemahaman kita yang semakin besar mengenai kekuatan dan keterbatasan kognitif kita sebagai spesies.”
Sumber berita:
Bookmark and Share

Otak Manusia dengan Ingatan Autobiografis Superior berbeda dengan Otak Manusia pada Umumnya


Para ilmuan UC Irvine menemukan perbedaan nyata pada otak dan proses mental dari kelompok manusia luar biasa yang dapat tanpa usaha mengingat setiap momen hidup mereka sejak usia 10 tahun.

Fenomena ingatan autobiografis sangat superior – pertama kali didokumentasikan tahun 2006 oleh neurobiologiwan UCI , James McGaugh, dan koleganya pada seorang wanita bernama AJ – telah diprofilkan dalam “60 Minutes” CBS dan dalam ratusan berita di media lain. Namun sebuah makalah dalam jurnal mitra bestari  Neurobiology of Learning & Memory edisi Juli menawarkan temuan ilmiah pertama mengenai hampir selusin orang dengan kemampuan mengagumkan ini.
 Semua memiliki variasi dalam Sembilan struktur otak mereka dibandingkan subjek kontrol, termasuk materi putih yang lebih padat menghubungkan bagian tengah dan depan. Sebagian besar perbedaan ada di wilayah yang diketahui terkait dengan ingatan autobiografis, “jadi kita mendapatkan kisah yang deskriptif dan koheren mengenai apa yang terjadi,” kata pengarang utama, Aurora LePort, kandidat doctor Center for the Neurobiology of Learning & Memory UCI.
Mengejutkannya, orang dengan ingatan autobiografis luar biasa tidak memberikan skor yang tinggi pada uji ingatan laboratorium biasa atau ketika diminta memakai bantuan ingatan biasa. Namun ketika peristiwa publik atau privat yang terjadi setelah usia 10,5 tahun, “mereka lebih baik dalam mengingat detail dalam hidup mereka,” kata McGaugh, pengarang senior karya ini.
 “Mereka bukan pakar ingatan. Mereka 180 derajat berbeda dari juara mengingat biasa yang dapat mengingat pi dalam angka banyak atau deretan angka lain yang sangat panjang,” kata LePort. “Ini membuat proyeknya lebih menarik lagi; ini benar-benar menunjukkan kalau kita memiliki bentuk ingatan tertentu.”
 Ia mengatakan mewawancarai subjek “memusingkan. Anda member mereka tanggal dan respon mereka seketika. Hari dalam minggu tersebut muncul dalam pikiran mereka; mereka bahkan tidak berpikir tentangnya. Mereka dapat melakukan ini pada banyak tanggal, dan mereka akurat 99 persen. Sepertinya ia tidak pernah tua.”
 Studi ini juga menemukan bukti yang signifikan secara statistic mengenai kecenderungan obsesif-kompulsif pada kelompok ini, namun para peneliti tidak tahu apakah ini membantu atau bagaimana ia membantu rekoleksi. Banyak individu ini memiliki koleksi rinci dari segala jenis barang seperti majalah, video, sepatu, perangko, atau kartu pos.
 Para peneliti dan staff UCI telah menguji lebih dari 500 orang yang mengira mereka memiliki ingatan autobiografis superior dan mengkonfirmasi 33 orang hingga sekarang, termasuk 11 orang dalam penelitian ini. 37 orang lainnya adalah kandidat kuat yang akan diuji lebih jauh.
“Langkah selanjutnya adalah kami ingin memahami mekanisme dibalik ingatan tersebut,” kata LePort. “Apakah hanya otak dan cara strukturnya berkomunikasi yang berbeda? Ataukah genetik? Atau molekuler?”
 McGaugh menambahkan: “Kami jadi Sherlock Holmes sekarang. Mencari petunjuk untuk bidang penelitian yang sangat baru.”
Sumber berita:
Referensi jurnal:
Aurora K.R. LePort, Aaron T. Mattfeld, Heather Dickinson-Anson, James H. Fallon, Craig E.L. Stark, Frithjof Kruggel, Larry Cahill, James L. McGaugh. Behavioral and neuroanatomical investigation of Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM)Neurobiology of Learning and Memory, 2012; 98 (1): 78 DOI: 10.1016/j.nlm.2012.05.002
(http://www.faktailmiah.com/)


Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG