PENGEMBANGAN RANCANGAN SISTEM PENGOLAHAN
BIJI JARAK PAGAR DAN
TEKNOLOGI PEMANFAATAN MINYAK JARAK
_______________________________________________________________
Bambang Heruhadi dan M. Sumarsono
Balai Besar Teknologi Energi (B2TE), BPPT, Cisauk, Tangerang 15314, Banten, Indonesia
E-mail: msumarsono@yahoo.com
ABSTRAK
Kegiatan penelitian dan pengembangan sistem pengolahan minyak jarak pagar menjadi bahan bakar alternatif pengganti BBM telah dilaksanakan secara intensif di Balai Besar Teknologi Energi (B2TE). Makalah ini menampilkan kegiatan penelitian dan pengembangan suatu mesin pengolah minyak jarak berkapasitas 40 kg/jam yang bisa dengan mudah dipindah-pindahkan, kompor MPS, arang briket limbah jarak pagar, kompor biomassa PORMASA. Hasil pengujian yang telah dicapai juga ditampilkan.
Kata kunci: Jarak pagar; ekstraksi minyak; energi; arang briket terkarbonisasi
ABSTRACT
Research and Development activity on a processing system of jatropha curcas oil having been carried out intensively in the Energy Technology Center (B2TE) to become an alternative fuel for substituting fossil fuel. This paper describes the R&D of a mobile masterpieces of jatropha oil processing machine having capacity of 40 kg/hour. MPS stove briquette, briquette of jatropha waste and a PORMASA biomass stove are described. The test result are also described.
Keywords: jatropha curcas, expeller, energy, carbonized briquette.
1. PENDAHULUAN
Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak pada makin meningkatnya kebutuhan akan energi untuk memenuhi seluruh aktivitas kehidupan dan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan bahan bakar cair juga meningkat. Mengingat jumlah pasokan dan cadangan minyak bumi Indonesia yang makin berkurang sehingga diperkirakan sebelum tahun 2015 Indonesia akan menjadi negara net-importir bahan baku minyak mentah. Saat ini Indonesia mengimpor hampir 5 – 6 milyar liter bahan bakar diesel, yang merupakan hampir 30% kebutuhan solar dalam negeri. Harga minyak bumi dunia meningkat tajam mencapai level USD 75/barrel pada bulan November 2005, menyebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, termasuk solar industri, merangkak naik dengan pesat dari Rp. 2700/Liter hingga menjadi sedikit di atas Rp. 6000/Liter pada bulan November 2005 (Gambar 1). Kenaikan harga BBM ini memukul berbagai sektor termasuk sektor industri karena menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
Untuk lengkapnya, silahkan Coba download disini
Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Oktober 2012
Sabtu, 30 Juni 2012
Jubah Tembus Pandang Ubah Tank Jadi Sapi
Nantinya, perangkat ini akan dapat melindungi tank dari serangan roket pencari panas yang kerap memburunya. Proyek riset yang diberi nama Adaptiv ini akan diuji coba dalam dua tahun mendatang.
Jubah tembus pandang militer ini terdiri atas kepingan logam berbentuk heksagonal sebesar telapak tangan orang dewasa. Kepingan logam ini dapat dipanaskan atau didinginkan dengan cepat untuk menyamarkan bangunan, kapal, atau helikopter yang terbang rendah. Untuk menyelubungi sebuah tank kecil, diperlukan sekitar 1.000 kepingan logam tersebut.
Perangkat ini dilengkapi dengan pemindai untuk "membaca" lingkungan sekitar. Kemudian, pola-pola hasil pemindaian direproduksi pada panel logam berbentuk heksagonal yang berada di lambung tank (atau obyek lainnya). Selanjutnya, citra inframerah ditampilkan sehingga memungkinkan tank menyatu dengan lingkungan sekitarnya dan membuat musuh melihatnya sebagai sebuah mobil atau bahkan seekor sapi.
Menurut Peter Sjolund, pimpinan riset, teknologi ini bekerja layaknya layar televisi termal. Selain membawa koleksi gambar yang sudah tersimpan, perangkat itu juga bisa mengambil gambar yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya apabila diperlukan. Pengembangan lebih lanjut bahkan bisa makin canggih lagi. (kompas.com)
Jumat, 29 Juni 2012
Mahasiswa Ciptakan Keran Hemat Air Wudu
"Kalau dipakai keran air wudu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudu, tapi dengan keran itu hanya 2,5 liter," katanya di Surabaya, Rabu (2/5/2012).
Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut solenoid valve.
"Keran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya," kata mahasiswa semester VI itu.
Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari.
"Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan keran wudu di masjid yang tidak dimatikan," katanya.
Dipuji Dahlan Iskan
Suwito mengatakan, keran hemat air itu sempat dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung ke ITS pada 1 April 2012.
"Pak Dahlan Iskan memuji karena ajaran agama bahwa boros itu temannya setan sering kali sulit dipraktikkan, tapi ajaran agama untuk tidak boros itu akan terlaksana dengan keran hemat air. Jadi, teman-teman ITS bisa berdakwah lebih efektif," katanya.
Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan lokakarya bertema "Selamatkan Air Sekarang" beberapa waktu lalu.
"Insya Allah, kami akan mencoba untuk merealisasikan alat itu pada Masjid Manarul Ilmi ITS untuk menyemarakkan Hardiknas," katanya.
Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya, yakni Maulana Djatikusuma. "Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu," katanya.
Dengan alat itu, kata mahasiswa semester VI tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan traffic light untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu.
"Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang," katanya.
Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer. "Jadi, alat itu mirip early warning system yang mendeteksi cekungan kedalaman air," katanya.(kompas.com)
Elektrik Motor Terkecil di Dunia
Elektrik motor dari satu molekul pernah dibuat sebelumnya, namun elektrik motor kali ini ialah pertama yang bisa digerakkan listrik. "Orang telah membuat motor yang bisa digerakkan cahaya dan reaksi kimia. Tapi, di sana, anda menggerakkan jutaan pada saat yang sama," kata Charles Sykes, pakar kimia dari Tufts University di Massachusets.
"Yang mengejutkan dari elektrik motor adalah, kita bisa melihat pergerakan dari satu motor molekul, melihat bagaima perilaku dari motor kecil tersebut," tambah Sykes seperti dikutip BBC, Selasa (5/9/2011).
Sykes bisa mengontrol motor nano dengan listrik lewat bantuan low temperature scanning tunneling microscope (LT-STM). Alat tersebut menggunakan elektron untuk melihat molekul. Sykes menggunakan tip pada mikroskop untuk mensuplai listrik pada molekul butil metil sulfida yang telah diletakkan di permukaan tembaga yang konduktif. Akibat suplai listrik, motor nano pun berputar.
LT-STM juga bisa dipakai untuk melihat motor berputar. Motor diketahui bisa berputar dua arah serta bergerak dengan kecepatan 120 revolusi per detik. Kemampuan gerak motor ini bisa dimodifikasi. Lewat proses modifikasi misalnya, ilmuwan bisa menciptakan radiasi gelombang mikro arau menciptakan sistem nano-elektromekanik.
Elektrik motor juga bisa berguna dalam dunia medis, untuk memastikan penghantaran obat tepat sasaran. Untuk menuju ke sana masih butuh beberapa langkah.Saat ini peneliti baru akan mendaftarkannya dulu ke Guiness Book of Record sebagai elektrik motor terkecil di dunia.(kompas.com)
Kakus Hebat Ubah Tinja Jadi Listrik
Jamban dengan nama No-Mix Vacuum Toilet tersebut memiliki dua wadah untuk memisahkan limbah padat dan cair. Jamban ini menggunakan tekanan untuk "mengguyur" tinja. Jadi, jumlah air yang dibutuhkan untuk sekali guyur hanya 0,2 liter alias secangkir.
Toilet konvensional di Singapura saat ini membutuhkan 4-6 liter air sekali guyur. Jika jamban inovatif ini diaplikasikan di toilet umum, dengan 100 kali guyuran sehari, maka kakus ini bisa menghemat 160.000 liter. Volume itu cukup untuk mengisi kolam renang berukuran 10 x 8 x 2 meter.
Untuk menghasilkan listrik dan pupuk, kakus ini akan memisahkan komponen padat dan cair. Dari kakus lewat sistem pembuangan, limbah cair akan dikirim ke fasilitas pengolahan tempat nitrogen, fosfor, dan potasium akan dipanen.
Pada saat yang sama, tinja akan dikirim ke bioreaktor untuk diolah agar menghasilkan biogas yang kaya metana. Metana nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gas untuk memasak maupun diubah menjadi listrik.
"Dengan toilet inovatif kami, kita bisa memakai cara yang lebih sederhana dan murah untuk menghasilkan unsur berguna dan memproduksi bahan bakar dan energi dari limbah," kata Wang Jing-Yuan, Direktur Residues and Resource Reclamation Centre (R3C) di NTU.
Terpadu dengan sistem itu, air yang telah dipakai untuk mencuci, mandi, dan dari dapur bisa dipakai lewat sistem drainase tanpa pengolahan kompleks. Adapun limbah makanan juga bisa dikirim ke bioreaktor untuk dijadikan kompos.
Dari informasi di website NTU, kakus ini mulai akan diuji secara terbatas di Kampus NTU. Pengujinya adalah 500 mahasiswa yang diminta memakainya. Setelahnya, kakus akan diuji selama 2 tahun di Singapura.(kompas.com)
Kamis, 28 Juni 2012
Jawara Sains di Amerika Asal Bogor
"Kurang lebih 135 kali saya gagal," kata Luthfi, demikian dia akrab disapa, mengenang perjuangannya merakit perangkat bernama Digital Leaf Color Chart (DLCC).
Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bogor ini mengatakan satu-satunya kendala yang dihadapinya hanyalah terkait dengan persoalan teknis. Dia bersyukur, masalah lain bisa diatasi berkat dukungan dari keluarga dan sekolah yang membantunya fokus menggarap penelitian.
Berulang kali mengotak-atik DLCC menjadi pengalaman berkesan baginya. Setiap kegagalan tak mengusik semangatnya. Malah, tekad putra dari pasangan Iyus Hendrawan dan Endang Sri Rejeki ini kian membaja.
Modal 12 juta yang dikumpulkannya dari kemenangan Lomba Karya Ilmiah Remaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, dimaksimalkan untuk menggarap proyek ini. Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengerjakannya.
"Masalahnya lebih ke sisi teknis, sensornya beda-beda. Belum lagi terbakar, jadi rusak alatnya. Saya juga harus bolak balik ke Jakarta. Beli komponennya di Glodok," ujar pemuda kalem ini seraya tersenyum.
Juara di Amerika
Siapa sangka, perangkat inilah yang kemudian mengantarkannya mengharumkan nama Indonesia. Padahal semula, dia hanya ingin para petani di sekitar rumahnya bisa lebih efisien dalam menebar pupuk.
"Saya lihat di lingkungan sekitar rumah saya belum maksimal produksi padinya karena penyebaran pupuknya tanpa perhitungan," ujarnya.
Agar efektif, jumlah pupuk yang disebar harus dihitung. Memang, selama ini petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD), yaitu cara pemberian pupuk pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan BWD.
Namun cara ini punya kelemahan yakni jika warna padi tidak sesuai, maka akan dihitung dengan rata-rata, sehingga pemupukan dapat berlebihan atau bisa kekurangan.
Alat yang dikembangkannya, menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.
"Untuk pengukuran pemupukan satu hektar sawah, cukup ambil satu sampel daun," ujarnya sambil memamerkan alat buatannya.
Jadi, Digital Leaf Color Chart (DLCC) adalah perangkat digital pendeteksi warna daun untuk efisiensi pemupukan.
Sejauh ini, DLCC sudah diaplikasikan para petani di sekitar rumah Luthfi. Butuh keuletan juga memperkenalkan alat ini kepada para petani.
"Awalnya mereka gak mau, gak percaya karena penggunaan pupuknya jadi lebih sedikit. Tapi setelah dicoba, dilihat produksi padinya malah lebih optimal," kata Luthfi berseri-seri.
Perangkat yang aplikatif
DLCC menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF), kategori teknik (elektris dan mekanik). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.600 finalis yang berasal dari 70 negara.
Karya remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini rupanya dinilai aplikatif dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. "Jadi kami yang mengikuti kompetisi ini dilihat oleh juri, apakah teknologinya bisa digunakan bagi hajat hidup orang banyak," ujar Luthfi.
Luthfi tak lekas berpuas diri dengan apa yang baru dicapainya. Dia ingin terus mengembangkan alat ini, termasuk memperbaiki bentuknya agar lebih ramping sehingga ringan ditenteng. Dia juga ingin ada lebih banyak petani yang memanfaatkan DLCC.
Didukung oleh LIPI, pemuda yang bercita-cita belajar ilmu komputer di luar negeri ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke luar negeri.
"Yang paling utama saya pengen bisa mengaplikasikan teknologi di masyarakat," pungkasnya. (detik.com)
Bantu Petani, Siswa Indonesia Juara Dunia
Siswa SMAN 1 Bogor membuat Digital Leaf Colour Chart.
Penggunaan pupuk yang tidak optimal berdampak pada produksi padi di kalangan petani. Melihat masalah ini, siswa SMAN 1 Bogor, Muhammad Luthfi Nurfakhri membuat solusi dengan Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital). Alat ini secara konseptual merevolusi metode Bagan Warna Daun (BWD) yang lazim digunakan oleh petani.
Metode bagan warna merupakan cara pemberian pupuk nitrogen pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan oleh bagan konvensional. Penggunaan BWD memiliki kelemahan karena warna tumbuhan padi kadang tidak sesuai dengan bagan warna. Akibatnya, pemberian pupuk tidak sesuai dengan prioritas seharusnya.
"Alat yang saya buat berguna untuk deteksi kebutuan pupuk tanaman padi secara objektif," ungkap Luthfi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.
Bagan digital ini terdiri dari dua bagian utama: sensor warna daun dan rangkaian piranti elektronik. Dalam rangkaian ini terdapat IC (integrated circuit), micro controller, resistor, dan baterai 12 volt. Bagian ini membantu memproses data kebutuhan pupuk yang dibutuhkan padi.
Penggunaan perangkat ini tergolong mudah. Daun padi dimasukkan ke ujung bagian sensor. Dengan cepat, hasil pemindaian akan muncul untuk menunjukkan kebutuhan pupuk pada layar tampilan.
"Sensornya sama dengan fotodioda. Tapi, di sini sensor dua sistem. Beda dengan alat sejenis dari Amerika Serikat, klorofilmeter yang hanya ada satu sensor saja. Deteksi ini dengan dua fotodioda," jelasnya.
Luthfi menyebutkan hanya butuh sekali sensor saja pada satu sampel daun padi untuk mengetahui kebutuhan pupuk dalam satu petak. "Ya, langsung dapat diketahui kebutuhannya. Ukuran pupuknya kilogram per hektar," tambahnya.
Menurut Luthfi, langkah ini akan membantu menetukan dosis pupuk sehingga menjadi optimal. Metode ini akan berdampak pada efektivitas produksi padi.
Hasil karya Luthfi membawanya meraih juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Acara ini diselenggarakan di Pennsylvania, Amerika Serikat. (vivanews.com)
Menurut Luthfi, langkah ini akan membantu menetukan dosis pupuk sehingga menjadi optimal. Metode ini akan berdampak pada efektivitas produksi padi.
Hasil karya Luthfi membawanya meraih juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Acara ini diselenggarakan di Pennsylvania, Amerika Serikat. (vivanews.com)
Gagal 135 Kali, Juara Sains Dunia
Percobaannya gagal 135 kali hingga terbakar.
Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa kelas XI SMAN 1 Bogor tidak menyangka mampu menarik hati para juri di kompetisi sains internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012 yang digelar di Pensylvannia, Amerika Serikat.
Karyanya, Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital) terpilih sebagai juara ketiga dalam kompetisi tersebut. Perangkatnya sanggup merevolusi pengukuran pupuk nitrogen yang harus diberikan ke tanaman padi. Selama ini ketidaktepatan pengukuran dapat mengakibatkan produktivitas tanaman padi berkurang.
"Teknologi yang dipilih dalam kompetisi tersebut adalah yang aplikatif ke masyarakat dan mempengaruhi masyarakat," ujar Lutfhi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.
Bakat lutfhi dalam dunia riset tidak tumbuh dalam sekejap. Sejak di SMP, ia sudah rajin ikut kegiatan yang bersifat uji coba teknologi. "Awalnya suka ikutan praktikum, percobaan di sekolah," ujarnya.
Dari ruang laboratorium, bakatnya disalurkan dengan mengikuti kompetisi sains di sekolah. Hasilnya, dia sanggup menghasilkan gelar juara.
"Dari situ, saya semakin termotivasi ikut penelitian," sambung pemuda kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini.
Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.
Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.
Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.
"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.
Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.
Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.
Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.
"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.
Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
"Yang asyik itu jika hipotesa dapat terbukti secara benar, dan dapat menghasilkan teori baru," katanya.
Beda
Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.
Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.
"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.
Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.
"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya
Gagal dan Terbakar
Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
Beda
Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.
Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.
"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.
Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.
"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya
Gagal dan Terbakar
Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
"Justru lebih optimal hasilnya," kata Luthfi.
Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.
"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.
Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.
"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.
Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Untuk mendatang, Luthfi akan terus mengembangkan alat ini. Ia berharap seluruh petani menggunakan alat ini.
"Bentuk lebih kecil dan enteng," sebut siswa yang mengidamkan dapat melanjutkan studi di Carnegie Mellon University, Pitsburg, Amerika Serikat.
Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Temuan Peneliti Indonesia Kalahkan Alat Produksi Amerika
Dari alat canggih yang ditemukannya, ia berhasil menyabet peringkat III pada Intel International Science & Engineering Fair 2012, sebuah ajang adu kemampuan para peneliti muda dari seluruh dunia yang digelar pada pertengahan Mei lalu, di Pennsylvania, Amerika Serikat.
Tidak tanggung-tanggung, alat yang ia temukan mampu mengalahkan harga alat sejenis di pasaran. Dengan harga jual Rp 950.000, "Digital Leaf Color Chart" jauh lebih murah dari alat sejenis yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp 14 juta.
"Hipotesa saya membuat suatu alat dengan obyektivitas tinggi dengan harga yang lebih murah," kata Luthfi kepada Kompas.com seusai menerima beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Rabu (27/6/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.
Ia beranggapan, proses pertumbuhan tanaman padi harus diperhatikan secara baik, salah satunya pada proses pemupukan. Penelitiannya diilhami oleh petani padi di sekitar tempat tinggalnya. Selama ini, para petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD) dalam memberikan pupuk pada tanaman padinya.
Baginya, BWD memiliki kelemahan jika warna padi tidak sesuai maka akan dihitung dengan rata-rata sehingga pemupukan dapat melebihi atau kekurangan nitrogen.
Melalui alat ciptaan Luthfi yang juga dilengkapi dengan Fototransistir sebagai pendeteksi warna daun padi, maka perhitungan pemberian nitrogen pada padi dapat lebih optimal dan ditunjukkan secara digital melalui LCD.
"Singkatnya, alat saya ini berguna untuk mendeteksi kebutuhan pupuk pada tanaman padi. Lalu bisa menentukan dosis yang paling optimal sehingga produksi padi bisa efektif," ujarnya.
Layaknya sebuah temuan, pasti akan melalui proses penelitian, uji coba, dan gagal, sebelum akhirnya berhasil menjadi temuan yang dapat digunakan serta memberikan manfaat. Untuk menciptakan alat ini, Luthfi memerlukan waktu sekitar satu tahun dengan uji coba dan kegagalan sebanyak 135 kali.
Tak hanya itu, ia pun rela merogoh kocek sampai Rp 12 juta yang berasal dari kantong pribadi dan dukungan sekolahnya. Saat penggarapan, ia juga banyak berdiskusi dengan peneliti-peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggal dan sekolahnya.
"Secara kualitas alat saya siap diadu dengan alat sejenis. Karena milik Amerika hanya menggunakan satu sensor dan dijual dengan harga jauh lebih mahal," tuturnya.
Putra seorang dosen Kewirausahaan di Institut Teknologi Indonesia (ITI) ini memang hobi melakukan penelitian sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Hingga saat ini ia berhasil membuat 11 alat dari hasil penelitiannya. Ia berharap penemuan-penemuannya, khususnya "Digital Leaf Color Chat", dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani di seluruh dunia.
"Saya uji coba ke petani di sekitar tempat saya tinggal. Awalnya enggak mau, tapi setelah tahu hasilnya, mereka mau," pungkasnya.
Atas prestasinya, ia berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 1.000 dollar AS dan piagam penghargaan dari militer Amerika Serikat. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga memberikan beasiswa unggulan untuk melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi. Ia berharap dapat mengecap bangku perkuliahan di luar negeri dan kembali mengharumkan nama bangsa serta membawa manfaat untuk Indonesia.(kompas.com)
Langganan:
Postingan (Atom)