host

Hosting Gratis

Selasa, 03 Juli 2012

Antirayap Alami dari Tanaman Indonesia

Pengendalian rayap selama ini dilakukan dengan bahan kimia. Pembasmiannya juga fokus pada perlakuan kayu. Akibatnya, pembasmian rayap kadang mengorbankan serangga lain serta merugikan manusia.

Peneliti dari Balai Litbang Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Sulaeman Yusuf, mengembangkan bahan antirayap alami, ramah lingkungan dan selektif untuk memperbaiki cara pengendalian rayap.

"Bahan ini membasmi khusus rayap, tidak serangga lain. Selama ini dalam pengawetan kayu, kayunya yang diawetkan. Sekarang, serangganya yang kita kendalikan," papar Sulaeman.

Menurut Sulaeman, antirayap yang selektif diperlukan untuk memperkecil efek lingkungan pendendalian rayap. Di samping itu, hanya beberapa jenis rayap saja yang sebenarnya merusak kayu dan bangunan.

Tercatat, jenis rayap yang merusak bangunan adalah Coptotermes gestroi, C. curvignatus, Schedorhitotermes javanicus, Macrotermes gilvus, Microtermes spp. dan Cryptotermes cynocephalus.

Diantara beberapa spesies yang ditemukan di Indonesia, hanya 2 spesies yang menyerang bangunan, yakni Coptotermes gestroi dan C curvignathus. Jenis C. gestroi adalah yang paling ganas.

Untuk mengembangkan bahan antirayap selektif, Sulaeman mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa jenis tanaman dan jamur sudah ditelitinya.

Antirayap alami dipilih karena juga dipandang lebih ramah lingkungan. Bahan kimia antirayap tertentu, seperti aldrin dan chlordan, merugikan kesehatan dan bersifat karsonogenik.

Eksplorasi Sulaeman menunjukkan bahwa alam Indonesia ternyata menyimpan bahan antirayap alami. dari puluhan jenis yang diteliti, ada lima  jenis yang efektif mengendalikan rayap.

Lima jenis tanaman tersebut adalah Bintaro (Carberra adollum dan Carbera manghas), Kecubung (Brugmansia candida), Antiaris toxicaria, Azadirachta nimba atau nimba dan tembakau (Nicotiana tabaccum).

Bahan aktif yang membunuh rayap pada jenis tumbuhan tersebut adalah Azadirachtin pada nimba, Eugenol pada cengkeh, Certerin pada Bintaro dan nikotin pada tembakau. Bahan itu merusak kulit dan lambung rayap.

"Kita akan cari lagi bahan aktifnya sehingga nanti bisa diproduksi," kata Sulaeman yang baru saja dilantik sebagai profesor riset bidang biomaterial pada rabu (18/4/2012).

Menurut Sulaeman, bahan antirayap alami potensial untuk diproduksi. Apalagi, bahan alaminya sendiri tersedia melimpah di alam. "Misalnya bintaro, banyak sekali di pinggir jalan," ujar Sulaeman.

"Nantinya kita mungkin bisa memproduksi pestisida alami yang bebas dalam bentuk spray, seperti obat nyamuk, untuk mengendalikan rayap," pungkas Sulaeman. kompas.com
Bookmark and Share

Manusia Bisa Melihat Medan Magnet


Tanpa disadari, manusia sebenarnya bisa melihat medan magnet Bumi karena adanya suatu senyawa dalam mata. Ada kemungkinan, nenek moyang manusia dulu punya kemampuan tersebut.
Sebuah studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan protein bernama cryptochrome muncul pada retina. Protein tersebut banyak didapati pada hewan dan tumbuhan sehingga beberapa spesies bisa menggunakan medan magnet Bumi untuk melakukan navigasi.
Elektron dalam molekul cryptochrome saling terkait. Medan magnet Bumi menyebabkan elektron bergoyang. Reaksi kimiawi untuk merespons goyangnya elektron tersebut membuat burung dapat melihat medan maget dalam warna-warni.
Para peneliti sebelumnya mengira kalah cryptochrome tidak memiliki banyak keuntungan bagi manusia sehingga tidak dapat mengenali medan magnet seperti burung. Karenanya, manusia butuh patokan atau perangkat GPS untuk mengetahui arah.
Sangkaan ini yang sepertinya harus diubah setelah para ahli saraf dari University of Massachusetts melakukan penelitian. Mereka mengambil cryptochrome dari manusia dan memberikannya pada lalat buah yang kehilangan kemampuan melihat medan magnet. Hasilnya, seperti dilaporkan Wired Science, lalat buah kembali memiliki kemampuan melihat medan magnet.
Sayangya pada manusia, cara kerja cryptochrome tidak seperti pada lalat. "Kami tidak tahu apakah kerja molekul itu sama pada retina manusia. Tapi kemungkinan itu ada," kata Steven Reppert, ahli saraf dari University of Massachusetts. Saat ini ilmuwan mengetahui bahwa cryptochrome pada manusia berfungsi sebagai jam molekul, bukan sebagai kompas.
Tapi para peneliti menduga bahwa nenek moyang manusia terbantu dengan adanya protein tersebut untuk menentukan arah. Jika suatu saat para peneliti berhasil mengembalikan kemampuan tersebut... selamat tinggal perangkat GPS. kompas.com
Bookmark and Share

Planet "Panas" Terekam Sedang Menguap


Studi yang dipimpin oleh Alain Lecavelier dari Institute of Astrophysics di paris berhasil mengungkap adanya planet yang tengah menguap.

Lecavelier menggunakan teleskop antariksa Hubble untuk mengetahui hal tersebut. Ia mengobservasi atmosfer planet HD 189733b, planet seukuran Jupiter berjarak 60 tahun cahaya dari Bumi yang mengorbit pada jarak 1/30 jarak Bumi-Matahari dekat. Planet itu tergolong jenis "gas panas Jupiter".
Observasi dilakukan dengan metode transit, saat planet melewati muka bintang. Koleksi data dilakukan dua kali, pada awal 2010 dan akhir 2011.

Pada observasi tahun 2010, ilmuwan tak menyaksikan adanya atmosfer yang menguap. Tapi dalam penelitian tahun 2011, ilmuwan berhasil menyaksikan bahwa atmosfer planet HD 189733b menguap, gasnya terlihat membumbung menjauhi permukaan planet tersebut.

Tak seperti pada planet yang menguap lainnya, ilmuwan kali ini mengetahui penyebab penguapan pada planet HD 189733b.

Sebelum terjadi penguapan, satelit Swift milik NASA mengetahui adanya sinar-X yang berasal dari bintang induk HD 189733b, diduga menyebabkan badai bintang yang sangat kuat, sama seperti fenomena badai Matahari yang juga terjadi di Tata Surya.

Karena planet berjarak sangat dekat dengan bintang, sinar-X yang sampai ke planet memanaskan atmosfernya hingga puluhan ribu derajat Celsius. Panas menyebabkan gerak molekul gas lebih cepat sehingga bisa bebas dari pengaruh gravitasi dan menguap.

"Penemuan ini mengatakan pada kita bahwa penguapan atmosfer adalah fenomena yang benar-benar terjadi pada planet yang dekat dengan bintangnya," kata Lecavelier seperti dikutip situs National Geographic, Kamis (28/6/2012).

Belum diketahui berapa volume gas yang hilang selama penguapan terjadi. Diperkirakan, kecepatan penguapan adalah ribuan ton gas dalam semenit. Meski demikian, gas uyang ada pada HD 189733b sangat banyak. Jadi, penguapan tidak akan menyebabkan planet kehilangan massanya secara berarti.

Hasil penelitian ini akan segera dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics.
kompas.com
Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG