host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Sunat Turunkan Risiko Kanker Penis

Prosedur sunat pada anak lelakiMenurunkan pula risiko penyakit infeksi menular seksual dan infeksi saluran kemih.

Dokter anak terkemuka di Amerika Serikat mengatakan, bahwa manfaat kesehatan dari sunat bayi laki-laki lebih besar daripada risiko yang terkait dengan penyakit yang bisa dideritanya di kemudian hari.

The American Academy of Pediatrics (AAP) yang sebelumnya menentang sunat pada bayi yang baru lahir mengatakan, bahwa orangtua harus memutuskan dan mendesak perusahaan asuransi untuk membayar prosedur tersebut.

"Manfaat kesehatan sunat pada bayi laki-laki yang baru lahir memang benar," imbuh  lembaga independen tersebut.

Rekomendasi tersebut muncul setelah penelitian menunjukkan, bahwa sunat mengurangi kemungkinan tertular penyakit infeksi menular seksual, termasuk HIV. Prosedur ini juga diklaim dapat menurunkan kemungkinan infeksi saluran kemih dan kanker penis.

Di Inggris sendiri, diperkirakan sekitar 30 ribu anak laki-laki di Inggris disunat setiap tahunnya. 
(beritasatu.com)
Bookmark and Share

Minggu, 02 September 2012

Obat AIDS Sudah di Depan Mata


Washington (AFP/ANTARA) – Peraih Nobel yang membantu menemukan HIV mengatakan bahwa obat untuk AIDS sudah ada di depan mata, menyusul sejumlah penemuan baru-baru ini, dalam sebuah wawancara dengan AFP menjelang konferensi global mengenai penyakit tersebut.

Francoise Barre-Sinoussi, yang memenangkan Nobel dalam dunia kedokteran pada 2008 sebagai bagian dari sebuah tim yang menemukan human immunodeficiency virus (HIV), yang menyebabkan AIDS, mengatakan bahwa penelitian ilmiah sudah semakin dekat menemukan obat dari penyakit tersebut. 

Dia menyebutkan seorang pasien di Berlin yang tampaknya berhasil disembuhkan melalui transplantasi sumsum tulang, "yang membuktikan bahwa menemukan cara untuk menghilangkan virus tersebut dari tubuh adalah sesuatu yang realistis." 

"Ada harapan ... namun jangan minta saya untuk menyebutkan pastinya, karena kami tidak tahu.”

Dia juga mengatakan bahwa “secara prinsip” akan ada kemungkinan untuk menghilangkan pandemi AIDS pada 2050 mendatang, tentu saja jika tidak ada hambatan dalam menemukan obatnya.

Hambatan-hambatan utama justru bukanlah dari sisi ilmiah namun datang dari politik, ekonomi dan sosial. Menurutnya, masalah muncul dalam bentuk kurangnya akses untuk melakukan pengujian dan kurangnya akses obat-obatan di daerah-daerah miskin dan pedesaan, serta stigma seputar virus tersebut, yang menyebabkan gagalnya deteksi dini dan upaya pengobatan.

Sekitar 25.000 orang, termasuk selebriti, ilmuwan dan penderita HIV, diperkirakan akan berada di ibu kota Amerika Serikat pada Minggu untuk menyerukan aksi global yang lebih giat untuk mengatasi epidemi AIDS, yang telah berlangsung selama tiga dekade.
(id.berita.yahoo.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel hasil penelitian ilmiah dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share

Jumat, 29 Juni 2012

Kembangkan Tes HIV Murah


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember, Jawa Timur, merintis metode tes yang lebih mudah untuk mengetahui penderita yang positif tertular HIV/AIDS.
"Ide awalnya dari diskusi mengenai data dan fakta bahwa tanda-tanda seseorang menderita HIV/AIDS bisa diketahui melalui kondisi rongga mulutnya karena biasanya penderita HIV/AIDS memiliki gusi membengkak dan merah karena infeksi," kata salah seorang mahasiswa FKG Ahmad Syaifuddin di Jember, Jumat (29/6/2012).
Tiga mahasiswa FKG Unej, yakni Ahmad Syaifuddin, Alex Willyandre dan Khoirul Anam membuat kajian literatur yang berjudul "Inovasi Microfluidics Chip Berbasis Nucleic Acid Testing sebagai Detektor Antibodi HIV-1 pada Gingival Crevicular Fluid" untuk mengetahui apakah seseorang itu terinfeksi HIV/AIDS.
Kajian literatur itu berhasil menjadi juara pertama dalam ajang "literatur review" dalam rangka "Dentistry Scientific Meeting (DSM) VI 2012" yang digelar oleh FKG Universitas Indonesia di Jakarta.
Menurut Ahmad, deteksi penderita HIV/AIDS kebanyakan memakai tes darah dengan metode ELISA atau Western Blot dan kedua metode itu harus dilakukan di klinik atau rumah sakit tertentu dengan pengawasan tenaga kesehatan yang sudah terlatih dan tes darah biasanya baru diketahui setelah 24 jam.
"Kami bertiga mencoba mencari ide bagaimana mencari alat yang mampu mendeteksi dengan pasti gejala HIV/AIDS tersebut dari kondisi rongga mulut karena metode itu bisa dilakukan dengan cepat, lebih mudah, dan murah," tuturnya.
Setelah melakukan studi literatur kurang lebih selama seminggu, tiga mahasiswa FKG Unej itu memastikan bahwa alat Microfluidics Chip temuan Prof Samuel Sue dari Columbia University, Amerika Serikat, dapat digunakan untuk melakukan tes HIV/AIDS.
"Sebelumnya Microfluidics Chip lebih sering digunakan untuk tes penyakit kelamin dan penyakit lainnya, namun belum digunakan untuk mendeteksi pasien yang tertular HIV/AIDS," paparnya. (kompas.com)
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG