host

Hosting Gratis

Rabu, 18 Juli 2012

Tanaman Paling Rakus di Dunia

Apakah tanaman paling rakus di dunia? Jawabannya adalah Nephentes sp. atau yang lebih dikenal dengan nama kantung semar, tanaman yang pastinya sudah akrab di telinga Anda. Tanaman itu bisa memakan 6.000 rayap setiap harinya untuk mendapatkan nutrisi.

Hah, memakan rayap? Yup, tanaman kantung semar adalah jenis tanaman karnivor, suatu jenis tanaman yang tidak hanya menyerap nutrisi dari tanah, tetapi juga mendapatkannya dari hewan, terutama serangga. Salah satu jenis serangga yang dimanfaatkan tanaman karnivor, terutama kantung semar, adalah rayap. Bukan cuma lalat seperti sering dijadikan contoh.

Kantung semar memiliki bentuk seperti piala dengan lubang di tengahnya. Bagian bibir dari piala tersebut mengandung nektar yang berfungsi sebagai jebakan bagi serangga. Sementara bagian dalam dari piala memiliki permukaan licin, membuat serangga bisa dengan mudah terperosok ke dalam piala.

Di alam bebas, strategi kantung semar agar bisa mendapat makanan ini bekerja dengan baik. Setiap harinya, ribuan serangga berduyun-duyun mendatangi kantung semar. Mereka memadati bagian bibir piala untuk bisa memakan nektarnya dan di tengah kepadatan itu, beberapa rayap yang bernasib sial terpaksa harus jatuh ke bagian dalam piala.

Jika sudah terjatuh, maka tamat sudah. Piala kantung semar akan mengatup, tak memungkinkan serangga untuk melarikan diri. Rayap-rayap itu harus merelakan dirinya menjadi santapan bagi kantung semar. Kantung semar akan menyerap nitrogen pada rayap, kemudian menggunakannya sebagai nutrisi.

Bagaimana ya harus menyaksikan proses kantung semar menjebak dan memakan rayap? Datang saja ke Science Film Festival dan lihatlah film yang berjudul Intelligent Plant. Film ini akan diputar di Blitz Megaplex Pacific Place pada hari Minggu (21/11/2010) pukul 11.00 dan Sabtu (27/11/2010) pukul 13.00. 

Film ini juga bisa ditonton di PPIPTEK TMII Hari Minggu (21/11/2010) pukul 12.00, hari Sabtu (27/11/2010) pukul 12.00, dan hari Selasa (30/11/2010) pukul 12.00. Film juga akan diputar di kampus Universitas Paramadiana Mampang pada hari Minggu (21/11/2010) pukul 12.00, Sabtu (27/11/2010) pukul 12.30, dan Selasa (30/11/2010) pukul 12.00.

Kesempatan menonton film bisa didapatkan gratis dengan menelepon Goethe Institute di nomor 0858-9057-9010 atau 021-23550208 ext 131. Pemesanan juga bisa dilakukan dengan mengirim e-mail ke sff@jakarta.goethe.org. Begitu Anda memesan, nama Anda akan tercatat di daftar penonton sehingga Anda tak memerlukan tiket fisik.

Pemesanan juga hanya bisa dilakukan lewat telepon atau e-mail, tidak bisa langsung memesan di tempat. Ketika Anda memesan, Anda tinggal menyebutkan judul film dan tempat menonton yang diinginkan. Bagian pemesanan akan memberitahukan pada Anda jika tempat duduk sudah habis sehingga Anda bisa merencanakan kesempatan lain untuk menonton. 

Di film Intelligent Plants, Anda juga akan mendapatkan banyak sekali informasi tentang tanaman. Misalnya, tanaman putri malu yang ternyata bisa dibius, tanaman tali sepatu penyihir yang menjadi parasit pintar juga tanaman yang durinya dijadikan rumah bagi para serangga untuk membesarkan anakannya. (kompas.com)
Bookmark and Share

Selera Lebah Menentukan Warna Bunga


Selera lebah menentukan warna bunga. Demikian hasil penelitian tim ilmuwan dari Monash University, Australia yang dipublikasikan di jurnal Proceeding of the Royal Society B, Rabu (6/6/2012).
Peneliti mengungkapkan, lebah memiliki penglihatan trikromatik berbasis fotoreseptor sinar ultraviolet, biru dan hijau. Pengelihatan lebah berbeda dengan manusia. Namun, lebah di seluruh dunia memiliki pengelihatan yang sama.
Studi sebelumnya di wilayah Amerika Utara menunjukkan bahwa warna bunga yang berkembang ditentukan oleh pengelihatan dan selera lebah. Lewat penelitian ini, peneliti di berupaya melihat kaitan dua hal tersebut di wilayah Australia.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Adrian Dyer dari Deprtemen Fisiologi Monash University mengoleksi 111 spesies bunga asli Australia kemudian menganalisis warnanya dengan spektrometer. Mereka mencocokkan warna dengan pengelihatan lebah.
"Riset kami menunjukkan bahwa faktor umum (yang menentukan warna bunga) adalah kemampuan lebah membedakan warna. Tanaman berbunga mengembangkan warna mahkota bunga yang menarik lebah," ungkap Dyer.
Tanaman berbunga mengembangkan warna mahkota yang bisa dilihat lebah dan menarik bagi lebah. Tujuannya, agar lebih banyak lebah datang membantu proses penyerbukan. Lebah adalah penyerbuk utama sehingga tanaman berbunga lebih menuruti selera lebah daripada kupu-kupu atau burung.
Studi di Australia dimungkinkan sebab benua tersebut telah lama terisolasi. Australia memisah dari benua lainnya sejak 34 juta tahun lalu. Bunga yang saat itu berwarna lembut hingga hampir tidak berwarna kini menjadi warna-warni. Ini menjadi contoh bagus dalam kajian evolusi.
"Isolasi jangka panjang Australia berarti bahwa spesies tumbuhan berbunga di sini dan Eropa berevolusi secara independen untuk memiliki warna mahkota bunga yang sama," urai Dyer seperti dikutip Physorg. (kompas.com)
Bookmark and Share

Hah, Mobil Berbahan Baku Nanas?


Bagaimana jika sebuah mobil terbuat dari nanas? Wah, pasti seru naik mobil ini. Para ilmuwan yakin, serat tanaman seperti nanas dan pisang bisa dipakai sebagai bahan baku body mobil. Kata mereka, dalam 2 tahun ke depan mobil berbahan serat tanaman buah itu bisa terwujud.
Imagi pembuatan mobil berbahan serat tanaman buah ini adalah contoh inovasi teknologi nano. Jadi, serat tanaman ini dimanfaatkan sebagai campuran untuk memperkaya bahan plastik. Ilmuwan mengatakan, bahan plastik yang telah diperkaya dengan serat tanaman akan menjadi bahan yang super kuat.
Dr Alcides Leao dari Sao Paulo University, pengembang bahan ini, mengatakan pada American Chemical Society di Anaheim, California, "Karakteristik dari plastik (yang telah diperkaya serat tanaman) ini luar biasa. Bahannya ringan tapi sangat kuat. 30 persen lebih ringan dan 3 hingga 4 kali lebih kuat dari plastik biasa."
"Kami percaya, beberapa bagian mobil seperti dashboard, bemper dan panel samping, akan terbuat dari serat nano buah ini. Satu hal, bahan ini akan mengurangi berat mobil dan meningkatkan efisiensi bahan bakar," lanjut Leao seperti dikutip Daily Mail 28 Maret 2011.
Serat tanaman yang dipergunakan dalam proses ini adalah serat nano yang 50.000 unitnya saja hanya berdiameter sehelai rambut. Serat ini diperoleh dengan proses yang lebih kompleks dari serat tanaman biasa yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas selama berabad-abad.  
Dr Leao telah meneliti beragam serat tanaman untuk membuat material plastik yang lebih kuat, ringan dan ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitiannya, bahan baku paling potensial sebagai pengaya plastik adalah daun dan batang nanas serta curaura, sejenis nanas yang tumbuh di Amerika Selatan.
Leao mengakui bahwa proses membuat material ini sangat mahal. Namun sebenarnya hanya dibutuhkan serat dalam jumlah sedikit saja untuk memperkaya plastik. Ia juga mengatakan bahwa ke depannya, material ini bahkan bisa dipakai untuk bahan baku spare part mobil lain.
"Sejauh ini, kita masih fokus dalam upaya menggantikan material mobil berbahan plastik. Tapi di masa depan kita mungkin bisa menggantikan spare part berbahan logam dengan serat nano ini," paparnya.  Menurutnya, bahan ini bahkan bisa dipakai untuk aplikasi medis, seperti digunakan sebagai pembuat sendi artifisial.
Selain nanas, bahan baku lain yang bisa dimanfaatkan untuk membuat serat nano ini adalah serat pisang dan serat batok kelapa. Selain jadi lebih ringan dan kuat, dengan serat tanaman ini plastik akan lebih tahan panas dan bahan bakar yang tumpah. (kompas.com)
Bookmark and Share

Jubah Tembus Pandang


Jubah tembus pandang, seperti yang dipakai Harry Potter, sebentar lagi jadi kenyataan. Jubah baru ini bisa membuat objek yang ditutupinya tak terlihat oleh mata.
Jubah dibuat dari dua potong kristal kalsit, mineral berwarna putih atau tak berwarna yang biasa terdapat dalam batu gamping. Kedua potong kristal tersebut ditempel dengan aturan tertentu.
Kalsit sangat bersifat anisotropik, sifat yang membuat cahaya yang datang akan diteruskan ke sudut yang berbeda dari cahaya yang masuk dari sisi lain. Dengan menggunakan dua kalsit, para peneliti dapat membelokkan cahaya di sekitar objek padat yang diletakkan di antara kristal.
Di dalam kedua kristal kasit itu ada celah berbentuk segitiga siku-siku. "Apa pun yang Anda letakkan di bawah celah ini tak akan tampak dari luar," kata George Barbastathis dari MIT.
Jubah buatan Massachusetts Institute of Technology dan SMART Centre dari Singapura ini tidak seperti jubah-jubah serupa yang pernah dikembangkan. Jubah-jubah lama hanya dapat membuat benda-benda menghilang di bawah sinar dengan panjang gelombang yang tak tampak oleh manusia.
Jubah lain hanya dapat menghilangkan benda-benda mikroskopis. Jubah baru ini dapat bekerja dengan cahaya yang terlihat oleh mata manusia dan dapat menyembunyikan objek yang cukup besar.
Jubah tembus pandang ini masih punya kekurangan. Salah satu contohnya adalah hanya bekerja maksimal di bawah cahaya hijau. Para peneliti sengaja mendesain dengan warna hijau karena, selain kalsit hanya bisa dikonfigurasi pada gelombang cahaya tertentu saja, mata manusia sangat sensitif terhadap warna hijau. Demikian jelas Barbastathis.
Selain itu, efek menghilang ini hanya tampak jelas dari sudut tertentu. Jika dilihat dari sudut berbeda, objek akan tampak kembali.
Meskipun demikian Barbastathis merasa percaya diri kalau timnya atau peneliti lain akan membuat jubah yang lebih baik dalam waktu dekat.
Ia juga yakin kalau jubah seperti ini akan punya penggunaan. "Di Boston ada banyak persimpangan jalan dengan sudut yang tajam. Saat melihat lampu lalu lintas, mungkin Anda akan bingung apakah lampu itu untuk jalan Anda atau jalan lain. Dengan jubah ini, kita bisa sembunyikan lampu lalu lintas yang lain sehingga pengendara tidak bingung," jelas Barbastathis. (kompas.com)
Bookmark and Share

Orang Ini Mau Tanam Kamera di Kepala

Seorang asisten profesor dari Tisch School of the Arts, New York University, Wafaa Bilal, berniat untuk memasang kamera dengan jalan operasi di bagian belakang kepalanya selama setahun. Berita tersebut dimuat dalam Wall street Journal yang terbit baru-baru ini. 

Pemasangan kamera ini berkaitan dengan proyek seni kontroversial Bilal yang bertajuk 3rd I. Selama satu tahun, kamera tersebut akan mengambil gambar setiap satu menit dan akan mengirimnya secara wireless ke Mathab, Museum Seni Arab Modern di Qatar. Selanjutnya, foto-foto itu akan dipajang di monitor. 

Proyek 3rdI yang akan diluncurkan tanggal 15 Desember 2010 ini menimbulkan perdebatan di kalangan dosen New York University. Pasalnya, Bilal tercatat sebagai asisten profesor yang masih aktif mengajar tiga mata kuliah pada semester ini. Keberadaan kamera di bagian kepala Bilal nantinya tidak hanya akan memotret aktivitas dirinya saja, tetapi juga orang lain, seperti murid-muridnya. 

"Pastinya, Anda tidak ingin kan para mahasiswa menjadi terganggu. ini tidak akan menciptakan lingkungan mengajar yang baik," kata Fred Chairman, salah satu petinggi di tempat Bilal mengajar.

Bilal yang merupakan keturunan orang Irak itu memang dikenal dengan seni kontroversialnya. Ia memiliki tato di bagian punggungnya yang menggambarkan dengan detail tentang keseharian Amerika dan Irak. Ia juga membuat situs di mana orang bisa menembak dirinya dengan bola. Selain itu, ia juga membuat video game di mana avatar dirinya menjadi pelaku bom bunuh diri untuk memburu mantan presiden AS, George W Bush.

Munurut keterangan museum tempat karya seni ini akan dimuat, proyek 3rdI sendiri bertujuan untuk menggambarkan "tak teraksesnya waktu dan ketidakmampuan untuk memotret memori dan pengalaman".
(kompas.com)
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG