host

Hosting Gratis

Kamis, 28 Juni 2012

Jawara Sains di Amerika Asal Bogor


Muhammad Luthfi Nurfakhri tekun menyusun komponen yang berserakan di hadapannya. Ratusan kali gagal tak menyurutkan semangatnya. Tekadnya hanya satu, bagaimana semua komponen di hadapannya terangkai menjadi alat yang bisa membantu pekerjaan para petani di sekitar rumahnya. 

"Kurang lebih 135 kali saya gagal," kata Luthfi, demikian dia akrab disapa, mengenang perjuangannya merakit perangkat bernama Digital Leaf Color Chart (DLCC). 

Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bogor ini mengatakan satu-satunya kendala yang dihadapinya hanyalah terkait dengan persoalan teknis. Dia bersyukur, masalah lain bisa diatasi berkat dukungan dari keluarga dan sekolah yang membantunya fokus menggarap penelitian. 

Berulang kali mengotak-atik DLCC menjadi pengalaman berkesan baginya. Setiap kegagalan tak mengusik semangatnya. Malah, tekad putra dari pasangan Iyus Hendrawan dan Endang Sri Rejeki ini kian membaja. 

Modal 12 juta yang dikumpulkannya dari kemenangan Lomba Karya Ilmiah Remaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, dimaksimalkan untuk menggarap proyek ini. Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengerjakannya.

"Masalahnya lebih ke sisi teknis, sensornya beda-beda. Belum lagi terbakar, jadi rusak alatnya. Saya juga harus bolak balik ke Jakarta. Beli komponennya di Glodok," ujar pemuda kalem ini seraya tersenyum. 

Juara di Amerika

Siapa sangka, perangkat inilah yang kemudian mengantarkannya mengharumkan nama Indonesia. Padahal semula, dia hanya ingin para petani di sekitar rumahnya bisa lebih efisien dalam menebar pupuk. 

"Saya lihat di lingkungan sekitar rumah saya belum maksimal produksi padinya karena penyebaran pupuknya tanpa perhitungan," ujarnya. 

Agar efektif, jumlah pupuk yang disebar harus dihitung. Memang, selama ini petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD), yaitu cara pemberian pupuk pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan BWD. 

Namun cara ini punya kelemahan yakni jika warna padi tidak sesuai, maka akan dihitung dengan rata-rata, sehingga pemupukan dapat berlebihan atau bisa kekurangan. 

Alat yang dikembangkannya, menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.

"Untuk pengukuran pemupukan satu hektar sawah, cukup ambil satu sampel daun," ujarnya sambil memamerkan alat buatannya. 

Jadi, Digital Leaf Color Chart (DLCC) adalah perangkat digital pendeteksi warna daun untuk efisiensi pemupukan. 

Sejauh ini, DLCC sudah diaplikasikan para petani di sekitar rumah Luthfi. Butuh keuletan juga memperkenalkan alat ini kepada para petani. 

"Awalnya mereka gak mau, gak percaya karena penggunaan pupuknya jadi lebih sedikit. Tapi setelah dicoba, dilihat produksi padinya malah lebih optimal," kata Luthfi berseri-seri.


Perangkat yang aplikatif

DLCC menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF), kategori teknik (elektris dan mekanik). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.600 finalis yang berasal dari 70 negara.

Karya remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini rupanya dinilai aplikatif dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. "Jadi kami yang mengikuti kompetisi ini dilihat oleh juri, apakah teknologinya bisa digunakan bagi hajat hidup orang banyak," ujar Luthfi. 

Luthfi tak lekas berpuas diri dengan apa yang baru dicapainya. Dia ingin terus mengembangkan alat ini, termasuk memperbaiki bentuknya agar lebih ramping sehingga ringan ditenteng. Dia juga ingin ada lebih banyak petani yang memanfaatkan DLCC. 

Didukung oleh LIPI, pemuda yang bercita-cita belajar ilmu komputer di luar negeri ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke luar negeri. 

"Yang paling utama saya pengen bisa mengaplikasikan teknologi di masyarakat," pungkasnya. (detik.com)
Bookmark and Share

Bantu Petani, Siswa Indonesia Juara Dunia


Siswa SMAN 1 Bogor membuat Digital Leaf Colour Chart.


Penggunaan pupuk yang tidak optimal berdampak pada produksi padi di kalangan petani. Melihat masalah ini, siswa SMAN 1 Bogor, Muhammad Luthfi Nurfakhri membuat solusi dengan Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital). Alat ini secara konseptual merevolusi metode Bagan Warna Daun (BWD) yang lazim digunakan oleh petani.

Metode bagan warna merupakan cara pemberian pupuk nitrogen pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan oleh bagan konvensional. Penggunaan BWD memiliki kelemahan karena warna tumbuhan padi kadang tidak sesuai dengan bagan warna. Akibatnya, pemberian pupuk tidak sesuai dengan prioritas seharusnya.

"Alat yang saya buat berguna untuk deteksi kebutuan pupuk tanaman padi secara objektif," ungkap Luthfi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bagan digital ini terdiri dari dua bagian utama: sensor warna daun dan rangkaian piranti elektronik. Dalam rangkaian ini terdapat IC (integrated circuit), micro controller, resistor, dan baterai 12 volt. Bagian ini membantu memproses data kebutuhan pupuk yang dibutuhkan padi.

Penggunaan perangkat ini tergolong mudah. Daun padi dimasukkan ke ujung bagian sensor. Dengan cepat, hasil pemindaian akan muncul untuk menunjukkan kebutuhan pupuk pada layar tampilan.

"Sensornya sama dengan fotodioda. Tapi, di sini sensor dua sistem. Beda dengan alat sejenis dari Amerika Serikat, klorofilmeter yang hanya ada satu sensor saja. Deteksi ini dengan dua fotodioda," jelasnya.
Luthfi menyebutkan hanya butuh sekali sensor saja pada satu sampel daun padi untuk mengetahui kebutuhan pupuk dalam satu petak. "Ya, langsung dapat diketahui kebutuhannya. Ukuran pupuknya kilogram per hektar," tambahnya.

Menurut  Luthfi, langkah ini akan membantu menetukan dosis pupuk sehingga menjadi optimal. Metode ini akan berdampak pada efektivitas produksi padi.

Hasil karya Luthfi membawanya meraih juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Acara ini diselenggarakan di Pennsylvania, Amerika Serikat. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Gagal 135 Kali, Juara Sains Dunia


Percobaannya gagal 135 kali hingga terbakar.


Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa kelas XI SMAN 1 Bogor tidak menyangka mampu menarik hati para juri di kompetisi sains internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012 yang digelar di Pensylvannia, Amerika Serikat.

Karyanya, Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital) terpilih sebagai juara ketiga dalam kompetisi tersebut. Perangkatnya sanggup  merevolusi pengukuran pupuk nitrogen yang harus diberikan ke tanaman padi. Selama ini ketidaktepatan pengukuran dapat mengakibatkan produktivitas tanaman padi berkurang.

"Teknologi yang dipilih dalam kompetisi tersebut adalah yang aplikatif ke masyarakat dan mempengaruhi masyarakat," ujar Lutfhi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bakat lutfhi dalam dunia riset tidak tumbuh dalam sekejap. Sejak di SMP, ia sudah rajin ikut kegiatan yang bersifat uji coba teknologi. "Awalnya suka ikutan praktikum, percobaan di sekolah," ujarnya.
Dari ruang laboratorium, bakatnya disalurkan dengan mengikuti kompetisi sains di sekolah. Hasilnya, dia sanggup menghasilkan gelar juara.
"Dari situ, saya semakin termotivasi ikut penelitian," sambung pemuda kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini.

Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.

Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.

Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.

"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.

Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
"Yang asyik itu jika hipotesa dapat terbukti secara benar, dan dapat menghasilkan teori baru," katanya.

Beda

Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.

Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.

"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.

Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.

"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya

Gagal dan Terbakar

Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
"Justru lebih optimal hasilnya," kata Luthfi.

Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.

"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.

Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Untuk mendatang, Luthfi akan terus mengembangkan alat ini. Ia berharap seluruh petani menggunakan alat ini.
"Bentuk lebih kecil dan enteng," sebut siswa yang mengidamkan dapat melanjutkan studi di Carnegie Mellon University, Pitsburg, Amerika Serikat.

Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Satelit Karya Indonesia Siap Deteksi Bencana


Lapan akan luncurkan dua satelit baru untuk penanggulangan bencana.


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam waktu dekat ini akan meluncurkan dua satelit baru. Keduanya berguna untuk membantu penanggulangan bencana alam di Indonesia.
Deputi Teknologi Aerospace, Soewarto Hardhienata mengatakan, dua satelit yang akan diluncurkan adalah Satelit Lapan A 2 dan Lapan A 3. Masing-masing mempunyai keunggulan dalam pengamatan jarak jauh. Satelit ini bisa memberikan peringatan dini ketika ada bencana.

"Masing-masing satelit mempunyai misi yang berbeda-beda. Selain untuk komunikasi, juga untuk membantu penanggulangan bencana alam," ungkapnya usai memberi materi terhadap peserta workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management yang bertempat di Hotel Salak, Bogor pada Selasa 26 Juni 2012.

Menurut Soewarto, kedua satelit yang akan diluncurkan ini merupakan karya bangsa Indonesia
"Oleh karena itu, kami meminta dukungan kepada masyarakat Indonesia dalam pembuatan dua satelit tersebut," ujarnya.
Lapan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Workshop ASEAN Cooperation Project on Utilization Space Based Technologies for Disaster Risk Management. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan lembaga antariksa dan manajemen bencana dari Thailand, Kamboja, Myanmar, Laos, Brunei, Vietnam, dan Indonesia. Menurut kepala Lapan, Taufik Maulana, semua berkumpul guna membahas penanganan bencana berbasis Iptek antariksa.

Berdasarkan data yang didapat Agus Wibowo selaku Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana yang sering terjadi di negara Indonesia yakni bencana hydromologi, banjir, dan puting beliung.
"Tapi, ketiga bencana itu tidak memakan korban jiwa, hanya materi saja. Sedangkan, yang memakan korban jiwa adalah tsunami dan gempa bumi," ujar Agus kepada wartawan.

Menurut Agus, wilayah Indonesia yang rawan terjadi bencana alam yakni Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Untuk tingkat Kabupaten, wilayah yang paling rawan itu Kebumen, Jawa Tengah. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Ilmuwan Temukan Cara Hidup Tanpa Bernapas



Partikel mikro bisa disuntikkan langsung ke aliran darah.


Peneliti merancang partikel mikro yang bisa disuntikkan langsung ke aliran darah. Partikel ini akan mengantar oksigen ke tubuh dengan cepat. Bahkan, ketika Anda tidak bisa bernapas lagi. 

Temuan ini menjadi terobosan medis terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Partikel ini bisa menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. 

Penemuan ini dikembangkan tim dari Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat. Partikel ini bisa membuat tim medis menjaga pasien tetap hidup dan dalam kondisi stabil selama 15 hingga 30 menit. Bahkan, ketika mengalami kegagalan pernapasan. 

Temuan ini memberikan cukup waktu bagi dokter dan personel gawat darurat. Mereka bisa mengambil tindakan tanpa menimbulkan resiko serangan jantung atau kerusakan otak permanen pada pasien. 

Solusi ini telah sukses diujikan pada binatang dalam kondisi kegagalan paru-paru kritis. Ketika dokter menyuntikkan cairan ini ke pembuluh darah pasien, partikel bisa menyimpan oksigen dalam darahnya hingga mendekati tingkat normal. Proses ini memberikan tambahan menit berharga bagi kehidupan. 

Solusi serupa telah gagal sebelumnya karena menyebabkan embolisme gas atau gelembung gas pada aliran darah. Solusi terdahulu tidak bisa memasok oksigen pada sel. Menurut Departemen Kardiologi Rumah Sakit Anak Boston, AS, dr. John Kheir, mereka berhasil mengatasi masalah ini dengan menggunakan partikel yang bisa berubah bentuk, bukan menjadi gelembung. 

"Kami telah merancang solusi masalah ini dengan memaketkan gas menjadi partikel kecil yang bisa berubah bentuk. Mereka meningkatkan pertukaran gas pada area permukaan secara dramatis. Mereka juga mampu menyusup melalui kapiler [pembuluh darah terkecil] tempat gas bebas menempel," ujar Kheir seperti dilansir dari Gizmodo. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Otak Lumba-lumba Mirip Manusia?


Lumba-lumba terlahir cerdas, bisa mengenali diri mereka di cermin.


Lumba-lumba terlahir cerdas dan memiliki kesamaan gen dan otak dengan manusia.

Studi terbaru tentang genom menunjukkan lumba-lumba berhidung botol itu menjadi mamalia laut yang memiliki kesamaan gen dengan manusia. Penemuan ini menjelaskan alasan lumba-lumba memiliki otak yang besar.
Lumba-lumba memiliki kesamaan dengan manusia dalam kecerdasan, perilaku sosial, dan komunikasi. Menurut penelitian, kesamaan ini sedekat hubungan manusia dengan monyet dan kera.

"Kami tertarik pada alasan yang membuat otak mereka besar dari perspektif molekul," ujar peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Wayne State, Michigan, Amerika Serikat, Michael McGowen.

"Kami memutuskan untuk meneliti gen dari genom lumba-lumba. Ini untuk melihat kesamaan antara gen yang telah berubah pada silsilah lumba-lumba dan perubahan pada silsilah primata," ujarnya seperti dilansir dari Daily Mail.
Lumba-lumba bisa mengenali diri mereka di cermin. Kemampuan ini normalnya terbatas pada primata seperti simpanse dan manusia.

Otak lumba-lumba, jelas Michael, melibatkan koneksi berbeda dengan primata, terutama pada neokorteks. Bagian ini menjadi pusat dari fungsi yang lebih tinggi, seperti penalaran dan kesadaran pikiran. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Temuan Peneliti Indonesia Kalahkan Alat Produksi Amerika


Muhammad Luthfi Nurfakhri, seorang pelajar Indonesia, mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Luthfi adalah iswa kelas XI jurusan IPA, SMAN 1 Bogor, Jawa Barat, yang berhasil menemukan "Digital Leaf Color Chart". Sebuah alat bersensor ganda yang digadang-gadang memiliki obyektivitas tinggi antara penggunaan pupuk dengan hasil tanaman padi.

Dari alat canggih yang ditemukannya, ia berhasil menyabet peringkat III pada Intel International Science & Engineering Fair 2012, sebuah ajang adu kemampuan para peneliti muda dari seluruh dunia yang digelar pada pertengahan Mei lalu, di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Tidak tanggung-tanggung, alat yang ia temukan mampu mengalahkan harga alat sejenis di pasaran. Dengan harga jual Rp 950.000, "Digital Leaf Color Chart" jauh lebih murah dari alat sejenis yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp 14 juta.

"Hipotesa saya membuat suatu alat dengan obyektivitas tinggi dengan harga yang lebih murah," kata Luthfi kepada Kompas.com seusai menerima beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Rabu (27/6/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia beranggapan, proses pertumbuhan tanaman padi harus diperhatikan secara baik, salah satunya pada proses pemupukan. Penelitiannya diilhami oleh petani padi di sekitar tempat tinggalnya. Selama ini, para petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD) dalam memberikan pupuk pada tanaman padinya.

Baginya, BWD memiliki kelemahan jika warna padi tidak sesuai maka akan dihitung dengan rata-rata sehingga pemupukan dapat melebihi atau kekurangan nitrogen.

Melalui alat ciptaan Luthfi yang juga dilengkapi dengan Fototransistir sebagai pendeteksi warna daun padi, maka perhitungan pemberian nitrogen pada padi dapat lebih optimal dan ditunjukkan secara digital melalui LCD.

"Singkatnya, alat saya ini berguna untuk mendeteksi kebutuhan pupuk pada tanaman padi. Lalu bisa menentukan dosis yang paling optimal sehingga produksi padi bisa efektif," ujarnya.

Layaknya sebuah temuan, pasti akan melalui proses penelitian, uji coba, dan gagal, sebelum akhirnya berhasil menjadi temuan yang dapat digunakan serta memberikan manfaat. Untuk menciptakan alat ini, Luthfi memerlukan waktu sekitar satu tahun dengan uji coba dan kegagalan sebanyak 135 kali.

Tak hanya itu, ia pun rela merogoh kocek sampai Rp 12 juta yang berasal dari kantong pribadi dan dukungan sekolahnya. Saat penggarapan, ia juga banyak berdiskusi dengan peneliti-peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggal dan sekolahnya.

"Secara kualitas alat saya siap diadu dengan alat sejenis. Karena milik Amerika hanya menggunakan satu sensor dan dijual dengan harga jauh lebih mahal," tuturnya.

Putra seorang dosen Kewirausahaan di Institut Teknologi Indonesia (ITI) ini memang hobi melakukan penelitian sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Hingga saat ini ia berhasil membuat 11 alat dari hasil penelitiannya. Ia berharap penemuan-penemuannya, khususnya "Digital Leaf Color Chat", dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani di seluruh dunia.

"Saya uji coba ke petani di sekitar tempat saya tinggal. Awalnya enggak mau, tapi setelah tahu hasilnya, mereka mau," pungkasnya.

Atas prestasinya, ia berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 1.000 dollar AS dan piagam penghargaan dari militer Amerika Serikat. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga memberikan beasiswa unggulan untuk melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi. Ia berharap dapat mengecap bangku perkuliahan di luar negeri dan kembali mengharumkan nama bangsa serta membawa manfaat untuk Indonesia.(kompas.com)

Bookmark and Share

Konsumsi Makanan Ini saat Sakit Tenggorokan

HeadlineAnda mungkin sering merasakan tenggorokan sakit pada saat menelan, atau tenggorokan terasa gatal dan serak. Bisa jadi hal itu merupakan gejala radang tenggorokan.





Nah, untuk mempercepat proses penyembuhan, sebenarnya ada beberapa jenis makanan yang bisa membantu. Apa saja?

Oatmeal

Oatmeal merupakan makanan tinggi serat larut, berperan membantu dalam menurunkan kadar kolesterol LDL. Oat juga tinggi kandungan protein yang membuat Anda selalu merasa kenyang dan puas untuk jangka waktu lebih lama.

Jahe

Secangkir teh panas dari jahe atau madu bisa menjadi pilihan tepat untuk menenangkan tenggorokan yang teriritasi dan gatal. Madu akan melapisi tenggorokan dan membantu mencegah iritasi, yang merupakan alasan utama di balik munculnya batuk.

Putih telur

Tidak banyak yang tahu bahwa putih telur dapat membantu menangani peradangan dan rasa sakit di tenggorokan. Namun pastikan Anda tidak mencampur putih telur dengan bumbu karena hal ini mungkin dapat memperburuk rasa sakit.

Air garam hangat

Jika tenggorokan sudah mulai sakit dan gatal, maka saatnya berkumur dengan air garam hangat. Larutan satu sendok teh garam plus 1/2 liter air hangat. Ini bisa membunuh bakteri dalam tenggorokan sekaligus meningkatkan sirkulasi darah yang membawa sel pembasmi infeksi ke kerongkongan untuk mempercepat penyembuhan.

"Saran lain, jangan gunakan air panas agar tenggorokan tak terbakar," ujar Tim Tucker selaku ahli farmasi dari Huntingdon, Tennessee.

Teh herbal

Saat kesakitan berlangsung sepanjang hari, saatnya menenggak teh herbal yang mengandung penggerak imun, seperti echinacea atau licorice selaku antiviral dan antibakterial.

Sup ayam

Beberapa orang percaya bahwa sop ayam dapat memerangi sakit tenggorokan. Bahkan semangkuk sop ayam hangat dapat pula berperan sebagai antibiotik karena memiliki sifat anti-inflamasi dan membantu mengurangi kemampetan dengan membatasi virus yang datang dalam kontak dengan membran lendir.

Lada

Rasa pedasnya akan mengurangi aktivitas otak ketika menerima rasa sakit dari pusat sistem saraf. Lada juga bisa menyembuhkan sinuistis serta mengencerkan sumbat pada tenggorokan. (inilah.com)
Bookmark and Share

Anak 5 Tahun Anda Masih Mengompol?

Headline
Anak Anda yang berumur lima tahun masih suka mengompol? Ini salah satu yang juga membuat ibu rumah tangga menjadi stres dan bingung menghadapinya.
Masalah mengompol terkadang membuat para ibu malu, meskipun sebenarnya fakta itu sangat umum. American Academy of Pediatrics menemukan masih umum anak yang hingga usia lima tahun masih mengompol.
Untuk membantu Anda memahami mengapa, berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan orang tua tentang mengapa anak-anak mereka masih suka mengompol.
Mengapa anak saya masih mengompol?
Yang harus dipastikan terlebih dahulu, apakah anak Anda secara konsisten basah atau hampir tidak pernah kering, atau mengompol lalu kering dan mengompol lagi? Karena itu adalah dua hal sangat berbeda.
Jika terus-menerus basah atau mengompol, masalah yang dikenal sebagai ngompol primer (istilah medis, enuresis primer). Tapi jika masih ada jeda kering, itu disebut "sekunder" mengompol atau enuresis.
Pemicunya bisa karena stres psikologis atau trauma. Itu ditemukan dalam 10% kasus.
Apa yang menyebabkan anak menjadi pengompol?
Mengompol dengan tipe primer biasanya lebih umum terjadi. Ada kemungkinan bahwa anak-anak yang mengompol karena faktor keturunan atau genetik. Ada juga kemungkinan satu atau kedua orang tua mereka mengompol ketika kecil.
Teori yang paling populer adalah karena memiliki sedikit keterlambatan dalam pematangan sistem saraf mereka. Bila kandung kemih penuh, otak tidur harus mengirim pesan ke kandung kemih untuk tidak buang air kecil. Jika sistem saraf anak Anda adalah sedikit terbelakang, pesan tidak mungkin melewati.
Teori lain adalah bahwa anak-anak yang bedwetters adalah tidur sangat nyenyak. Sehingga otak mereka tidak memberi tahu ketika kandung kemih penuh dan harus dikeluarkan dengan sadar.
Para ahli juga menemukan, bahwa urin memang jauh lebih banyak ketika malam hari ketimbang siang hari. Sehingga kandung kemih mereka tidak bisa menahan semuanya atau lainnya adalah bahwa kandung kemih mereka memiliki kapasitas lebih kecil ketimbang tidak pernah mengompol yang memiliki ukuran lebih besar.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Langkah pertama adalah membicarakannya dengan dokter anak Anda. Ini yang sering tidak dilakukan dengan alasan malu.
Tapi itu penting untuk dilakukan untuk menentukan langkah pertama secara medis atau psikologis.(inilah.com)
Bookmark and Share

Gawat! Bedak Tabur Bayi Ternyata Berbahaya


HeadlineBedak bayi tidak hanya membuat badan si kecil menjadi berbau wangi melainkan juga akan mendatangkan petaka jika digunakan berlebihan.


Sebuah penelitian menyebutkan bahwa penggunaan bedak tabur secara berlebihan akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bayi. Benarkah?

Bedak merupakan bubuk higroskopis yang berbentuk sangat halus dan berguna khususnya untuk mengurangi gesekan pada kulit. Sifatnya yang higroskopis, membuat bedak mudah menyerap dan mengeringkan kulit. Bedak juga bersifat sebagai penutup, pelindung, dan pendingin.

Oleh sebab itu bedak cocok digunakan di daerah intertriginosa yang relatif lebih lembab dibanding dengan kulit bagian tubuh lainnya, dan cenderung lebih mudah mengalami iritasi akibat gesekan antara dua permukaan kulit.

Belakangan timbul suatu perbedaan pendapat tentang aman tidaknya penggunaan bedak pada bayi. Kebanyakan produk bedak bayi menonjolkan talc sebagai bahan dasarnya. Talcadalah semacam batuan mineral yang telah melalui proses penambangan dan penggilingan hingga menjadi butiran-butiran halus.

Melalui proses tersebut, beberapa partikel mineral memang berhasil disingkirkan, namun beberapa partikel mineral yang serupa dengan asbes tetap tertinggal. Partikel-partikel inilah yang membuat talc menjadi berbahaya.

Jika seseorang (apalagi bayi) sering menghirupnya, maka partikel-partikel yang sangat kecil ini bisa tertinggal di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan, pneumonia, bahkan bisa saja kematian. Namun korelasi antara talc dan kanker paru-paru hingga kini masih belum dapat dipastikan.

Nah, berikut beberapa alasan mengapa bedak talc dianggap berbahaya bagi bayi:

1. Bedak talc terbuat dari berbagai kombinasi bahan seperti zinc stearate, magnesium silicates, dan sebagainya. Meski tergolong aman bagi kulit, namun bahan-bahan tersebut berukuran sangat kecil sehingga mudah terbawa udara seperti debu yang bisa masuk ke dalam paru-paru anak Anda yang nantinya bisa berakibat fatal bagi paru-paru mereka serta bisa menyebabkan bayi anda terserang pneumonia atau bahkan kanker paru-paru.

2. Beberapa kasus menyebutkan bahaya menghirup bedak talc bagi bayi Anda, bahkan beberapa diantaranya menyebabkan kematian. Meski demikian Anda tak perlu terlalu khawatir jika anak anda kerap menumpahkan bedak talc selama bedak tersebut tidak terhirup olehnya.

Para ahli kulit membuktikan bahwa jika dibandingkan pemakaian bedak talc dengan krim ataulotion kulit untuk bayi, maka krim atau lotion kulit lebih ampuh untuk mencegah dan mengobati ruam popok dibanding bedak.

Berdasarkan sejumlah akibat negatif itulah, American Academy of Pediatrics melarang penggunaan bedak berbahan dasar talc pada bayi. Ditambah lagi, belakangan ini muncul isu baru yang menyebut-nyebut penggunaan bedak berbahan dasar talc pada daerah kemaluan bayi perempuan dapat menyebabkan kanker ovarium.
Hingga saat ini, isu tersebut masih dalam proses penelitian untuk dibuktikan kebenarannya. (inilah.com)
Bookmark and Share

Kesepian Pengaruhi Kualitas Kesehatan dan Umur


Hidup sendiri dan merasa kesepian berdampak pada penurunan kesehatan tubuh. Ini temuan dari dua penelitian terbaru.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Archives of Internal Medicine dan dilansir dari webMD menyebutkan bahwa gagasan hidup sendiri jauh dari teman maupun keluarga, nyatanya sangat mempengaruhi kualitas dan umur kehidupan seseorang.
Studi pertama yang melibatkan 45.000 orang dewasa berusia 45 atau lebih, ditemukan sekitar 19% di antaranya ternyata hidup sebatang kara dan mereka mengidap penyakit jantung. Kemungkinan mereka meninggal dunia dalam empat tahun lebih cepat ketimbang seseorang yang hidup ditemani orang lain.
Risiko kematian terhadap orang yang berusia 45-65 dan tinggal sendirian adalah 24% lebih mungkin meninggal dunia selama penelitian dibandingkan kelompok usia yang sama namun tinggal bersama pasangan atau teman.
"Ini seperti harus mengirim bendera merah kecil bahwa pasien ini membutuhkan perhatian lebih," kata peneliti Deepak L. Bhatt, MD, MPH, seorang ahli jantung di Rumah Sakit Brigham & Woman di Boston, yang juga seorang profesor di Harvard Medical School.
"Mungkin kita perlu sedikit lebih berhati-hati bahwa pasien ini benar-benar pergi untuk menebus resep mereka, atau sampai ke pemeriksaan teratur atau mampu membeli dan makan makanan sehat,” sambungnya.
Hubungan Kesepian dengan kesehatan
Sementara dalam studi kedua yang dilakukan Perissinotto dan timnya diikuti lebih dari 1.600 manula berusia lebih dari 60 tahun selama enam tahun (2002-2008). Mereka ditanyai apakah mereka merasa ditinggalkan, terisolasi, atau tidak terlibat dengan hubungan persahabatan.
Jawabannya, 43% mengaku mereka merasa kesepian.
Mereka yanng mengaku kesepian, 45% lebih mungkin meninggal dunia selama penelitian dibandingkan mereka yang tidak merasa terisolasi. Hampir 23% di antaranya meninggal dunia, dibandingkan dengan 14% orang yang mengatakan mereka tidak merasa kesepian.
Penelitian menemukan, kesepian erat kaitannya bahwa seseorang akan mengalami kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, naik tangga, makan, mandi dan lainnya. Perissinotto mengaku sangat terkejut bahwa kesepian sangat memberi dampak besar.
"Menemukan asosiasi itu sedikit menyedihkan," katanya.
"Saya punya pasien yang sudah kehilangan berat badan. Dia memiliki sumber daya, tetapi dia tidak menikmati makan lagi karena tidak ada pengalaman sosial. Dia mengatakannya langsung, "Aku kesepian,” sambungnya.
Tidak hanya sekadar bahwa dia masih bisa mendapatkan makan, namun kata Perissinotto, yang terpenting lainnya apakah ada seseorang yang menemani makan dan mengajaknya mengobrol.
Tapi kesepian tidak selalu menyebabkan masalah penurunan kesehatan. Masalah fisik pun juga bisa mengakibatkan kesepian.
Perissinotto mengungkapkan, dia memiliki pasien yang mentalnya normal, namun memiliki kesulitan fisik sehingga membuatnya susah menuruni atau menaiki tangga gedung apartemen. Jadi dia jarang keluar dari rumahnya untuk bersosialisasi.
Bantuan untuk orang kesepian
Kesepian bisa berdampak merugikan kesehatan. Seperti cenderung tidak tidur dengan baik, cemas dan stres, memiliki tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Mereka lebih mungkin mengalami penurunan dalam berpikir dan memori.
"Tidak peduli Anda seorang pria atau wanita dan dari negara mana, yang penting untuk dikelilingi oleh orang yang secara emosional mendukung Anda," kata Suzanne Steinbaum, MD, seorang ahli jantung preventif di Lenox Hill Hospital di New York.
Kesepian dapat menjadi masalah yang sulit diatasasi, namun tetap bisa dilakukan. Misalnya pasien serangan jantung yang tinggal dalam pusat rehabilitasi, bukan hanya karena latihan, tetapi juga karena mereka dikelilingi orang-orang yang juga memiliki pengalaman sama.
"Semua orang membutuhkan sistem pendukung," kata Suzanne Steinbaum, MD, seorang ahli jantung preventif di Lenox Hill Hospital di New York.
Bahkan bila tidak ada seseorang lain yang bisa menemani, penelitian menunjukkan bahwa memiliki binatang peliharaan juga dapat bermanfaat yang sama. (inilah.com)
Bookmark and Share

Rakyat AS Khawatir dengan China


Dua per tiga rakyat Amerika Serikat (AS) saat ini melihat China sebagai potensi ancaman militer serius bagi negara mereka. Sementara warga China meyakini bahwa negaranya ditakdirkan untuk menjadi Negara Adidaya.

Hampir enam dari 10 dari warga China mengira bahwa AS terus berusaha keras untuk men­cegah China meraih status Ne­gara Adidaya. Tetapi banyak juga yang menyebutkan, Pemerintah China salah dalam menjaga hu­bu­ngan dengan AS.

Hasil poling yang dilakukan oleh Comittee of 100, sebuah kelompok LSM China-Amerika yang mempromosikan pertu­ka­ran budaya- menunjukan per­sepsi publik AS dan China antara satu dengan lainnya. Survei ini dilakukan pada Desember 2011 dan Januari tahun ini, dengan mewawancara 4.153 warga China dan 1.400 warga AS.

Poling itu menemukan 55 persen warga AS amat berminat dengan China, sementara 59 persen publik China memiliki pemikiran yang sama tentang Negeri Paman Sam. ”Kedua war­ga dari negara ini saling me­nyu­kai satu sama lain,” ujar anggota Committee 100 Charlie Woo, seperti dikutip dari okezone.com Rabu (27/6).

Dalam survey yang dilakukan oleh Gallup-Daily China USA menunjukkan 42 persen warga AS menyukai pandangan China, ternyata 44 persen lainnya tidak me­nyukainya. Sementara de­la­pan dari 10 warga AS berpikir hubungan dekat China memang baik, namun enam dari 10 warga AS juga memandangnya sebagai hal yang buruk.

Ketika Gallup mengeluar­kan pertanyaan siapa musuh utama AS pada Februari lalu, China berada di posisi kedua di bawah Iran. Warga AS me­rasa khawatir akan kekuatan China. Mereka menilai China lebih kuat dari musuh-musuh AS lainnya, se­per­ti Korea Uta­ra, Afghanistan, Irak dan Iran.

Woo pun mengakui antara China dan AS memang kurang saling mempercayai. Survei dari komite ini juga menunjukkan urutan negara yang dianggap penting bagi AS. (*) (padangekspres.co.id)
Bookmark and Share

Sikapi Perubahan Iklim dengan Tanam Terpadu

Dari hasil riset yang dilakukan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian menunjukkan kawasan pertanian di pantura Jawa telah tercemar pestisida. 

Penggunaan pestisida untuk tanaman padi di wilayah Jawa melebihi dosis yang ditentukan. Residu yang bersumber dari bahan berbahaya itu telah mencemari produksi beras, telor ayam kampung, susu sapi, daging kambing, wortel, kembang kol, kubis, kedelai, air persawahan, tanah dan ikan. 

"Hampir seluruh areal persawahan di Jawa telah tercemar pestisida. Peringkat tertinggi di Jawa Tengah kemudian disusul Jawa Barat, kemudian Jawa Timur," terang Asep Nugraha Ardiwinata, peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian dalam seminar nasional bertemaKebijakan pemulihan kualitas lingkungan hidup pada era reformasi dan otonomi daerah di Jakarta, Kamis (28/6). 

Cilacap merupakan kabupaten dengan pemeringkatan tertinggi terkena residu pestisida, disusul Brebes, Rembang dan Pati. Sedangkan di Jawa Barat tertinggi di Cirebon, disusul Indramayu, Kuningan dan Majalengka. 

Sementara daerah-daerah lain juga sudah tercemar dengan tingkatan berbeda. 

Penyebab pencemaran itu lantaran petani tidak menggunakan pestisida tepat guna. "Ukurannya tidak sesuai, bahkan ada pestisida palsu beredar di pasaran. Bahkan petani suka mengoplos 8 zat kimia berbahaya untuk membuat pestisida," terang Asep. 

Kemudian dari penelitian Asep, pestisida untuk tanaman padi seharusnya diberikan 2-3 kali per minggu, ternyata di lapangan petani memberikannya sebanyak 4 hingga 7 kali dalam seminggu. Sedangkan untuk sayuran, dari ukuran 4 hingga 5 kali, ternyata di lapangan yang diberikan sebanyak 7 hingga 12 kali seminggu. 

Para petani juga tidak menggunakan sarung tangan dan masker saat membuat dan menyemprotkan pestisida. "Mereka langsung memakai tangan. Bahkan saat membeli zat berbahaya itu diicipi. Alasannya kalau getir khasiatnya besar. Apalagi kalau ada botol bergambar tengkorak disangkanya paling ampuh. Padahal itu artinya berbahaya," jelasnya. 

Kemudian cara menyemprotkannya hantya 40% ke tanaman, sisanya menetes ke tanah. Akibatnya banyak mikroorganisme mati akibat keracunan pestisida. Tanah menjadi tidak subur dan akhirnya menjadi tanah mati. Apalagi residu itu tahan sampai 30-50 tahun. 

"Sebenarnya petani sudah bisa menandai bahwa padinya tercemar residu terlihat pada malam hari tidak ada suara kodok, tidak ada kunang-kunang, suara jangkrik, ular sawah. Intinya sunyi. Itu sudah pasti tanahnya tercemar." 

Sedangkan dari segi kesehatan, pestisida menyebabkan perempuan sulit memiliki anak, parkinson, tremor atau gangguan saraf. (OL-11) (mediaindonesia.com)
Bookmark and Share

Lingkaran Misterius Serupa "Crop Circle" Ada di Namibia


Fenomena lingkaran misterius atau crop circle dijumpai di berbagai belahan dunia. Lingkaran misterius tersebut juga dijumpai di padang rumput Namibia. Sama seperti di Indonesia dan bagian dunia lainnya, penyebabnya hingga kini belum diketahui.
Lingkaran tersebut tampak sebagai area kecil tanah yang gundul, dikelilingi oleh rerumputan di pinggirnya, dan di tengah padang rumput yang luas. Rumput yang mengelilingi lingkaran itu tampak tegak, seperti menegaskan bahwa bagian tersebut menjadi pembatas lingkaran. 
Walter Tschinkel, biolog dari Florida State University, AS, tertarik mempelajari fenomena tersebut. Ia pergi ke Gurun Namib di Namibia untuk meneliti dan memanfaatkan data satelit untuk menganalisis. Hasil risetnya dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, Rabu (27/6/2012).

Beberapa hal terkuak dari hasil penelitian Tschinkel. Di antaranya, usia lingkaran gaib itu bervariasi. Lingkaran yang kecil bisa berusia 24 tahun, sementara lingkaran yang lebih besar bisa mencapai umur 75 tahun.

Tschinkel juga menemukan bahwa lingkaran itu memiliki siklus. Dengan membandingkan data satelit tahun 2004 dan 2008, ia menemukan bahwa lingkaran itu cukup stabil. Lingkaran muncul, berkembang lebih besar, dan akhirnya hilang hanya meninggalkan sedikit jejak.

Lingkaran misterius tersebut bisa berdiameter mulai dari 2 meter hingga 12 meter. Sementara itu, berdasarkan perkiraan umur mulai lingkaran terbentuk hingga menghilang (revegetasi) bisa mencapai 60 tahun.

Meski beberapa hal berhasil dijelaskan, asal-usul lingkaran misterius itu belum bisa diketahui. Tschinkel memperkirakan bahwa lingkaran itu adalah produk dari organisasi yang dilakukan tumbuhan untuk mengatur dirinya.

"Ada model matematika yang didasarkan pada ide bahwa tumbuhan bisa menarik nutrisi terhadap dirinya, yang akan berpengaruh positif pada pertumbuhannya dan berefek negatif pada tumbuhan yang jaraknya lebih jauh," papar Tschinkel seperti dikutip Livescience, Kamis (28/6/2012).

Namun tetap saja, perkiraan tersebut belum bisa menjelaskan secara detail, bagaimana sebenarnya lingkaran misterius itu terbentuk. Saat ini belum ada dana penelitian untuk menyelidiki hal itu. Jadi, tampaknya lingkaran tersebut masih akan menjadi enigma.

Tschinkel tetap menganggap bahwa fenomena ini layak dipelajari. Tschinkel sama sekali tak menyebut atau menduga bahwa lingkaran ini berkaitan dengan alien. "Ini sains, kan? Kalau Anda mengetahui jawabannya, itu akan jauh lebih menyenangkan," katanya.(kompas.com)
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG