host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label ASPIRATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASPIRATIF. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

Jawara Sains di Amerika Asal Bogor


Muhammad Luthfi Nurfakhri tekun menyusun komponen yang berserakan di hadapannya. Ratusan kali gagal tak menyurutkan semangatnya. Tekadnya hanya satu, bagaimana semua komponen di hadapannya terangkai menjadi alat yang bisa membantu pekerjaan para petani di sekitar rumahnya. 

"Kurang lebih 135 kali saya gagal," kata Luthfi, demikian dia akrab disapa, mengenang perjuangannya merakit perangkat bernama Digital Leaf Color Chart (DLCC). 

Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bogor ini mengatakan satu-satunya kendala yang dihadapinya hanyalah terkait dengan persoalan teknis. Dia bersyukur, masalah lain bisa diatasi berkat dukungan dari keluarga dan sekolah yang membantunya fokus menggarap penelitian. 

Berulang kali mengotak-atik DLCC menjadi pengalaman berkesan baginya. Setiap kegagalan tak mengusik semangatnya. Malah, tekad putra dari pasangan Iyus Hendrawan dan Endang Sri Rejeki ini kian membaja. 

Modal 12 juta yang dikumpulkannya dari kemenangan Lomba Karya Ilmiah Remaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, dimaksimalkan untuk menggarap proyek ini. Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengerjakannya.

"Masalahnya lebih ke sisi teknis, sensornya beda-beda. Belum lagi terbakar, jadi rusak alatnya. Saya juga harus bolak balik ke Jakarta. Beli komponennya di Glodok," ujar pemuda kalem ini seraya tersenyum. 

Juara di Amerika

Siapa sangka, perangkat inilah yang kemudian mengantarkannya mengharumkan nama Indonesia. Padahal semula, dia hanya ingin para petani di sekitar rumahnya bisa lebih efisien dalam menebar pupuk. 

"Saya lihat di lingkungan sekitar rumah saya belum maksimal produksi padinya karena penyebaran pupuknya tanpa perhitungan," ujarnya. 

Agar efektif, jumlah pupuk yang disebar harus dihitung. Memang, selama ini petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD), yaitu cara pemberian pupuk pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan BWD. 

Namun cara ini punya kelemahan yakni jika warna padi tidak sesuai, maka akan dihitung dengan rata-rata, sehingga pemupukan dapat berlebihan atau bisa kekurangan. 

Alat yang dikembangkannya, menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.

"Untuk pengukuran pemupukan satu hektar sawah, cukup ambil satu sampel daun," ujarnya sambil memamerkan alat buatannya. 

Jadi, Digital Leaf Color Chart (DLCC) adalah perangkat digital pendeteksi warna daun untuk efisiensi pemupukan. 

Sejauh ini, DLCC sudah diaplikasikan para petani di sekitar rumah Luthfi. Butuh keuletan juga memperkenalkan alat ini kepada para petani. 

"Awalnya mereka gak mau, gak percaya karena penggunaan pupuknya jadi lebih sedikit. Tapi setelah dicoba, dilihat produksi padinya malah lebih optimal," kata Luthfi berseri-seri.


Perangkat yang aplikatif

DLCC menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF), kategori teknik (elektris dan mekanik). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.600 finalis yang berasal dari 70 negara.

Karya remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini rupanya dinilai aplikatif dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. "Jadi kami yang mengikuti kompetisi ini dilihat oleh juri, apakah teknologinya bisa digunakan bagi hajat hidup orang banyak," ujar Luthfi. 

Luthfi tak lekas berpuas diri dengan apa yang baru dicapainya. Dia ingin terus mengembangkan alat ini, termasuk memperbaiki bentuknya agar lebih ramping sehingga ringan ditenteng. Dia juga ingin ada lebih banyak petani yang memanfaatkan DLCC. 

Didukung oleh LIPI, pemuda yang bercita-cita belajar ilmu komputer di luar negeri ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke luar negeri. 

"Yang paling utama saya pengen bisa mengaplikasikan teknologi di masyarakat," pungkasnya. (detik.com)
Bookmark and Share

Bantu Petani, Siswa Indonesia Juara Dunia


Siswa SMAN 1 Bogor membuat Digital Leaf Colour Chart.


Penggunaan pupuk yang tidak optimal berdampak pada produksi padi di kalangan petani. Melihat masalah ini, siswa SMAN 1 Bogor, Muhammad Luthfi Nurfakhri membuat solusi dengan Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital). Alat ini secara konseptual merevolusi metode Bagan Warna Daun (BWD) yang lazim digunakan oleh petani.

Metode bagan warna merupakan cara pemberian pupuk nitrogen pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan oleh bagan konvensional. Penggunaan BWD memiliki kelemahan karena warna tumbuhan padi kadang tidak sesuai dengan bagan warna. Akibatnya, pemberian pupuk tidak sesuai dengan prioritas seharusnya.

"Alat yang saya buat berguna untuk deteksi kebutuan pupuk tanaman padi secara objektif," ungkap Luthfi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bagan digital ini terdiri dari dua bagian utama: sensor warna daun dan rangkaian piranti elektronik. Dalam rangkaian ini terdapat IC (integrated circuit), micro controller, resistor, dan baterai 12 volt. Bagian ini membantu memproses data kebutuhan pupuk yang dibutuhkan padi.

Penggunaan perangkat ini tergolong mudah. Daun padi dimasukkan ke ujung bagian sensor. Dengan cepat, hasil pemindaian akan muncul untuk menunjukkan kebutuhan pupuk pada layar tampilan.

"Sensornya sama dengan fotodioda. Tapi, di sini sensor dua sistem. Beda dengan alat sejenis dari Amerika Serikat, klorofilmeter yang hanya ada satu sensor saja. Deteksi ini dengan dua fotodioda," jelasnya.
Luthfi menyebutkan hanya butuh sekali sensor saja pada satu sampel daun padi untuk mengetahui kebutuhan pupuk dalam satu petak. "Ya, langsung dapat diketahui kebutuhannya. Ukuran pupuknya kilogram per hektar," tambahnya.

Menurut  Luthfi, langkah ini akan membantu menetukan dosis pupuk sehingga menjadi optimal. Metode ini akan berdampak pada efektivitas produksi padi.

Hasil karya Luthfi membawanya meraih juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Acara ini diselenggarakan di Pennsylvania, Amerika Serikat. (vivanews.com)
Bookmark and Share

Gagal 135 Kali, Juara Sains Dunia


Percobaannya gagal 135 kali hingga terbakar.


Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa kelas XI SMAN 1 Bogor tidak menyangka mampu menarik hati para juri di kompetisi sains internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012 yang digelar di Pensylvannia, Amerika Serikat.

Karyanya, Digital Leaf Colour Chart (Bagan Warna Daun Digital) terpilih sebagai juara ketiga dalam kompetisi tersebut. Perangkatnya sanggup  merevolusi pengukuran pupuk nitrogen yang harus diberikan ke tanaman padi. Selama ini ketidaktepatan pengukuran dapat mengakibatkan produktivitas tanaman padi berkurang.

"Teknologi yang dipilih dalam kompetisi tersebut adalah yang aplikatif ke masyarakat dan mempengaruhi masyarakat," ujar Lutfhi saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 27 Juni 2012.

Bakat lutfhi dalam dunia riset tidak tumbuh dalam sekejap. Sejak di SMP, ia sudah rajin ikut kegiatan yang bersifat uji coba teknologi. "Awalnya suka ikutan praktikum, percobaan di sekolah," ujarnya.
Dari ruang laboratorium, bakatnya disalurkan dengan mengikuti kompetisi sains di sekolah. Hasilnya, dia sanggup menghasilkan gelar juara.
"Dari situ, saya semakin termotivasi ikut penelitian," sambung pemuda kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini.

Luthfi mengaku dari SMP sampai saat ini sudah menelorkan 11 penelitian. Hasil temuannya yakni kompor sumbu dengan bahan bakar minyak jelantah dan alat pengembang roti. Temuan terbarunya, Digital Leaf Colour Chart, sudah digunakan oleh masyarakat luas.

Luthfi sebelumnya menjadi pemenang I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 2011 Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT) LIPI. Ia direkrut oleh Intel untuk diikutkan dalam kompetisi internasional tersebut.

Peran kedua orangtuanya juga tidak bisa dipungkiri membantu Luthfi mengenali dunia penelitian. Ayah Luthfi menjadi dosen Kewirausahaan Institut Teknologi Indonesia. Ibunya bekerja sebagai guru SD.

"Mereka mendukung saya dengan cerita seputar penelitian, kasih arahan teknis bagaimana metode penelitian sampai penulisan naskah yang benar," katanya.

Bagi Luthfi, dunia penelitian menjadi hal yang mengasyikkan. Terlebih apabila berhasil termukan hal yang baru.
"Yang asyik itu jika hipotesa dapat terbukti secara benar, dan dapat menghasilkan teori baru," katanya.

Beda

Luthfi ternyata tumbuh dalam pergaulan yang tidak begitu menyukai penelitian. Teman sekelasnya tidak ada yang punya kegemaran yang sama. Semuanya teman-temannya lebih suka teori dengan mengerjakan soal-soal.

Meski sering ikut kompetisi dan mendapatkan hadiah uang, ia mengaku tak terlalu mengejar materi.

"Prinsipnya bukan soal uang itu. Saya lebih senang jika karya dapat memanfaatkan alat yang saya buat," lanjutnya.

Lalu hadiah uang yang selama ini terkumpul lari ke mana? Luthfi hanya tersenyum. Ia lebih memilih menginvestasikan hadiah uangnya untuk mengembangkan alat-alat karyanya agar segera dipatenkan.

"Ya,kalau masih ada buat umroh orang tua," katanya

Gagal dan Terbakar

Awalnya petani enggan menggunakan alat pendeteksi warna daun ini. Tapi, kini mereka membuktikannya sendiri.
"Justru lebih optimal hasilnya," kata Luthfi.

Luthfi mengaku mengalami kegagalan 135 kali dalam percobaan. Kesulitan tersebut dialaminya ketika menentukan posisi sudut sensor. Posisi barcode berpengaruh pada sensitivitas sensor.

"Saya coba sensor IC yang berbeda, kena kebakaran lagi. Terus alat beli lagi di Glodok," katanya.

Alat kreasi Luthfi ini dihargai Rp950 ribu Jauh lebih murah dibanding dengan alat klorofil meter dari Amerika Serikat yang mencapai Rp14 juta.
Untuk mendatang, Luthfi akan terus mengembangkan alat ini. Ia berharap seluruh petani menggunakan alat ini.
"Bentuk lebih kecil dan enteng," sebut siswa yang mengidamkan dapat melanjutkan studi di Carnegie Mellon University, Pitsburg, Amerika Serikat.

Hasil karya Luthfi meraih predikat juara ketiga kompetisi ilmu pengetahuan internasional, Intel International Science and Engineering Fair 2012. Atas prestasinya tersebut, ia mendapat uang senilai US$1.000 dan penghargaan Angkatan Darat Amerika Serikat. Bahkan, Luthfi juga meraih beasiswa dari Kemendikbud. (vivanews.com)
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG