host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label ALERGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALERGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

7 Penyakit Ini Butuh Bantuan Antioksidan dalam Penyembuhannya


Anggur merah juga dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular karena selain kaya akan antioksidan, juga mengandung resveratrol.
Pengobatan yang tepat sangat penting untuk menyembuhkan penyakit. Selain melalui pengobatan medis, penyembuhan penyakit tertentu akan lebih efektif jika didukung dengan meningkatkan asupan antioksidan melalui perubahan diet.

Seperti dilansir Besthealthmag (15/9), ini adalah tujuh penyakit yang penyembuhannya dapat dibantu dengan asupan antioksidan:

1. Penyakit kardiovaskular
Makanan yang mengandung antioksidan sangat baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan jantung. Antioksidan dapat diperoleh dari buah, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan teh.

Anggur merah juga dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular karena selain kaya akan antioksidan, juga mengandung resveratrol yang baik untuk jantung. Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa coklat hitam baik untuk jantung, tapi pastikan untuk memperhatikan kandungan lemak dan kalorinya.

2. Kesuburan
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa pria yang mengonsumsi suplemen lycopene, vitamin E dan C, zinc, selenium, folat dan bawang putih memiliki tingkat kesuburan hingga dua kali lipat dibanding pria lain yang tidak memiliki asupan antioksidan.

Antioksidan dapat menangkal radikal bebas yang diketahui dapat menurunkan kualitas sperma dan menyebabkan ketidaksuburan.

3. Degenerasi makula
Studi menunjukkan bahwa antioksidan lutein dan zeaxanthin dapat melindungi terhadap degenerasi makula mata. Zat-zat antioksidan tersebut dapat diperoleh dari sayuran berwarna cerah seperti wortel, tomat, brokoli dan buncis.

4. Cystic fibrosis
Cystic fibrosis adalah penyakit gangguan pada kelenjar, termasuk kelenjar yang membuat lendir dan keringat.

Orang yang menderita Cystic fibrosis juga dapat mengalami kesulitan dalam mencerna makanan, sehingga kadang memerlukan terapi antioksidan melalui inhaler ketika mendapat perawatan. Terapi antioksidan tersebut dilakukan dengan menggunakan vitamin A, D, E dan K dan glutathione.

5. Alergi dan asma
Anak-anak yang makan lebih banyak tomat, terong, dan kacang hijau memiliki risiko yang lebih kecil terhadap asma dan alergi. Antioksidan seperti alpha kareoten, beta karoten, vitamin C dan lycopene juga dapat melindungi jaringan paru-paru.

6. Kanker
Asupan tinggi buah dan sayuran melindungi seseorang terhadap risiko kanker. Tetapi bagi orang yang sedang menjalani kemoterapi untuk mengobati kanker, asupan tinggi antioksidan mungkin dapat menghambat pengobatan karena proses kemoterapi dilakukan dengan menggunakan radikal bebas untuk menghancurkan sel kanker.

7. Penyakit tulang
Penelitian terbaru telah menemukan bahwa antioksidan dalam teh hijau dapat membuat tulang lebih kuat seiring pertambahan usia. Teh hijau juga dapat mengurangi peradangan dan nyeri pada rheumatoid arthritis. (jaringnews.com)
Bookmark and Share

Kamis, 30 Agustus 2012

Ditemukan, Tambahan Manfaat ASI Bagi Kesehatan Pencernaan Bayi

ASI mendorong bakteri dalam perut bayi menciptakan lapisan pelindung. 

Sejak lama manfaat air susu ibu (ASI) sudah diketahui baik untuk kesehatan bayi. Kini para ilmuwan menemukan manfaat lain ASI bagi kesehatan bayi. Para ilmuwan di Duke University Medical Center, Inggris, mengatakan, ASI mendorong penguatan sistem pencernaan bayi. 

Hasil penelitian mengungkap, ASI membantu menciptakan koloni-koloni flora mikrobiotik unik yang membantu penyerapan nutrisi dan mendorong perkemangan sistem imun tubuh. 

Pemimpin penelitian ini, dr William Parker, dikutip dari surat kabar Daily Mail mengatakan, ini adalah studi pertama yang meneliti efek dari nutrisi bayi dengan melihat pertumbuhan bakteri. Cara ini memperlihatkan pandangan terhadap mekanisme tersembunyi mengenai manfaat dan keuntungan dari pemberian ASI ketimbang susu formula untuk bayi baru lahir.

Menurut dr Parker, hanya ASI yang bisa mendorong kolonisasi biofilm bermanfaat, dan pengetahuan ini memberi tahu, ada potensi untuk mengembangkan pengganti ASI yang bisa menyerupai manfaat ASI untuk kondisi-kondisi darurat karena ketidaksediaan ASI. 

Selama ini telah diketahui, ASI bermanfaat untuk menurunkan kondisi diare, flu, hingga infeksi saluran pernapasan bila diberikan pada bayi. ASI juga mampu menjaga tubuh membentuk pertahanan terhadap alergi, diabetes tipe 1, multiple sclerosis, dan beragam penyakit lain.

Para peneliti mempelajari mengenai peran flora di dalam perut terhadap kesehatan, dan dari sana diketahui bagaimana pola konsumsi bayi bisa memengaruhi kehidupan mikrobial.
Penelitian ini memelihara bakteri di dalam susu formula khusus bayi, susu sapi, dan ASI. 

Sampel-sampel susu tersebut kemudian diinkubasi dengan bakteri E coli yang dibutuhkan untuk membantu menghalau organisme tertentu yang bisa mengakibatkan keracunan makanan. 

Dalam beberapa menit, bakteri tersebut mulai berkembang biak di semua spesimen, namun ada perbedaan cara. Pada spesimen ASI, bakteri-bakterinya menempel bersama untuk membentuk biofilm, tipis, membentuk lapisan bakteri yang bekerja sebagai pelindung terhadap patogen dan infeksi. 

Bakteri pada susu formula bayi dan sapi juga berkembang biak, namun tidak membentuk lapisan pelindung. 

Dari penelitian ini, dr Parker berharap bisa membantu menciptakan susu formula yang bisa memberikan manfaat mirip ASI, supaya bayi-bayi yang tak memiliki kesempatan mendapat ASI bisa mendapat manfaat serupa. (beritasatu.com)
Bookmark and Share

Senin, 25 Juni 2012

Manfaat Alergi bagi Kesehatan yang Tidak Disadari

Alergi dapat mengganggu hingga mematikan. Gejala-gejalanya bisa berupa gatal, batuk dan bahkan penyumbatan saluran napas. Sebenarnya, alergi merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghalau zat berbahaya.

Para ahli mengatakan bahwa saat tubuh mengalami alergi, ada hal lain di dalam tubuh yang sedang terjadi. Alergi sebenarnya merupakan pertahanan tubuh untuk menghalau parasit penyakit. Alergi berkembang karena tubuh mersepon adanya parasit, namun berubah salah sasaran sehingga zat yang tidak berbahaya seperti serbuk sari dan debu juga dapat memicu alergi.

"Namun pemicu alergi dari lingkungan dan makanan memiliki banyak kesamaan dengan parasit. Ada penjelasan mengapa sistem kekebalan tubuh bisa sampai merespon sesuatu yang bukan mikroba berbahaya," kata Ruslan Medzhitov, profesor immunobiology di Yale School of Medicine seperti dilansir CNN, Kamis (26/4/2012).

Dalam sebuah artikel yang dimuat jurnal Nature, Medzhitov dan rekannya menyelidiki apakah ada penjelasan lain untuk alergi? Pada kesimpulannya, ia berpendapat bahwa alergi sebenarnya dimaksudkan untuk menghilangkan zat berbahaya dari tubuh.

Pada kasus alergi musiman terhadap pohon atau serbuk sari, gejala yang umum terjadi biasanya pilek, mata berair dan banyak memproduksi lendir dalam sistem pernapasan. Semua ini memiliki efek yang sama, yaitu mencoba mengusir sesuatu dari tubuh yang tidak diinginkan.

Demikian pula ketika kulit terasa gatal karena tersentuh pemicu alergi, keinginan untuk menggaruk memiliki efek menghilangkan partikel yang bersentuhan dengan kulit. Tapi terkadang kondisi ini berubah menjadi ekstrim, yaitu rasa gatal yang tak terkendali dan tak lagi bermaksud menyingkirkan zat yang berbahaya bagi kulit.

Gejala alergi makanan termasuk muntah dan diare juga berupaya mengusir zat yang tidak diinginkan. Reaksi yang paling parah dan mematikan adalah pembengkakan mulut atau tenggorokan dan bahkan gangguan pernapasan. Ini merupakan bentuk ekstrim dari reaksi alergi yang normal namun berkembang di luar kendali dan dapat menyebabkan kematian.

"Ada beberapa jenis alergi yang bermaksud menjalankan tugas penting yang bermanfaat bagi tubuh. Namun jika mekanisme ini menjadi tidak terkontrol, maka dapat menyebabkan masalah," kata Medzhitov.

Beberapa orang memiliki reaksi ekstrim sedangkan orang lainnya tidak. Menurut Medzhitov, ada komponen tertentu dari makanan yang kita makan sehari-hari dan efeknya pada tubuh masih belum diketahui dengan pasti. Mungkin ada bahan kimia tertentu dalam beberapa makanan yang memiliki efek berbahaya pada sel-sel tubuh yang sedikit beracun.

Produksi lendir pada orang yang terserang alergi meningkatkan perlindungan dari polutan di udara karena menyebabkan tubuh lebih sedikit menghirup polutan. Jika polutan bersifat karsinogenik, orang yang mengalami alergi akan lebih terlindungi terhadap beberapa jenis kanker dari waktu ke waktu. Tubuh akan bereaksi menghindari lingkungan berbahaya sehingga dapat terhindar dari risiko.

Sebuah penelitian tahun 2011 menunjukkan bahwa alergi dapat mencegah glioma, bentuk paling umum dari tumor otak. Namun penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendukung kesimpulan ini.

"Kami percaya bahwa alergi berkembang untuk mengetahui adanya zat berbahaya di lingkungan. Setelah terpapar pemicu alergi pertama kali, sistem kekebalan akan mengingat pemicu alergi dan paparan berikutnya akan merangsang respon yang membantu meminimalkan efek yang berpotensi bahaya," kata Medzhitov.

Menurut Medzhitov, beberapa orang memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mendetoksifikasi zat-zat dibandingkan orang lain. Dan orang-orang yang kurang memiliki mekanisme detoksifikasi ini mengalami alergi bukan untuk sistem pertahanan diri.
Detik.com
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG