host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label KECERDASAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KECERDASAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

Matematika Bukan Satu-satunya Parameter Kecerdasan

Kecerdasan anak tak bisa disamaratakan. Pada dasarnya, anak-anak memiliki kecerdasan yang unik sebagai cerminan dari minat dan bakatnya.

Pemerhati pendidikan anak Seto Mulyadi mengatakan, seringkali orangtua mengukur kecerdasan anak melalui mata pelajaran tertentu, misalnya anak yang kuat di mata pelajaran matematika dianggap cerdas, dan sebaliknya, stigma kurang cerdas kerap disematkan pada anak-anak yang rendah nilai matematikanya.

"Seolah-olah cerdas matematika di atas segalanya, padahal anak-anak memiliki kecerdasan di sisi lain. Sebagai musisi, pelukis, orator, atau apapun yang menjadi minat dan bakatnya," kata pria yang akrab disapa Kak Seto dalam sebuah seminar bertajuk "Menyikapi Kekerasan Pada Anak Usia Dini" yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Ciputat, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2012).

Cara belajar setiap anak, kata dia, juga berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh kemampuan setiap anak menyerap materi ajar yang disampaikan. Beberapa anak bisa belajar dengan "anteng", sedangkan lainnya bukan tak mungkin memerlukan suasana yang berbeda.

"Ada juga yang karena bergerak anak itu menjadi cerdas. Itulah kenapa banyak lahir sekolah alam," ujarnya.

Kak Seto menegaskan, memaksa anak untuk menguasai satu mata pelajaran atau bidang tertentu merupakan bentuk lain dalam kekerasan kepada anak. Sayangnya, masih banyak guru atau orangtua yang tidak menyadari hal tersebut.

"Memaksa anak yang cerdas bernyanyi untuk cerdas Matematika adalah kekerasan yang tidak kita sadari. Semua anak pada dasarnya cerdas. Menjadi sayang saat tak dihargai dan tak akan bisa cemerlang," tandasnya.
(kompas.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel penelitian dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share

Ini yang Dilakukan Anak-anak Cerdas di Luar Kelas

Kebanyakan anak-anak yang cerdas hidup dengan otak yang bekerja cerdas dan memikirkan untuk tidak bertindak bodoh. Ini bukan sekadar soal kemampuan intelegensia, melainkan keterampilan.

Penting bagi Anda untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama mereka dan melihat dunia tempat mereka hidup. Mereka berupaya tinggal dalam lingkungan yang tepat dan menghindarkan mereka dari berbagai jenis gangguan.

Berikut adalah lima perilaku penting yang dilakukan oleh anak-anak yang cerdas di luar kelas formal.

1) Mereka tidak bersekolah sebagai wisatawan. Anak-anak pintar mengambil bagian dalam kegiatan sekolah di luar kelas. Mereka menghadiri acara kampus dan mengikuti klub kampus. 

Sebagian besar dari kesuksesan di perguruan tinggi adalah menciptakan jaringan baru dari teman-teman, termasuk dari aktivitas acara dan klub kampus. Ini tidak berarti bahwa Anda memutus hubungan dengan teman-teman lama Anda, tetapi ini berarti memperluas jaringan Anda. Cobalah beberapa aktivitas, mulai dari pertunjukkan teater, konser, ceramah, dan acara-acara lain yang menjadi bagian dari masyarakat.

2) Anak-anak pintar tidak hanya duduk di kelas. Mereka berinteraksi di kelas, bahkan pada saat kuliah. Jika tidak dapat berinteraksi dengan guru, mereka berinteraksi dengan rekan-rekan atau bahkan dengan diri mereka sendiri, menebak apa yang guru mungkin katakan selanjutnya, mencoba menyimpulkan poin bersama-sama, mencoba membuat asosiasi dengan hal-hal lain yang mereka tahu dan pengalaman lain yang mereka miliki. Kadang-kadang itu adalah perjuangan untuk membayar perhatian di kelas, tetapi perjuangan yang juga sering mendatangkan manfaat. 

3) Ketika mereka belajar, di sebagian besar waktu, mereka hanya belajar. Anak-anak cerdas ini belajar dengan tidak melakukan hal-hal lain. Katakanlah Anda memiliki lima mata pelajaran dan masing-masing membutuhkan 2 jam belajar dalam satu minggu di rumah. Mereka akan melakukannya dengan baik. Itu artinya, hanya 10 jam mereka belajar dalam seminggu dan itu efektif.

Anak-anak lain sering menghabiskan waktu di antara waktu belajar, misalnya, bergosip dengan teman-teman dan menonton televisi. Anak-anak ini hanya memiliki sedikit usaha untuk konsentrasi.

4) Mereka berbicara dengan teman-teman dan keluarga tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Jika Anda tidak ingin menghabiskan beberapa waktu luang Anda berbicara tentang sekolah, Anda melakukan sesuatu yang salah. 

Akan tetapi, banyak dari kita hanya memiliki teman-teman yang tidak suka bicara tentang sekolah. Padahal, di perguruan tinggi, Anda akan menemui kebebasan untuk berbicara tentang mata kuliah dengan klub ataupun dengan profesor setelah jam kuliah usai.

5) Mereka memahami bahwa jurusan atau mata kuliah yang berbeda memerlukan cara belajar yang berbeda pula. Anak cerdas tahu setiap hal tentu saja tidak sama. Di perguruan tinggi, Anda akan perlu untuk menyesuaikan diri dengan dosen yang berbeda yang memiliki cara yang berbeda untuk menjalankan kelas mereka dan cara yang berbeda untuk mengevaluasi prestasi Anda. 

Hal ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu dunia karier nantinya. Anda harus mencoba untuk menentukan bagaimana kelas dijalankan serta bagaimana Anda akan dinilai dan merencanakan Anda belajar sesuai mata kuliah yang Anda ikuti. Ada kelas ketika saya hanya harus membaca buku di kelas dan kelas saat saya harus selalu membaca sebelum mengikuti suatu kelas. 

Itu juga terjadi saat menghadapi guru atau dosen yang gemar memberikan tes dalam bentuk pilihan ganda atau esai. Mungkin, saat akan menjalani tes dari pengajar yang suka pilihan ganda, rajin membaca saja cukup. Namun, saat berada di kelas yang dinilai dengan esai, jangan berharap melakukannya dengan baik jika tidak rajin berdiskusi.
(kompas.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel penelitian dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share

Kamis, 30 Agustus 2012

Olahraga Berpengaruh Terhadap Kecerdasan

Baik untuk meningkatkan kecerdasan, bahkan di hari tes. 

Manfaat olahraga memang sudah sangat jelas, mulai dari kebaikan untuk kesehatan, kebahagiaan, juga bentuk tubuh indah. Penelitian terkini mengatakan, olahraga juga baik untuk kecerdasan. 

Hasil studi yang dilangsungkan di Dartmouth College, Amerika Serikat mengatakan, berolahraga tak hanya meningkatkan pompa darah pada tubuh, tetapi juga membantu membanjiri otak dengan gen BDNF (Brain Derived Neurotrophic Factor), yakni protein yang penting untuk membantu ketajaman mental, belajar, dan memori.

Tes dilangsungkan dengan meminta dua kelompok lelaki sehat berusia dewasa untuk berolahraga setiap hari selama 4 minggu. 

Grup pertama diminta berolahraga sebelum melakukan tes di hari terakhir studi. Grup kedua diminta tidak berolahraga di hari tes. Di hari tes, ada tambahan grup, sekelompok orang yang hanya berolahraga di hari tes. 

Hasil penelitian mengungkap, grup yang selalu berolahraga, termasuk yang berolahraga di hari tes, memiliki manfaat dorongan dalam BDNF. Sementara grup lain tidak. 

Pemimpin penelitian ini, Michael Hopkins, mengatakan, jenis olahraga yang dimaksud di sini bukan tipe olahraga berintensitas tinggi, tetapi berjalan dengan kecepatan sedang saja sudah cukup

"Untuk manfaat mental, yang berpengaruh adalah olahraga rutin, bukan intensitasnya. Anda tak perlu berpeluh habis-habisan saat berolahraga," kata Hopkins. 

Tujuan yang ingin ditekankan Hopkins adalah untuk membuat tubuh bergerak, setidaknya 4-5 hari seminggu. 

Hal ini memang bukan pengetahuan baru. Sejak lama diketahui, menggerakkan tubuh bisa membantu sirkulasi darah dalam tubuh, yang pada akhirnya akan mengantarkan oksigen ke otak dan membantu otak bekerja lebih aktif. 

Sebuah studi yang dilakukan di Karolinska Institute menemukan, para pemain sepakbola memiliki kemampuan kognitif yang lebih unggul di beberapa bidang; pemecahan masalah kreatif, multitasking, inhibisi, dan memori. 
(beritasatu.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel hasil penelitian ilmiah dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share

Jari Tangan Ungkap Kecerdasan Seseorang

Ilustrasi jari tanganBila jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk, cenderung unggul kemampuan matematikanya.

Menentukan kecerdasan seseorang tak bisa hanya mengandalkan tampilan fisik, karena seringkali kita menemukan fakta yang berseberangan. 

Seseorang yang penampilan fisiknya menarik ternyata tak berkorelasi positif dengan kemampuan otaknya yang cerdas, dan sebaliknya.

Lantas bagaimana cara mudah untuk mengukur kecerdasan seseorang tanpa perlu menjalani psikotes atau tes intelegensia? 

Mark Brosnan, peneliti dari Universitas Bath mengatakan, ada bagian tubuh manusia yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kecerdasan seseorang, yaitu dengan melihat perbandingan panjang jari manis dan jari telunjuknya.

Orang yang memiliki jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk, lanjutnya, cenderung punya  kemampuan matematika yang lebih tinggi ketimbang kemampuan verbal dan bahasa.

Jika perbandingan sebaliknya, umumnya memiliki kemampuan verbal seperti menulis dan membaca yang lebih baik ketimbang matematika.

"Panjang jari-jari tangan merefleksikan perkembangan bagian-bagian di otak," jelas Brosnan.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa pertumbuhan jari-jari tangan manusia berbeda-beda, tergantung kadar hormon testosteron dan estrogen di dalam rahim saat bayi dikandung ibunya.

Kadar testosteron yang tinggi diyakini mendukung perkembangan bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan matematika dan pandang ruang.

Hormon itu pula yang menyebabkan jari manis tumbuh lebih panjang. Begitu pula dengan estrogen yang juga mendorong efek yang sama pada bagian otak, tapi yang berhubungan dengan kemampuan verbal.

Hormon ini juga mendukung pertumbuhan jari telunjuk, sehingga lebih panjang daripada jari manis. (beritasatu.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel hasil penelitian ilmiah dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG