host

Hosting Gratis

Jumat, 29 Juni 2012

Mahasiswa Ciptakan Keran Hemat Air Wudu

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surya Mahendra, bersama dua rekannya merancang keran hemat air, terutama untuk keran air wudu.
"Kalau dipakai keran air wudu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudu, tapi dengan keran itu hanya 2,5 liter," katanya di Surabaya, Rabu (2/5/2012).
Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut solenoid valve.
"Keran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya," kata mahasiswa semester VI itu.
Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari.
"Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan keran wudu di masjid yang tidak dimatikan," katanya.

Dipuji Dahlan Iskan
Suwito mengatakan, keran hemat air itu sempat dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung ke ITS pada 1 April 2012.
"Pak Dahlan Iskan memuji karena ajaran agama bahwa boros itu temannya setan sering kali sulit dipraktikkan, tapi ajaran agama untuk tidak boros itu akan terlaksana dengan keran hemat air. Jadi, teman-teman ITS bisa berdakwah lebih efektif," katanya.
Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan lokakarya bertema "Selamatkan Air Sekarang" beberapa waktu lalu.
"Insya Allah, kami akan mencoba untuk merealisasikan alat itu pada Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menyemarakkan Hardiknas," katanya.
Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya, yakni Maulana Djatikusuma. "Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu," katanya.
Dengan alat itu, kata mahasiswa semester VI tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan traffic light untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu.
"Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang," katanya.
Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer. "Jadi, alat itu mirip early warning system yang mendeteksi cekungan kedalaman air," katanya.(kompas.com)
Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

LIKE FOR BLOG