host

Hosting Gratis

Kamis, 28 Juni 2012

Gagal 135 Kali, Juara Sains Dunia


Percobaannya gagal 135 kali hingga terbakar.


Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa kelas XI SMAN 1 Bogor tidak menyangka mampu menarik hati para juri di kompetisi sains internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012 yang digelar di Pensylvannia, Amerika Serikat.

Karyanya, Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital) terpilih sebagai juara ketiga dalam kompetisi tersebut. Perangkatnya sanggup  merevolusi pengukuran pupuk nitrogen yang harus diberikan ke tanaman padi. Selama ini ketidaktepatan pengukuran dapat mengakibatkan produktivitas tanaman padi berkurang.

"Teknologi yang dipilih dalam kompetisi tersebut adalah yang aplikatif ke masyarakat dan mempengaruhi masyarakat," ujar Lutfhi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bakat lutfhi dalam dunia riset tidak tumbuh dalam sekejap. Sejak di SMP, ia sudah rajin ikut kegiatan yang bersifat uji coba teknologi. "Awalnya suka ikutan praktikum, percobaan di sekolah," ujarnya.
Dari ruang laboratorium, bakatnya disalurkan dengan mengikuti kompetisi sains di sekolah. Hasilnya, dia sanggup menghasilkan gelar juara.
"Dari situ, saya semakin termotivasi ikut penelitian," sambung pemuda kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini.

Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.

Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.

Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.

"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.

Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
"Yang asyik itu jika hipotesa dapat terbukti secara benar, dan dapat menghasilkan teori baru," katanya.

Beda

Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.

Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.

"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.

Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.

"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya

Gagal dan Terbakar

Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
"Justru lebih optimal hasilnya," kata Luthfi.

Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.

"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.

Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Untuk mendatang, Luthfi akan terus mengembangkan alat ini. Ia berharap seluruh petani menggunakan alat ini.
"Bentuk lebih kecil dan enteng," sebut siswa yang mengidamkan dapat melanjutkan studi di Carnegie Mellon University, Pitsburg, Amerika Serikat.

Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

LIKE FOR BLOG