host

Hosting Gratis

Minggu, 09 September 2012

Akuarium Unik Karya Seniman Jepang

Seorang seniman asal Jepang bernama Hidetomo Kimura menawarkan cara yang berbeda untuk menikmati keindahan ikan di dalam akuarium.


Bookmark and Share

Kartu Ucapan Buatan Sendiri

Dulu kita memiliki tradisi berkirim kartu lebaran saat hari raya. Sebelum muncul era Twitter, dan Facebook. Bahkan sebelum maraknya jejaring sosial, kita juga terbiasa mengirimnya melalui SMS broadcast, atau broadcast massage via BBM yang kini menjadi tren.
Mana yang lebih berkesan, kiriman kartu atau ucapan via teknologi? Banyak orang beranggapan mengirim kartu lebaran terlihat ribet dan tidak praktis. Namun, tidak bagi penerima kartu. Justru bagi mereka ini adalah hal spesial yang dapat menjadi kenangan terindah.

Mengukirkan pulpen di atas kertas dengan ungkapan isi hati tentunya akan lebih bermakna, ketimbang harus mengirim broadcast message. Tak hanya kartu lebaran, ungkapan lain seperti, ulang tahun atau momen bahagia lainnya juga dapat dituangkan di sebuah kertas.

Hobi yang menjadi peluang bisnis
Nama Jesslyn Junaedi, mungkin terdengar asing di telinga. Tapi, coba saja Anda masuk ke dalam akun ‘damudamu’ di Facebook. Di sini Anda akan melihat berbagai jenis kartu ucapan unik nan lucu hasil karyanya. Mulai dari anniversary, pernikahan hingga lebaran.

Hobi mendesain yang membawa dirinya masuk dalam bisnis kartu ucapan ini. Semakin banyak orang yang meng-upload foto kartu pesanan buatannya, maka akan semakin banyak juga orang yang datang ke dirinya untuk dibuatkan. Semua kartu yang dibuatnya akan disesuaikan dengan keinginan pemesannya.

Pensil warana tak boleh absen

Untuk memberikan sentuhan warna pada kartu ucapan agar terlihat cantik harus digunakan warna soft yang tidak teralu mencolok. Pemakaian pensil warna di atas kertas atau kartu akan memudahkan kita dalam berkerasi, ketimbang menggunakan krayon atau spidol. Selain itu warna yang dihasilkan juga lebih apik dan rapih.
"Agar warna tampak kontras, gunakan teori fotografi yang terpaku pada arah cahaya datang" jelasnya.

Bahan-bahan lain yang harus dipersiapkan untuk membuat kartu di antaranya:
1.    Pensil untuk mensketsa desain gambar
2.    Kartu putih atau kertas polos
3.    Kertas berdesain sebagai aksesoris tambahan
4.    Pensil warna
5.    Pulpen desain untuk menebalkan gambar
6.    Pembolong kertas aneka bentuk
7.    Pita
8.    Amplop
9.    Plastik bening sebagai pembungkus

SELAMAT BERHKARYA................
(viva.co.id)
Bookmark and Share

Manfaat Besar Olahraga Terhadap Pengidap Kanker

Ilustrasi gen kankerOlahraga mengurangi kemungkinan kembalinya sel-sel kanker hingga 50 persen. 

Pasien-pasien kanker bisa memotong risiko kembali terbentuknya sel-sel kanker hingga 50 persen dengan berolahraga secara rutin. Begitu kesimpulan studi yang dilangsungkan oleh Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, AS. 

Dr Andrea Cheville, pemimpin penelitian ini mengatakan, sebagai dokter, pihaknya sering menganjurkan para pasien yang sudah berhasil mengalahkan kanker untuk mulai berolahraga agar tetap bugar. Namun, belum ada yang benar-benar meneliti pengetahuan pasien kanker tersebut tentang olahraga dan yang menghambat mereka dari berolahraga. 

Hasil studi membuktikan, untuk pasien yang sudah melewati perawatan untuk menghadapi kanker payudara maupun kanker kolon, olahraga rutin terbukti mampu menurunkan kembalinya sel-sel kanker yang sudah tak terdeteksi usai pengobatan hingga 50 persen. 

Studi ini menemukan, kebanyakan pasien yang sebelum didiagnosis memang sudah rutin berolahraga kemungkinan terbesar akan kembali melanjutkan kebiasaan sehatnya itu. 

Sayangnya, menurut dr Cheville, kebanyakan pasien tidak sadar, gaya hidup tak aktif alias malas berolahraga bisa menciptakan kerentanan untuk kembalinya sel-sel kanker, menghambat penyembuhan. 

Kebanyakan orang yang terlibat sebagai responden dalam penelitian ini mengira, kegiatan harian, seperti berkebun merupakan bagian dari olahraga, padahal, kegiatan semacam itu hanya butuh upaya sangat sedikit. 

Secara umum, menurut dr Cheville, seperti dikutip dari Daily Mail, pasien tidak diberikan saran konkret mengenai olahraga yang terbaik untuk mereka menjaga fungsionalitas dan mendorong hasil terbaiknya.

Selain membantu memperbaiki mobilitas dan daya tahan, olahraga membantu pasien yang sel-sel kankernya tak lagi terdeteksi untuk membangun kembali jaringan dan komunikasi dengan orang lain, agar jangan terisolasi sendiri di rumah. Olahraga juga membantu pasien mengoptimalisasi hilangnya gejala dan penyembuhan. 

Riset ini dikeluarkan beberapa hari setelah hasil studi tentang hubungan penumpukan lemak tubuh pada perempuan pengidap kanker payudara. 

Diketahui, perempuan dengan kanker payudara yang memiliki berat badan berlebih namun sel kankernya tak lagi terdeteksi berisiko mengalami tumbuh kembalinya sel kanker akibat hormon terkait lemak tubuh. 

Lemak tubuh berlebih bisa mengakibatkan perubahan hormonal dan peradangan yang menyebabkan sel-sel kanker menyebar dan menyerang kembali meski sudah dilakukan pengobatan.   
(beritasatu.com)
Bookmark and Share

ptk 03 peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial melalui pembelajaran kooperatif model think-pair-share pada siswa


 print this page Cetak

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Pada abad 21 ini, kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah-sekolah. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan akan didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah.
Tampaknya, perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar siswa dan interaksi antara siswa dan guru. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnnya. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator.
Ada beberapa alasan penting mengapa sistem pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mengharuskan sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat.
Sesungguhnya, bagi guru-guru di negeri ini metode gotong royong tidak terlampau asing dan mereka telah sering menggunakannya dan mengenalnya  sebagai metode kerja kelompok. Memang tidak bisa disangkal bahwa banyak guru telah sering menugaskan para siswa untuk bekerja dalam kelompok.
Sayangnya, metode kerja kelompok sering dianggap kurang efektif. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok tidak berhasil, siswa cenderung saling menyalahkan. Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan tidak adil. Siswa yang pandai/rajin merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya, metode kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia, yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama, justru bisa berakhir dengan ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa pesimis mengenai penggunaan metode kerja kelompok, bahkan kadang-kadang orang tua pun merasa was-was jika anak mereka dimasukkan dalam satu kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang seimbang.
Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. Yang diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kelompok, melainkan pada penstrukturannya. Jadi, sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Kekawatiran bahwa semangat siswa dalam mengembangkan diri secara individual bisa terancam dalam penggunaan metode kerja kelompok bisa dimengerti karena dalam penugasan kelompok yang dilakukan secara sembarangan, siswa bukannya belajar secara maksimal, melainkan belajar mendominasi ataupun melempar tanggung jawab. Metode pembelajaran gotong royong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan taanggung jawab pribadinya karena ada sistem akuntabilitas individu. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya.
Dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti merasa terdorong untuk melihat pengaruh pembelajaran terstruktur dan pemberian balikan terhadap prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “Peningkatan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share Pada Siswa ………………………………………..Tahun Pelajaran ....”.

Silahkan Klik Gambar di bawah ini untuk download bab selanjutnya

Bookmark and Share

ptk 02 pembelajaran kontekstual model pembelajaran berbasis masalah yang efektif dalam meningkatkan prestasi dan penguasaan materi pelajaran ipa pada siswa...



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan Nasional di bidang pengembangan sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas melalui pendidikan merupakan upaya yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dilakukan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Sumberdaya yang berkualitas akan menentukan mutu kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa dalam rangka mengantisipasi, mengatasi persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan yang terjadi dalam masyarakat pada kini dan masa depan.
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menigkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Apa yang menjadikan belajar aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari.  Belajar akif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud)
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penulis penulis mengambil judul “Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Yang Efektif Dalam Meningkatkan Prestasi dan Penguasaan Materi Pelajaran IPA Pada Siswa ………………………………….. Tahun Pelajaran .....” 
Silahkan Klik Gambar di bawah ini untuk download Bab selanjutnya
  

Bookmark and Share

LIKE FOR BLOG