host

Hosting Gratis

Kamis, 28 Juni 2012

Sikapi Perubahan Iklim dengan Tanam Terpadu

Dari hasil riset yang dilakukan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian menunjukkan kawasan pertanian di pantura Jawa telah tercemar pestisida. 

Penggunaan pestisida untuk tanaman padi di wilayah Jawa melebihi dosis yang ditentukan. Residu yang bersumber dari bahan berbahaya itu telah mencemari produksi beras, telor ayam kampung, susu sapi, daging kambing, wortel, kembang kol, kubis, kedelai, air persawahan, tanah dan ikan. 

"Hampir seluruh areal persawahan di Jawa telah tercemar pestisida. Peringkat tertinggi di Jawa Tengah kemudian disusul Jawa Barat, kemudian Jawa Timur," terang Asep Nugraha Ardiwinata, peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian dalam seminar nasional bertemaKebijakan pemulihan kualitas lingkungan hidup pada era reformasi dan otonomi daerah di Jakarta, Kamis (28/6). 

Cilacap merupakan kabupaten dengan pemeringkatan tertinggi terkena residu pestisida, disusul Brebes, Rembang dan Pati. Sedangkan di Jawa Barat tertinggi di Cirebon, disusul Indramayu, Kuningan dan Majalengka. 

Sementara daerah-daerah lain juga sudah tercemar dengan tingkatan berbeda. 

Penyebab pencemaran itu lantaran petani tidak menggunakan pestisida tepat guna. "Ukurannya tidak sesuai, bahkan ada pestisida palsu beredar di pasaran. Bahkan petani suka mengoplos 8 zat kimia berbahaya untuk membuat pestisida," terang Asep. 

Kemudian dari penelitian Asep, pestisida untuk tanaman padi seharusnya diberikan 2-3 kali per minggu, ternyata di lapangan petani memberikannya sebanyak 4 hingga 7 kali dalam seminggu. Sedangkan untuk sayuran, dari ukuran 4 hingga 5 kali, ternyata di lapangan yang diberikan sebanyak 7 hingga 12 kali seminggu. 

Para petani juga tidak menggunakan sarung tangan dan masker saat membuat dan menyemprotkan pestisida. "Mereka langsung memakai tangan. Bahkan saat membeli zat berbahaya itu diicipi. Alasannya kalau getir khasiatnya besar. Apalagi kalau ada botol bergambar tengkorak disangkanya paling ampuh. Padahal itu artinya berbahaya," jelasnya. 

Kemudian cara menyemprotkannya hantya 40% ke tanaman, sisanya menetes ke tanah. Akibatnya banyak mikroorganisme mati akibat keracunan pestisida. Tanah menjadi tidak subur dan akhirnya menjadi tanah mati. Apalagi residu itu tahan sampai 30-50 tahun. 

"Sebenarnya petani sudah bisa menandai bahwa padinya tercemar residu terlihat pada malam hari tidak ada suara kodok, tidak ada kunang-kunang, suara jangkrik, ular sawah. Intinya sunyi. Itu sudah pasti tanahnya tercemar." 

Sedangkan dari segi kesehatan, pestisida menyebabkan perempuan sulit memiliki anak, parkinson, tremor atau gangguan saraf. (OL-11) (mediaindonesia.com)
Bookmark and Share

0 komentar:

Poskan Komentar

LIKE FOR BLOG