host

Hosting Gratis

Jumat, 13 Juli 2012

Hal Aneh yang Bisa Bikin Wajah Berjerawat



img
(Foto: thinkstock)
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan wajah berjerawat, seperti makanan tak sehat, higienitas, hormon bahkan genetik. Namun ada beberapa hal tak biasa yang juga bisa memicu jerawat. Apa saja?

Hormon dan bakteri ternyata bukan satu-satunya penyebab jerawat. Berikut beberapa faktor aneh yang bisa menyebabkan jerawat, seperti dilansir boldsky, Selasa (10/7/2012):

1. Ponsel
Menelepon dalam waktu lama dapat menyebabkan kulit mengeluarkan minyak. Bila minyak tersebut bercampur bakteri yang sudah ada di layar ponsel, maka siap-siap saja wajah akan berjerawat. Biasakan untuk membersihkan ponsel dengan kertas tisu setelah percakapan dan sebelum menggunakannya kembali. 

2. Travelling
Travelling adalah salah satu penyebab di balik masalah jerawat. Pernahkah Anda memperhatikan mengapa ada jerawat pada kulit setelah melakukan perjalanan jauh? Nah, hal ini bisa terjadi karena perubahan iklim, makanan air dan lain-lain. Jika Anda bepergian lewat jalur udara, maka lingkungan dengan kelembaban yang sangat rendah dapat menyebabkan sekresi minyak berlebih yang mengarah ke masalah jerawat.

3. Produk rambut
Produk rambut biasanya tebal dan berminyak. Bahan kimia ini bisa saja merusak kulit saat Anda sedang tidur. Partikel-partikel tersebut akhirnya memblokir pori-pori kulit dan menyebabkan jerawat. Bahkan pemotongan rambut yang salah juga bisa memicu jerawat, seperti poni.

4. Pasta gigi
Saat menyikat gigi, tak jarang pasta gigi menyebar hingga sekitar bibir dan wajah. Beberapa pasta gigi flouride adalah alasan jerawat pada orang dewasa. Bahkan natrium lauril sulfat dalam pasta gigi dapat menyebabkan iritasi kulit.

5. Menggosok wajah dengan tangan
Ini adalah salah satu hal yang umum dan hampir dilakukan setiap orang. Tangan dipenuhi dengan kotoran dan kuman. Setiap kali Anda mengusap tangan di wajah, kuman menempel pada pori-pori kulit, sehingga menjadi rumah yang nyaman bagi kuman dan memunculkan jerawat.


detik.com
Bookmark and Share

Jangan Gampang Cemas, Nanti Cepat Tua Lho!


img
(Foto: Thinkstock)
Cemas, mudah panik dan terlalu sering merasa khawatir itu merupakan gejala-gejala depresi. Hal ini diperparah dengan hasil sebuah studi baru yang menyatakan bahwa terlalu gampang cemas bisa jadi membuat Anda lebih cepat tua.

Studi ini menemukan kaitan antara bentuk umum dari kondisi kecemasan yang disebut fobia kecemasan, sebuah ketakutan yang tak beralasan terkait situasi-situasi tertentu seperti keramaian, ketinggian atau dunia luar dengan telomere wanita paruh baya dan wanita tua yang lebih pendek.

Telomere merupakan bagian dari DNA yang terletak di ujung kromosom dan berfungsi untuk melindungi materi genetis tersebut dari kerusakan.

"Banyak orang yang penasaran bagaimana stres itu bisa membuat kita lebih cepat tua. Studi ini penting untuk menunjukkan kaitan antara bentuk umum dari stres psikologis seperti fobia kecemasan itu dan mekanisme penuaan dini yang masuk akal," ungkap peneliti Dr. Olivia Okereke, seorang psikiater dari Brigham dan Women's Hospital Boston seperti dilansir dari myhealthnewsdaily, Jumat (12/7/2012).

Biasanya telomere memendek seiring dengan proses penuaan dan diantara orang-orang yang sebaya atau berusia sama, telomere yang memendak dikaitkan dengan risiko kanker, penyakit jantung, demensia dan risiko kematian yang lebih tinggi.

Meski begitu, peneliti menekankan bahwa studi ini hanya menunjukkan sebuah kaitan, bukannya hubungan sebab-akibat sehingga tak mengherankan jika orang-orang yang telomere-nya lebih pendek umumnya rawan mengalami lebih banyak stres.

Untuk memastikan temuan ini, Okereke dan koleganya menggali informasi dari 5.243 wanita berusia 42-69 tahun yang ambil bagian dalam Nurses Health Study. Untuk mengukur tingkatan fobia kecemasan pada partisipan, peneliti mengamati jawaban atas pertanyaan seperti 'Apakah Anda memiliki ketakutan yang tidak beralasan jika berada di ruang tertutup?' dan 'Apakah Anda merasa panik saat berada di tengah keramaian?'"

Hasilnya, peneliti menemukan kaitan antara tingginya skor pada kuesioner dengan telomere yang lebih pendek. Perbedaan panjang telomere diantara wanita yang mengalami fobia dan wanita yang tidak mengalaminya sama halnya dengan yang diperkirakan peneliti terjadi pada dua wanita yang usianya beda enam tahun.

Bahkan kesimpulan ini juga didapatkan setelah peneliti mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin bisa mempengaruhi panjangnya telomere seperti kebiasaan merokok, indeks massa tubuh (BMI), kadar aktivitas fisik dan usia ayah partisipan ketika anak-anaknya lahir. Meskipun peneliti tidak mengikutsertakan faktor depresi yang pernah dialami partisipan, padahal bisa jadi itu mempengaruhi hasil studinya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE.
detik.com
Bookmark and Share

Orang bisa Cepat Tua karena ini

img
Menua bukan semata proses yang dihadapi ketika usia manusia mulai bertambah. Menua juga bisa disebabkan sejumlah faktor yang membuat organ-organ tertentu dalam tubuh manusia berubah, salah satu diantaranya karena fobia kecemasan yang intens.

Kondisi atau gangguan mental semacam ini tak hanya menyebabkan penderitanya menua tetapi juga mengalami proses penuaan lebih cepat dari orang-orang seusianya.

Untuk lebih lengkapnya, simak 7 faktor yang membuat Anda cepat menua seperti dilansir dari huffingtonpost,Jumat (13/7/2012) berikut ini:


1. Fobia Kecemasan
Sebuah studi baru dari peneliti di Brigham dan Women's Hospital menunjukkan bahwa fobia kecemasan dapat menyebabkan penuaan biologis lebih cepat, bersamaan dengan masalah kesehatan lainnya. Peneliti Author Okereke dan timnya mempelajari hubungan antara kecemasan dan telomere atau protein DNA di ujung kromosom yang bertindak sebagai penanda biologis pada proses penuaan. Hasilnya, gejala-gejala fobia kecemasan berkaitan dengan telomere yang lebih pendek.

2. Paparan Sinar Matahari
Paparan sinar matahari berkontribusi terhadap timbulnya keriput dan percepatan penuaan eksternal.
Meskipun pigmen alami manusia telah menyediakan sejumlah perlindungan, paparan sinar matahari kronis dapat menyebabkan age spot (bercak-bercak berwarna coklat yang biasanya ditemukan pada lansia) dan elastosis atau kerusakan jaringan elastis pada kulit sehingga kulit tampak kasar.


3. Perceraian
Berpisah dengan suami/istri juga bisa menyebabkan percepatan penuaan. Hal ini didasarkan pada sebuah studi analisis wajah yang dilakukan pada sejumlah kembar identik pada tahun 2009.
Menurut studi ini, orang kembar yang telah bercerai kelihatan lebih tua, tepatnya 1,7 tahun lebih tua dibandingkan saudara kembarnya yang belum pernah menghadapi perceraian.


4. Merokok
Bukan rahasia lagi jika merokok tak baik bagi kesehatan. Kebiasaan ini juga membuat orang lebih cepat tua, baik di luar maupun di dalam tubuh. Di luar, merokok berkontribusi terhadap munculnya keriput dan di dalam tubuh merokok telah banyak dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan serius.


5. Gula
Pola makan yang buruk juga bisa berkontribusi terhadap proses penuaan yang lebih cepat. Asupan gula yang tinggi misalnya, dapat menyebabkan penambahan berat badan yang tidak sehat, namun faktor penuaan yang sebenarnya adalah bagaimana tubuh seseorang mengenali dan menggunakan gula itu sendiri.
Selain itu, konsumsi gula yang berlebihan dapat mengakibatkan tingginya jumlah gula dalam tubuh seseorang dan hal itu seringkali dikaitkan dengan penuaan.
6. Obat-obatan Antidepresan
Menurut studi analisis wajah pada tahun 2009 yang dilakukan pada sejumlah kembar identik, penggunaan obat-obatan antidepresan juga bisa mengakibatkan percepatan penuaan.Setelah meninjau foto-foto 186 saudara kembar, peneliti menemukan partisipan yang mengonsumsi obat-obatan antidepresan seringkali terlihat lebih tua daripada kembarannya yang tidak meminumnya.


7. Kesepian
Merasa kesepian di usia tua juga menyebabkan orang-orang menua lebih cepat. Menurut sebuah studi pada tahun 2011, 985 partisipan dinilai tingkat kesendiriannya dengan skala 5 poin. Dari situ peneliti menemukan untuk setiap titik pada skala yang melampaui garis batas, penurunan motoriknya 40 persen lebih cepat.Lebih dari itu, peningkatan angka penurunan motorik juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 50 persen.
detik.com
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG