host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

Ini yang Dilakukan Anak-anak Cerdas di Luar Kelas

Kebanyakan anak-anak yang cerdas hidup dengan otak yang bekerja cerdas dan memikirkan untuk tidak bertindak bodoh. Ini bukan sekadar soal kemampuan intelegensia, melainkan keterampilan.

Penting bagi Anda untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama mereka dan melihat dunia tempat mereka hidup. Mereka berupaya tinggal dalam lingkungan yang tepat dan menghindarkan mereka dari berbagai jenis gangguan.

Berikut adalah lima perilaku penting yang dilakukan oleh anak-anak yang cerdas di luar kelas formal.

1) Mereka tidak bersekolah sebagai wisatawan. Anak-anak pintar mengambil bagian dalam kegiatan sekolah di luar kelas. Mereka menghadiri acara kampus dan mengikuti klub kampus. 

Sebagian besar dari kesuksesan di perguruan tinggi adalah menciptakan jaringan baru dari teman-teman, termasuk dari aktivitas acara dan klub kampus. Ini tidak berarti bahwa Anda memutus hubungan dengan teman-teman lama Anda, tetapi ini berarti memperluas jaringan Anda. Cobalah beberapa aktivitas, mulai dari pertunjukkan teater, konser, ceramah, dan acara-acara lain yang menjadi bagian dari masyarakat.

2) Anak-anak pintar tidak hanya duduk di kelas. Mereka berinteraksi di kelas, bahkan pada saat kuliah. Jika tidak dapat berinteraksi dengan guru, mereka berinteraksi dengan rekan-rekan atau bahkan dengan diri mereka sendiri, menebak apa yang guru mungkin katakan selanjutnya, mencoba menyimpulkan poin bersama-sama, mencoba membuat asosiasi dengan hal-hal lain yang mereka tahu dan pengalaman lain yang mereka miliki. Kadang-kadang itu adalah perjuangan untuk membayar perhatian di kelas, tetapi perjuangan yang juga sering mendatangkan manfaat. 

3) Ketika mereka belajar, di sebagian besar waktu, mereka hanya belajar. Anak-anak cerdas ini belajar dengan tidak melakukan hal-hal lain. Katakanlah Anda memiliki lima mata pelajaran dan masing-masing membutuhkan 2 jam belajar dalam satu minggu di rumah. Mereka akan melakukannya dengan baik. Itu artinya, hanya 10 jam mereka belajar dalam seminggu dan itu efektif.

Anak-anak lain sering menghabiskan waktu di antara waktu belajar, misalnya, bergosip dengan teman-teman dan menonton televisi. Anak-anak ini hanya memiliki sedikit usaha untuk konsentrasi.

4) Mereka berbicara dengan teman-teman dan keluarga tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Jika Anda tidak ingin menghabiskan beberapa waktu luang Anda berbicara tentang sekolah, Anda melakukan sesuatu yang salah. 

Akan tetapi, banyak dari kita hanya memiliki teman-teman yang tidak suka bicara tentang sekolah. Padahal, di perguruan tinggi, Anda akan menemui kebebasan untuk berbicara tentang mata kuliah dengan klub ataupun dengan profesor setelah jam kuliah usai.

5) Mereka memahami bahwa jurusan atau mata kuliah yang berbeda memerlukan cara belajar yang berbeda pula. Anak cerdas tahu setiap hal tentu saja tidak sama. Di perguruan tinggi, Anda akan perlu untuk menyesuaikan diri dengan dosen yang berbeda yang memiliki cara yang berbeda untuk menjalankan kelas mereka dan cara yang berbeda untuk mengevaluasi prestasi Anda. 

Hal ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu dunia karier nantinya. Anda harus mencoba untuk menentukan bagaimana kelas dijalankan serta bagaimana Anda akan dinilai dan merencanakan Anda belajar sesuai mata kuliah yang Anda ikuti. Ada kelas ketika saya hanya harus membaca buku di kelas dan kelas saat saya harus selalu membaca sebelum mengikuti suatu kelas. 

Itu juga terjadi saat menghadapi guru atau dosen yang gemar memberikan tes dalam bentuk pilihan ganda atau esai. Mungkin, saat akan menjalani tes dari pengajar yang suka pilihan ganda, rajin membaca saja cukup. Namun, saat berada di kelas yang dinilai dengan esai, jangan berharap melakukannya dengan baik jika tidak rajin berdiskusi.
(kompas.com)

Terima Kasih atas Kunjungan anda ke REFERENSI PENELITIAN: Halaman web yang mengumpulkan dan update artikel penelitian dan referensi penelitian terbaru di bidang sains, teknologi, kesehatan, pendidikan, pertanian, kehutanan, life style, tips, resep dan lain-lain. 
Bookmark and Share

Minggu, 15 Juli 2012

Kenapa Orang Bisa Kena Kanker?

Mendengar kata kanker, orang akan langsung bergidik. Penyakit ganas ini menyerang tanpa pandang usia dan jenis kelamin. Yang mengkhawatirkan, penyakit ini sulit atau bahkan hampir mustahil disembuhkan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apa yang bisa membuat seseorang terkena kanker?

Kanker pada dasarnya terjadi karena mutasi sel-sel normal secara berulang sehingga membentuk sel ganas yang berkembang secara tak terkendali dan mengganggu kelangsungan hidup sel-sel normal.

Yang unik dari sel kanker adalah kemampuannya untuk membuat sendiri pembuluh darah agar sel-sel kanker yang tumbuh dapat memasok makanannya sendiri.

Seluruh sel-sel di bagian tubuh yang bisa membelah bisa berubah menjadi sel kanker, kecuali kuku dan rambut. Oleh karena itu, kanker ada berbagai macam jenis sesuai tempat tumbuhnya, mulai dari kanker kulit, payudara, prostat, paru, hingga kanker darah. Penyebabnya pun juga beraneka ragam.

"Faktor penyebab kanker adalah keturunan dan lingkungan. Orang belum tentu kena kanker jika belum ada kesesuaian antara faktor keturunan dan lingkungan. Contohnya pada pasien kanker paru, ada banyak pasien yang terserang kanker paru karena kebiasaan merokok. Namun ada juga perokok yang tidak terkena kanker paru. Padahal rokok diketahui sangat berisiko memicu kanker," kata Dr dr Andhika Rachman, SpPD, dokter ahli kanker dari RS Kanker Dharmais seperti dituturkan kepada detikHealth, Rabu (27/6/2012).

Secara umum, dr Andhika menjelaskan bahwa penyebab kanker bisa digolongkan karena acquired dan congenital. Dikatakanacquired jika proses terjadinya kanker karena berbagai faktor yang didapatkan setelah kelahiran. Sedangkan congenital jika kanker terjadi karena proses patologis atau individu sudah berpotensi kanker sejak sebelum dilahirkan.

imgFaktor-faktor yang didapat setelah kelahiran dari lingkungan (acquired) jauh lebih besar pengaruhnya dalam perkembangan kanker. Perbandingan kasarnya adalah sekitar 80% kejadian kanker bersifat acquired dan 20% sisanya karena congenital.

Penyebab dari faktor lingkungan pun ada bermacam-macam, salah satu contohnya adalah makanan. Makanan yang mengandung kadar garam yang tinggi, makanan yang diasapi, daging merah, makanan fermentasi, makanan gosong hingga bahan kimia dalam makanan seperti formalin terbukti bisa memicu kanker.

Mutasi sel bisa juga disebabkan oleh radiasi nuklir. Contoh kasusnya, beberapa tahun setelah bom atom meluluhlantakkan kota Hiroshima pada Perang Dunia II, warga di sekitar kota yang masih selamat banyak mengalami kanker kulit. Tak hanya itu, paparan medan listrik di luar kapasitas yang mampu diterima oleh sel juga bisa memicu kanker.

"Pada kanker hati, penyebabnya kebanyakan dipicu oleh penyakit hepatitits B dan C. Kanker lambung bisa dipicu oleh infeksi Helicobacter pylori karena maag yang terjadi secara berulang sehingga merusak lapisan lambung. Kanker esofagus bisa ditimbulkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan. Seringnya asam lambung yang naik ini akan menciptakan baret esofagus dan akhirnya memicu kanker," kata dr Andhika.

Dr Andhika sangat menganjurkan pentingnya deteksi dini. Semakin cepat kanker dideteksi, kemungkinan sembuhya juga makin besar. Kanker yang masih berada dalam stadium bawah masih memiliki kemungkinan besar untuk disembuhkan. Semakin lanjut stadiumnya, maka kanker akan makin sulit disembuhkan.

Beberapa tingkat keparahan kanker beserta kemungkinan sembuhnya adalah sebagai berikut:

Pada stadium I, kemungkinan sembuhnya sebesar 90%
Pada stadium II, kemungkinan sembuhnya menurun jadi 70%
Pada stadium II, kemungkinan sembuhnya menjadi 40%, dan
pada stadium IV, pasien hanya memiliki 20% kemungkinan bertahan hidup
(detik.com)
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG