host

Hosting Gratis
Tampilkan postingan dengan label SINTETIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINTETIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Makanan Organik Tak Lebih Sehat Dari Non-Organik?

 Sayur-sayuran dan daging organik ternyata tidak lebih baik dari sayuran dan daging biasa dari segi vitamin dan gizi. Hal ini adalah hasil uji dari bukti-bukti yang terkumpul.

Meski begitu, makanan organik masih terbukti dalam menurunkan risiko paparan terhadap residu pestisida dan bakteri kebal antibiotik, kata para peneliti dari Stanford University dan Veterans Affairs Palo Alto Health Care System.

"Orang memilih makanan organik untuk alasan berbeda-beda. Salah satunya adalah keuntungan kesehatan," kata Dr Crystal Smith-Spangler yang memimpin penelitian tersebut.

"Pasien dan keluarga kami bertanya, 'Apakah ada alasan-alasan kesehatan untuk memilih makanan organik dari segi gizi jika dibandingkan dengan dampaknya untuk kesehatan manusia?'"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia dan para koleganya menguji lebih dari 200 hasil penelitian untuk membandingkan kesehatan antara orang-orang yang makan makanan organik atau biasa serta kandungan gizi dan pencemaran dalam makanan tersebut.

Mereka pun memeriksa buah-buahan organik dan non-organik, sayur-sayuran, gandum, daging, ayam dan burung, telur, serta susu.

Banyak penelitian tersebut yang tidak merinci standar apa yang bisa disebut makanan organik --harganya bisa mencapai dua kali lipat dari makanan biasa--kata para peneliti tersebut lewat Annals of Internal Medicine edisi Senin.

Menurut standar Kementerian Pertanian AS, pertanian dan peternakan organik harus menghindari penggunaan pestisida dan pupuk sintetik, hormon dan antibiotik. Hewan ternak juga harus mendapat akses ke padang rumput pada musim merumput.

Banyak pertanian konvensional di AS menggunakan pestisida untuk menghilangkan serangga dan mengumpulkan hewan dalam kondisi tertutup yang sesak sambil memberi antibiotik dalam pakan untuk membesarkan badan dan mengusir penyakit. Food and Drug Administration atau BPOM-nya Amerika Serikat sudah memeriksa tipe antibiotik yang digunakan dalam pakan dan bagaimana itu bisa berpengaruh pada efek resisten obat di manusia.



Vitamin Sama

Smith-Spangler dan para koleganya menemukan tidak ada perbedaan dari sisi vitamin dalam sayur atau produk hewan yang dihasilkan secara organik maupun konvensional. Yang berbeda hanyalah terdapat lebih banyak fosfor dalam produk organik.

Susu dan ayam organik mungkin mengandung asam lemak omega-3 yang lebih banyak, namun itu hanya berdasar pada beberapa studi.

Ada lebih banyak perbedaan signifikan dalam jumlah pestisida dan bakteri makanan yang resisten terhadap antibiotik.

Lebih dari sepertiga sayuran konvensional memiliki residu pestisida yang bisa terdeteksi, jika dibandingkan dengan hanya 7 persen pada sayuran organik. Ada kemungkinan ayam dan babi organik 33 persen lebih kecil membawa bakteri yang resisten pada tiga atau lebih antibiotik daripada daging yang diproduksi dengan cara biasa. 

Smith-Spangler mengatakan pada Reuters Health bahwa baik makanan organik maupun konvensional tidak boleh melewati batas tertentu dalam penggunaan pestisida, sehingga belum diketahui apakah perbedaan residu itu dapat berdampak pada kesehatan.

Namun Chensheng Lu yang mempelajari kesehatan lingkungan di Harvard School of Public Health in Boston mengatakan bahwa, meski belum ada hasil pasti soal efek pestisida di tubuh manusia, orang tetap harus mempertimbangkan paparan pestisida dalam keputusan belanja mereka.

"Jika saya seorang konsumen yang cerdas, saya akan memilih makanan tanpa pestisida," kata Lu yang tidak terlibat dalam studi baru tersebut pada Reuters Health. "Saya rasa itu adalah cara terbaik untuk melindungi kesehatan Anda."

Menurut dia, butuh lebih banyak penelitian untuk mendalami kemungkinan perbedaan keamanan dan kesehatan antara makanan biasa dan organik, dan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa daging dan sayuran organik tidak lebih sehat dari non-organik. "Saya rasa saat ini semuanya masih berdasar pada bukti yang belum kuat," kata dia.
(http://id.berita.yahoo.com)
Bookmark and Share

Senin, 23 Juli 2012

Gel Konduktor Listrik dengan Kinerja Tak Terduga berhasil Disintesis


Para peneliti Stanford telah menciptakan gel konduktor listrik yang cepat dan mudah dibuat, dapat dipolakan ke permukaan dengan sebuah printer inkjet dan menunjukkan kinerja listrik tak terduga.

Bahan ini, diciptakan oleh asisten profesor teknik kimia Stanford Zhenan Bao, asisten profesor ilmu dan teknik bahan Yi Cui, dan anggota lab mereka, adalah sejenis hidrogel konduktor – sebuah jelly yang terasa dan berperilaku seperti jaringan biologis, namun menghantarkan listrik seperti logam atau semikonduktor.
Kombinasi sifat ini memberikan janji besar bagi sensor biologi dan alat penyimpan energi masa depan, namun sulit dibuat hingga saat ini.
 Penelitian ini hadir di jurnal   Proceedings of the National Academy of Sciences.
Mencetak Jell-O
Bao dan Cui membuat gel ini dengan mengikat rantai panjang senyawa organik anilin bersama dengan asam fitik, yang ditemukan secara alami dalam jaringan tanaman. Asam ini mampu menangkap enam rantai polimer sekaligus, membuat jaringan saling silang yang luas.
“Sudah ada polimer konduktor yang tersedia secara komersil,” kata Bao, “namun semuanya berbentuk film seragam tanpa struktur nano.”
Sementara itu, saling silang gel ini membuat struktur kompleks mirip spons. Hidrogel ditandai dengan pori-pori kecil yang sangat banyak yang memperluas permukaan gel, meningkatkan jumlah muatan yang dapat ia simpan, kemampuannya mengindera zat kimia, dan mempercepat respon listriknya.
Walaupun begitu, gel ini dapat dimanipulasi dengan mudah. Karena bahan ini tidak mengeras hingga langkah terakhir sintesisnya, ia dapat dicetak atau disimbur sebagai cairan dan diubah menjadi gel setelah ia menempel – artinya pabrik dapat membuat elektroda berpola menarik dengan harga murah.
 “Anda tidak dapat mencetak Jell-O,” kata Cui. “Namun dengan teknik ini, kami dapat mencetaknya dan membuatnya menjadi Jell-O nanti.”
Elektroda lembut
Struktur tidak biasa dari bahan ini juga memberikan gel yang disebut Cui sebagai “sifat elektronika luar biasa.”
Sebagian besar hidrogel terikat oleh sejumlah besar molekul pengisolasi, mengurangi kemampuan keseluruhan bahan untuk melewatkan arus listrik. Namun asam fitik adalah “dopan molekul-kecil” – berarti kalau ketika ia berikatan dengan rantai polimer, ia juga memberikan muatan pada mereka. Efek ini membuat hidrogel ini sangat konduktif.
Konduktansi gel ini adalah “diantara yang terbaik yang bisa anda dapatkan lewat proses semacam ini,” kata Cui. Kapasitasnya untuk menyimpan muatan sangat tinggi, dan responnya pada muatan yang diberikan luar biasa cepat.
Kesamaan zat ini pada jaringan biologis, luas permukaannya yang besar dan kemampuan listriknya membuatnya sesuai untuk memungkinkan sistem biologi berkomunikasi dengan perangkat keras teknologi.
Para peneliti membayangkan ia digunakan dalam segalanya dari pelacak medis dan sensor biologis di lab hingga sel bahan bakar dan kapasitor kepadatan energi tinggi.
“Dan semua yang ia buat adalah bahan-bahan yang tersedia secara komersil yang dilemparkan dalam sebuah larutan air,” kata Bao.
Pengarang perdana makalah ini adalah Guihua Yu, pasca doktoral dalam teknik kimia di Stanford, dan Lijia Pan, sarjana tamu teknik kimia dari Universitas Nanjing, China.
Institut Energi Precourt Stanford mendanai penelitian ini.
Sumber berita:
Referensi jurnal:
L. Pan, G. Yu, D. Zhai, H. R. Lee, W. Zhao, N. Liu, H. Wang, B. C.- K. Tee, Y. Shi, Y. Cui, Z. Bao.Hierarchical nanostructured conducting polymer hydrogel with high electrochemical activity.Proceedings of the National Academy of Sciences, 2012; 109 (24): 9287 DOI: 10.1073/pnas.1202636109
Bookmark and Share
Bisnis 100% Tanpa Modal

LIKE FOR BLOG